Ketika SMP, rambut gue belah tengah. cepaknya menandakan bahwa fashion of sense gue sangat-sangat terbelakang. baju gue sering kali kekecilan, sering kali kebesaran. gue tidak mengenal baju putih. semuanya menguning. kuning kusam, dekil ga karuan. hidung dan kening gue di hiasi jerawat. bagi nyamuk yang hinggap, itu adalah trek halang rintang. mengganggu pemandangan. nilai jual gue cuma ada di tinggi badan yang menjulang. itupun kurusnya bukan kepalang. tipis, bagai pembalut wanita masa kini. :D
walaupun begitu, gue sadar gue agak menarik. pandai menarik hati wanita ke jurang rayuan lalu mendekam disana tak bisa pulang. satu wanita yang ingin gue ceritakan, ialah helda. gadis ini kakak kelas gue, waktu gue masih kelas 1 SMP. kulitnya putih persih. lembut seperti awan. meskipun gue tau, tak pernah sekalipun gue menyentuhnya. senyum helda menenggelamkan gue ke lumpur porong, hingga frame otak gue begitu kotornya. tubuhnya meliuk-liuk bak desir ombak pantai carita. sungguh mengagumkan mata.
tapi tak sengaja, kita saling kenal, cocok, lalu berteman. pulang sekolah, datanglah gue selalu kerumahnya. suguhannya tak pernah berubah, yaitu air putih. bagi gue tak apa. asalkan kita bisa bicara sampai sore, lalu tertawa.
rumahnya selalu sepi, tetapi pikiran gue ramai. para arwah para pencabul seakan merasuk piiran gue, lalu berteriak dengan kompaknya, “hamili dia sekarang!” tapi gue urungkan niat itu. meski dia begitu menggoda, biarlah. gue sadar gue masih kelas satu SMP, dan hal itu tidak baik juga tidak mungkin.
gue amat senang. begitu beruntungnya bisa melawak didepannya. membuatnya tertawa hingga mencubit lengan gue sepenuhnya, adalah kebahagiaan tiada tara. akan tetapi, semuanya itu adalah awal dari kebodohan gue. masa SMP adalah masa kelam yang begitu mengesankan. kenangan ini, tak terlupa. awal dari cerita akan kegagalan permanen gue di zaman esempelitikum.
“chey, kerumah gue sekarang dong!”
waktu zaman itu, tidak ada HP. helda memanggil gue via telepon rumah. betapa kagetnya gue. nada suaranya seperti sandra dewi di film quckly express. begitu lembutnya. seakan meminta dengan memohon, sambil mengangkat rok nya. gue Ge-Er bukan main. berasa ganteng, berasa pangeran, berasa pria satu-satunya yang paling perkasa didunia ini.
“iya hel. abis mandi, gue kesana ya. tunggu aja!”
jawaban gue agak sedikit jual mahal. seakan ingin membuatnya menunggu gue sambil terus bercermin dengan cemasnya.
“ah, lama. gue mau minta anterin lo ke rumah mega! kalo gitu, ga usah deh!”
diluar dugaan, helda mengancam. gue panik ga ketulungan.
“oh, yaudah.. gue langsung kerumah lo ya! tunggu!” jawab gue.
“yaudah, cepet!” nada bicaranya kembali mereda.
waktu itu gue boleh berbangga diri. dari semua teman gue, cuma gue doang yang uda di beliin motor. praktis, dengan motor itu gue menjemput helda.
“tin.. tin..”
klakson motor gue memanggil helda dengan mesra. senyum gue tertebar hingga ke ujung kelurahan. senangnya bukan main.
“sebentar…” jawabnya dari teralis jendela.
aiiiiiiiii mati. hari ini bakal jadi hari yang menyenangkan. langit yang gelap, bintang yang jarang, bulan yang terang.. waaaah, tepat sekali untuk mengambil kesempatan. kelas 1 SMP, gue jatuh cinta.
gue bersiul-siul kegirangan. namun tak terasa, sudah setengah jam setelah helda bilang “sebentar”, ia belum juga nongol. siulan gue semakin keras. seperti ingin menyadarkannya bahwa parfum gue sebentar lagi akan hilang bau nya. cepatlah!
akhirnya dia keluar. celananya pendek. terlalu pendek. pahanya mulus. semutpun pasti akan terpeleset jika melintasinya. pemandangan yang ajip. “maaf ya, lama.” sapanya sambil tersenyum.
motor gue gas perlahan. saat itu gue bener-bener bingung ingin bicara apa. beda dari biasanya, hari ini dia sangat membuat dengkul gue lemas, dan kaki gemetar. gue diam seribu bahasa tak tau membahas apa.
“ga buru-buru kan chey?” tanya helda, memulai pembicaraan.
“ga kok, da!” jawab gue singkat.
“chey, lo mau ga jadi pacar gue?”
astaganaga! ga gue sangka ga gue kira. untuk membicarakan hal itu, ia hanya memulainya dengan satu kalimat. damn! gue makin gemetar. sialan ni cewek, abis keringet gue. tubuh gue kaku. persis seperti patung pahatan yang ditaruh didepan pintu utama. mata gue melotot, seperti melihat kucing terbang. motor gue gas semakin kencang. seumpama beradaptasi terhadap laju pompa jantung gue yang semakin deras.
“chey, kok diem? ga mau ya?!” tanya helda sambil meremas pinggang gue.
“tapi kan.. eh, tapi hel.., eh, gimana ya.. duh!” jawab gue seperti anak kecil kebelet boker.
“ooooh, lo uda punya pacar ya?”
“belom kok!”
“terus knapa? lo ga suka sama gue ya?”
“suka.”
“terus apa chey?”
“yaaaaaa, kan gue harus nembak lo?????!”
ya tembak dong!”
“gue ga tau, kata-katanya da…!”
“ah, culun lo!”
“yeeee, emang gue ga tau mau ngomong apa.”
“yauda deh!”
ga kebayangkan gimana bodohnya hari itu. percakapan menjadi berantakan. padahal, kalo gue bilang, “iya, kita pacaran!”.. pasti selesai dan berakhir di ciuman pertama gue seumur hidup gue. tapi ternyata tidak. gue bener-bener terlihat bodoh.
sesampai dirumah mega, kita berubah menjadi garing. gue ga bisa ngomong apa-apa, dan kebingungan dengan isi kantong yang kosong. gue laper, tapi ga ada duit mau beli jajanan. duh, gue tolol banget hari ini.
helda dan mega jadi asik ngobrol ini dan itu. sedangkan gue yang tetep senyum-senyum sok asik, dicuekin abis-abisan. terhitung 2 jam lebih, gue dicuekin tanpa ada yang ngajak ngobrol. gue seperti orang asing di gurun sahara, yang kebingungan nyari toilet.
“chey, pinjem motor sebentar ya?!” tanya helda, akhirnya.
ia tersenyum sama gue. rasanya seperti minum anggur. memabukkan. kepercayaan diri gue bangkit. gue jadi sok asik.
“sip, pake aja. emang mau kemana? mau gue anter?!”
“ga usah. gue sama mega aja sebentar mau ke warung.”
“oh, yaudah. gue tunggu sini yaaa.”
kebekuan seakan terpecahkan. kepercayaan diri yang bangkit itu, ingin gue buktikan ketika dijalan pulang nanti. akan gue tembak dia, lalu gue cium dia didepan pintu rumahnya. ya benar. gue yakin banget semua akan terlaksana sesuai rencana.
2 jam berikutnya berlalu. helda dan mega beserta motor gue belum juga dateng. gondok gue! tapi ga lama, ada cowok dateng. dia bawa motor gue sambil didorong.
“kenapa? helda n mega mana?”
motor lo bensinnya abis. helda and mega jalan sama temennya, ga tau kemana. katanya, lo disuruh duluan aja pulang.
“THANKS YA!” jawab gue.
alhasil gue pulang dengan tangan hampa, kantong hampa, dan bensin hampa. motor gue dorong sampe rumah. persis seperti maling motor dibulan ramadhan. gue mau nangis tapi malu sama orang-orang. gue mau ketawa takut dibilang gila sama orang-orang. hari itu gue ga bisa apa-apa. merasa bodoh, iya.
wanita pada hari itu berhasil merobek-robek hati gue. kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
walaupun begitu, gue sadar gue agak menarik. pandai menarik hati wanita ke jurang rayuan lalu mendekam disana tak bisa pulang. satu wanita yang ingin gue ceritakan, ialah helda. gadis ini kakak kelas gue, waktu gue masih kelas 1 SMP. kulitnya putih persih. lembut seperti awan. meskipun gue tau, tak pernah sekalipun gue menyentuhnya. senyum helda menenggelamkan gue ke lumpur porong, hingga frame otak gue begitu kotornya. tubuhnya meliuk-liuk bak desir ombak pantai carita. sungguh mengagumkan mata.
tapi tak sengaja, kita saling kenal, cocok, lalu berteman. pulang sekolah, datanglah gue selalu kerumahnya. suguhannya tak pernah berubah, yaitu air putih. bagi gue tak apa. asalkan kita bisa bicara sampai sore, lalu tertawa.
rumahnya selalu sepi, tetapi pikiran gue ramai. para arwah para pencabul seakan merasuk piiran gue, lalu berteriak dengan kompaknya, “hamili dia sekarang!” tapi gue urungkan niat itu. meski dia begitu menggoda, biarlah. gue sadar gue masih kelas satu SMP, dan hal itu tidak baik juga tidak mungkin.
gue amat senang. begitu beruntungnya bisa melawak didepannya. membuatnya tertawa hingga mencubit lengan gue sepenuhnya, adalah kebahagiaan tiada tara. akan tetapi, semuanya itu adalah awal dari kebodohan gue. masa SMP adalah masa kelam yang begitu mengesankan. kenangan ini, tak terlupa. awal dari cerita akan kegagalan permanen gue di zaman esempelitikum.
“chey, kerumah gue sekarang dong!”
waktu zaman itu, tidak ada HP. helda memanggil gue via telepon rumah. betapa kagetnya gue. nada suaranya seperti sandra dewi di film quckly express. begitu lembutnya. seakan meminta dengan memohon, sambil mengangkat rok nya. gue Ge-Er bukan main. berasa ganteng, berasa pangeran, berasa pria satu-satunya yang paling perkasa didunia ini.
“iya hel. abis mandi, gue kesana ya. tunggu aja!”
jawaban gue agak sedikit jual mahal. seakan ingin membuatnya menunggu gue sambil terus bercermin dengan cemasnya.
“ah, lama. gue mau minta anterin lo ke rumah mega! kalo gitu, ga usah deh!”
diluar dugaan, helda mengancam. gue panik ga ketulungan.
“oh, yaudah.. gue langsung kerumah lo ya! tunggu!” jawab gue.
“yaudah, cepet!” nada bicaranya kembali mereda.
waktu itu gue boleh berbangga diri. dari semua teman gue, cuma gue doang yang uda di beliin motor. praktis, dengan motor itu gue menjemput helda.
“tin.. tin..”
klakson motor gue memanggil helda dengan mesra. senyum gue tertebar hingga ke ujung kelurahan. senangnya bukan main.
“sebentar…” jawabnya dari teralis jendela.
aiiiiiiiii mati. hari ini bakal jadi hari yang menyenangkan. langit yang gelap, bintang yang jarang, bulan yang terang.. waaaah, tepat sekali untuk mengambil kesempatan. kelas 1 SMP, gue jatuh cinta.
gue bersiul-siul kegirangan. namun tak terasa, sudah setengah jam setelah helda bilang “sebentar”, ia belum juga nongol. siulan gue semakin keras. seperti ingin menyadarkannya bahwa parfum gue sebentar lagi akan hilang bau nya. cepatlah!
akhirnya dia keluar. celananya pendek. terlalu pendek. pahanya mulus. semutpun pasti akan terpeleset jika melintasinya. pemandangan yang ajip. “maaf ya, lama.” sapanya sambil tersenyum.
motor gue gas perlahan. saat itu gue bener-bener bingung ingin bicara apa. beda dari biasanya, hari ini dia sangat membuat dengkul gue lemas, dan kaki gemetar. gue diam seribu bahasa tak tau membahas apa.
“ga buru-buru kan chey?” tanya helda, memulai pembicaraan.
“ga kok, da!” jawab gue singkat.
“chey, lo mau ga jadi pacar gue?”
astaganaga! ga gue sangka ga gue kira. untuk membicarakan hal itu, ia hanya memulainya dengan satu kalimat. damn! gue makin gemetar. sialan ni cewek, abis keringet gue. tubuh gue kaku. persis seperti patung pahatan yang ditaruh didepan pintu utama. mata gue melotot, seperti melihat kucing terbang. motor gue gas semakin kencang. seumpama beradaptasi terhadap laju pompa jantung gue yang semakin deras.
“chey, kok diem? ga mau ya?!” tanya helda sambil meremas pinggang gue.
“tapi kan.. eh, tapi hel.., eh, gimana ya.. duh!” jawab gue seperti anak kecil kebelet boker.
“ooooh, lo uda punya pacar ya?”
“belom kok!”
“terus knapa? lo ga suka sama gue ya?”
“suka.”
“terus apa chey?”
“yaaaaaa, kan gue harus nembak lo?????!”
ya tembak dong!”
“gue ga tau, kata-katanya da…!”
“ah, culun lo!”
“yeeee, emang gue ga tau mau ngomong apa.”
“yauda deh!”
ga kebayangkan gimana bodohnya hari itu. percakapan menjadi berantakan. padahal, kalo gue bilang, “iya, kita pacaran!”.. pasti selesai dan berakhir di ciuman pertama gue seumur hidup gue. tapi ternyata tidak. gue bener-bener terlihat bodoh.
sesampai dirumah mega, kita berubah menjadi garing. gue ga bisa ngomong apa-apa, dan kebingungan dengan isi kantong yang kosong. gue laper, tapi ga ada duit mau beli jajanan. duh, gue tolol banget hari ini.
helda dan mega jadi asik ngobrol ini dan itu. sedangkan gue yang tetep senyum-senyum sok asik, dicuekin abis-abisan. terhitung 2 jam lebih, gue dicuekin tanpa ada yang ngajak ngobrol. gue seperti orang asing di gurun sahara, yang kebingungan nyari toilet.
“chey, pinjem motor sebentar ya?!” tanya helda, akhirnya.
ia tersenyum sama gue. rasanya seperti minum anggur. memabukkan. kepercayaan diri gue bangkit. gue jadi sok asik.
“sip, pake aja. emang mau kemana? mau gue anter?!”
“ga usah. gue sama mega aja sebentar mau ke warung.”
“oh, yaudah. gue tunggu sini yaaa.”
kebekuan seakan terpecahkan. kepercayaan diri yang bangkit itu, ingin gue buktikan ketika dijalan pulang nanti. akan gue tembak dia, lalu gue cium dia didepan pintu rumahnya. ya benar. gue yakin banget semua akan terlaksana sesuai rencana.
2 jam berikutnya berlalu. helda dan mega beserta motor gue belum juga dateng. gondok gue! tapi ga lama, ada cowok dateng. dia bawa motor gue sambil didorong.
“kenapa? helda n mega mana?”
motor lo bensinnya abis. helda and mega jalan sama temennya, ga tau kemana. katanya, lo disuruh duluan aja pulang.
“THANKS YA!” jawab gue.
alhasil gue pulang dengan tangan hampa, kantong hampa, dan bensin hampa. motor gue dorong sampe rumah. persis seperti maling motor dibulan ramadhan. gue mau nangis tapi malu sama orang-orang. gue mau ketawa takut dibilang gila sama orang-orang. hari itu gue ga bisa apa-apa. merasa bodoh, iya.
wanita pada hari itu berhasil merobek-robek hati gue. kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar