Orang macam Eja, kalo ngeliat kayak gini reaksinya langsung berlebihan. Gue lihat giginya seperti sedang disentil-sentil setan cabul, "ting..ting!" (begitu bunyinya). Bola matanya melotot. gue bisa lihat bagaimana giginya telah menyulitkannya untuk tersenyum terbinar-binar. nafasnya terhenti. hidungnya kembang-kempis. mendadak, kepalanya yang botak berubah menjadi gimbal. kalo mukanya, emang dari dulu gimbal. bulu kakinya mekar, lidahnya menjulur keluar, dan air liurnya sampai mengotori lantai. jantungnya berdegup-degup kencang. tidak lebih dari sepuluh detik, seketika itu juga Eja langsung ejakulasi.
"Mariana Renata, Zer, Mariana Renata, Zer,..." begitu katanya berulang-ulang.
ia gue llihat seperti mengigau tidak karuan. reaksinya kembali berlebihan.
"Iya Ja, iya. Melek dong, gue disini." jawab gue.
terlihat ia sedang membungkuk. mulutnya diarahkan ke closet. HUEK! HUEK! itu yang gue dengar.
lalu ia terbaring di kamar mandi tanpa busana, sambil memegang selembar kertas yang ia sobek dari majalah.
"Mariana Renata, Zer," katanya lagi.
sekonyong-konyong gue berubah menjadi panik. "MEDIC! MEDICCC!"
Ah, kok jadi gue yang berlebihan!
Menurut kesaksiannya, Eja sangat amat termotivasi oleh senyum seorang Mariana Renata.
kalo gue kutip kata dari fans band papan atas, ungu,bunyinya "gue ngefans abies!"
Menurutnya, Mariana Renata adalah darah Indonesia yang paling sempurna.
tapi menurut gue, bulu ketek Eja terlalu runcing untuk menjadi seorang Fan berat Mariana Renata.
ia memulai bercerita. jika ia berargumen tentang wanita, gue sampai sulit menjangkau maksud pembicaraannya.
"lumayan sih Ja." komentar gue sambil memandang foto model cantik itu.
"LUMAYAN ZER?" ia bergeming. "Belum aja lo liat aslinya, Zer," ia menunjuk-nunjuk kepala gue. "aslinya cantik banget, Zer, sumpah." tambahnya.ia berdiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya. memelototi gue. seakan-akan raut wajahnya berbicara: "gimana sih, Zer, mingkem yang bener?"
ia terus berbicara. seolah-olah Mariana Renata pernah candle light dinner bersamanya. "gue pernah ngelihat langsung, lebih cantik dari fotonya."
dalam hati gue. "gue pernah ngelihat lo langsung, Ja, lebih ancur dari fotonya." tawa gue cekikikan.
"KENAPA LO?" tanyanya penasaran melihat gue terpingkal-pingkal diatas sova.
"enggak, Ja, gue cuma ngebayangin gimana reaksi lo pas ngeliat dia itu." kata gue, ngeles.
wajahnya mendekati gue. berbicara dengan perlahan. "BENGONG GUE, ZER!" Ujarnya.
Mariana Renata pasti juga bengong ngelihat lo, Ja. dia bengong dan bertanya-tanya, "Bokir udah meninggal belum sih." cuma gue tidak menyampaikan hal ini kepada Eja. gue takut dia nyupang leher gue pake taringnya yang sudah karatan. bisa tetanus gue.
gue terlalu tidak serius menanggapinya.
nah, cobai kita lihat wajah Mariana Renata sekali lagi.
teduhnya
satu kalimat yang menyinggung kalbu gue. kata Eja, "wanita seperti ini yang akan tetap cantik meskipun termakan usia."
ah, Eja ada benarnya.
gue terlalu terfokus kepada giginya yang bersinar-sinar.
sampai-sampai gue memalingkan sorot mata gue ke wanita anggun ini.
gue perhatikan dengan seksama.
foto yang ini menurutku amat syahdu.
wajahnya seperti payung diatas kepala gue, saat gue tersesat ditengah gurun sahara.
ia meneduhkan gue.
gue memicingkan mata gue. berusaha agar ia tampak lebih jelas.
mata gue berakomodasi maksimum.
kulihat setiap inchi dari lekuk-lekuk nya yang nyaris sempurna.
ah, gue seperti menelan seteguk wine buatan Mexico. Ia begitu memabukkan!
huruf-huruf ini melayang-layang hanya untuk seorang kawan: Reza Putra Andhana, yang lebih akrab di panggil Eja.
Bang Eja.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar