Senin, 29 Juni 2009

Kelinci Masuk Club

Disuatu club :

Jeng-cek, cek-jeng-cek, jeng-cek, cek-jeng-cek, taraktak-tak-tak-dung-dung-tak-dung-serrrrr..
(Begitu suara musik yang gue denger dari pas awal masuk)..

Dikanan kiri, gue lihat wece-wece cantik yang cantiknya sangat menggelitik titik-titik saraf gue yang lentik. Mata gue langsung menganalisa, meng-filterisasi setiap kaum hawa yang lalu lalang. Di sudut arah jam 11, gue liat sosok merah merona.

Baju merah. Gue liat dia sedang duduk sendiri di deket bar. Ia terlihat seperti sedang gundah gulana ditinggal pacar ke kutub utara mencari biaya untuk menikah. Rambut panjangnya yang terderai bebas, menghantam otak kiri gue dan lekuk bibirnya yang asoy, mengakibatkan gue pilek secara tiba-tiba. Sedangkan kulit kakinya yang licin, membuat bola mata gue kepeleset. Begitu eloknya.

"Kasihan ni cewek, sendirian ga ada yang nemenin." Itu kata setan kampret yang sok baik sok asik menabuh gendang telinga gue.

Pas gue mau nyamperin si dress merah, baru dua langkah, baju putih lewat. Langkah gue berhenti seterika. Eh, seketika!

Ini gara-gara wangi parfumnya yang bukan main maknyus-nya. Baunya itu ga ketebak. Tapi kalo gue tebak komposisi parfumnya, itu perpaduan antara bunga mawar, jeruk nipis, kayu manis, sama sedikit percikan anggur merah. Jiahahahahaha.
Tapi serius, wanginya menggoda jiwa dan mungkin seluruh jiwa satu pulau jawa. Sempat sedetik dia menatap gue, dan gue langsung terlena ike nurjana. Matanya tipis, tajam, berjeruji. Saat dipandangnya tadi, rasanya seperti dipecutnya berkali-kali. Rrrrrrr...

Baru aja setan-setan kampret pada ngerumpi ngomongin lenggak-lenggok si baju putih, tu cewek berhenti dari lajunya. Berbalik arah, dan berkata.. "YAAAANG, JALANNYA CEPETAN DONG!"
KUCLUK..KUCLUK..KUCLUK..
Si cowok yang bernama "YANG" pun menghampirinya, mempercepat langkahnya, dan merangkulnya mesra. Lalu mereka berjalan menjauh dari gue.
Kuciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!
Ternyata gue telat datang dan hadir ke kehidupan dia. (Sadaaaaaaaaaaaaaaaaap). Wakakkakakak.

Arah pandang gue kembali ke baju merah. Itu setelah meng-eliminasi baju ungu yang nge-joprak karena ga kuat minum, baju kuning yang geleng-geleng didepan speaker, sama baju ijo yang diri diem melongo kayak kambing qurban, tapi malah jadi lebih mirip ikan asin yang pasrah dikerubunin laler.

Kemudian :

"Sendirian aja nih??" Sapa gue memulai pembicaraan. Gue berdiri tepat dibelakangnya. Namun,
krik..krik..krik..
Sakit!
Diicuekin. Susu tumpah!
Sumpah! Dalem hati gue, uda tau budek, kok malah clubbing.
Tadinya gue mau bilang aja, "BINGUNG YA, MAU DIJADI'IN APA DIGUGURIN?" Tapi gue ga tega.

Oh.. Okay. Mungkin dia belum kena jurus senyum tsunami gue. Secara khan gue masih dibelakang dia. Jadi mungkin dia belum liat. Kalo dia liat, diijamin, hanyut sampe Bantar Gebang perasaan doski.
Liat aje! ;)

"EHEM EHEM!!!!" Gue blatuk. Blaga batuk gitu dibelakang dia supaya dia ngeh, terus nengok kebelakang. Tapiiiiii,

Kriuk-kriuk-kriuk..

Kampret!!!
Dicuekin ni cewek, rasanya kayak belum makan 7 hari 10 malem 13 jam.

Senyum gue melicik dari belakang. Ooooo, gue tahu. Gue mending duduk disebelah dia terus blakay (Blaga kaya) gitu.
Sip sip sip sip. Kali ini, kena ni cewek. Terkewer-kewer gue buat dia.

"Sob, Jack-D sebotol brapa???" Tanya gue pada bartender. Suaranya gue keras-kerasin biar si baju merah yang disebelah gue, ngeh kalo ada keponakan presiden butuh teman minum.

"Sejuta sekian bos." Jawab si bartender yang tangannya dililit slayer beli di puncak.

Buset, dalam hati gue, sejuta duit dari mancaw????
Belum habis akal gue. Gue tanya lagi, "Kalo se sloki, sob???"

Si bartender manyun dan menjawab, "Wah, ga bisa tu bos."

Bego!
Mana ada juga Jack-D dijual /sloki. Ck.
Kelewat grogi gue. Salah ni. Gue harus cari menu lain.

"Yauda, Beer aja se-sloki!" Kata gue sambil ngeluarin berlembar-lembar gambar Pattimura.

(GUBRAK!)
Tu bartender langsung ngasah-ngasah piso, pengen nyunat gue.

"Yauda, beer aja dulu, Sob, segelas. Masih pagi." Kata gue, cari aman. Sadaaaap.

Glek, glek, glek.
Gue minum setetes doang padahal. Cari hemat biar tu gelas penuh terus.
Untung si baju merah masih merenung dengan setia di sebelah gue. Pikiran gue mulai khawatir sekiranya ni cewek digasak sesama pria kampret lainnya. Akhirnya gue beranikan diri menyapanya langsung. Jurus yang ini, gue yakin ampuh.

"Berpikir sambil minum. Serunya.
Boleh ikutan???" Kata gue sok Cool.
Mata gue langsung menerjang kedua bola matanya yang kelam. Seketika itu juga dia menoleh. Melempar dengan senyuman yang se'akan berkata, "BASI!!!!!!"

Tapi gue tetep belum mau menyerah. Wanita cantik memang harus galak seperti ini. Tapi kalo uda laper, dia pasti kaing-kaing. hehehehe.
Ya ya ya.. Awalnya harus rela jadi orang annoying memang. Sabar........

"Boleh tahu namanya?" Tanya gue sok berwibawa. Dia diam saja, tapi gue terus nyerocos..
"Yaaaa, kalo ga boleh, brarti tambah satu lagi orang pelit di dunia ini. Sedihnya." Sambung gue.

Dia masih diem. Otak gue berputar..
"Kalo gitu, gue panggil 'si baju merah' aja, boleh?" Ujar gue sambil menenggak beer. (Kali ini se-teguk).

"Citra." Katanya, sendu sambil menatap gelas yang kosong.

Aidaa mayaaaa, anjas mara dianitami!
Senengnya minta ampun gue pas dia nyeletukin namanya. Tapi gue masih sok cool.
Kemudian :

"Ohhh..
sendirian aja, atau sama temen-temen?" Tanya gue, se-akan gue penganut prinsip "Love needs detail."

"Sendiri." Jawabnya ketus.

"Oh.. gue kira lagi ngobrol sama gue." Jawab gue, sengaja bikin dia bakal ngelempar muka gue pake gelas. Tapi ternyata enggak.

"HAH???" Citra menbelakak. Seakan berkata, "Hello, elu siapa???????"

"Hehehehe. Bercanda.
Eh, tadi siapa namanya? Cinta?" Tanya gue sekali lagi.

"Bukan. Citra. Lo budek ya?" Citra galak. Seakan dia bentar lagi gigitin celana gue.

"Oh.. Gue kira Cinta. Sori, gue salah denger.
Maklum. Jarak kuping sama hati, ga jauh-jauh banget." Kata gue, ngeles.

"Citra itu, brarti 4 bersaudara ya?" Sambung gue sok nebak.

"Loh, kok tahu?" Citra bangun dari bungkuknya, menatap gue antusias.

"Tahu dong. Kamu anak ke-2 khan?" Gue, makin sok tahu.

"Ih, sok tahu!" Citra menepuk pundak gue.

"Ih, ga ngaku!!!" Gue, sok akrab.

"Itu Citra yang lain kaliiiiiiiii..." Citra meledek.

"Rajawali, Citra, Televisi, Indonesia.
Citra-nya ke-2 khan, bener?" Gue, sok lucu.

"Ih, jayus!" Ujar Citra tak kuasa menahan tawa.

Di sela-sela tawanya dia, gue malah...

"Eh, gue pulang dulu deh ya, hati-hati lo disini, banyak pria yang lebih jayus dari gue. hehehehehe. daaaaaaaaaaaaaaa."
Gue beralih langsung cabut. Pura-pura cabut sebenernya. Tanpa pesan, tapi tinggalkan kesan. Dengan maksud, pas gue lagi jalan, ga sampe 3 langkah gue melangkah, dia langsung teriak, "Hei.. nama kamu siapa?"

Mantap ga tuuu??

Prak.. prak.. prak .. (Suara langkah gue).
"Hei..??????" Citra si baju merah itu memanggil. Benar dugaan gue. Gue langsung menoleh singkat, menatap matanya seakan berkata, "Apa, cantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik?"

Dan kata Citra dengan kelembutan, "Nama kamu???"
;)


-THE END-


"cerita ini hanya fiktif belaka, demi bekal untuk sobatku Reza Putra Andana yang segera pergi ke utara Amerika. Bukan untuk ditiru yang lainnya." hahahhahahaha

peace!

1 komentar: