Disuatu club :
Jeng-cek, cek-jeng-cek, jeng-cek, cek-jeng-cek, taraktak-tak-tak-dung-dung-tak-dung-serrrrr..
(Begitu suara musik yang gue denger dari pas awal masuk)..
Dikanan kiri, gue lihat wece-wece cantik yang cantiknya sangat menggelitik titik-titik saraf gue yang lentik. Mata gue langsung menganalisa, meng-filterisasi setiap kaum hawa yang lalu lalang. Di sudut arah jam 11, gue liat sosok merah merona.
Baju merah. Gue liat dia sedang duduk sendiri di deket bar. Ia terlihat seperti sedang gundah gulana ditinggal pacar ke kutub utara mencari biaya untuk menikah. Rambut panjangnya yang terderai bebas, menghantam otak kiri gue dan lekuk bibirnya yang asoy, mengakibatkan gue pilek secara tiba-tiba. Sedangkan kulit kakinya yang licin, membuat bola mata gue kepeleset. Begitu eloknya.
"Kasihan ni cewek, sendirian ga ada yang nemenin." Itu kata setan kampret yang sok baik sok asik menabuh gendang telinga gue.
Pas gue mau nyamperin si dress merah, baru dua langkah, baju putih lewat. Langkah gue berhenti seterika. Eh, seketika!
Ini gara-gara wangi parfumnya yang bukan main maknyus-nya. Baunya itu ga ketebak. Tapi kalo gue tebak komposisi parfumnya, itu perpaduan antara bunga mawar, jeruk nipis, kayu manis, sama sedikit percikan anggur merah. Jiahahahahaha.
Tapi serius, wanginya menggoda jiwa dan mungkin seluruh jiwa satu pulau jawa. Sempat sedetik dia menatap gue, dan gue langsung terlena ike nurjana. Matanya tipis, tajam, berjeruji. Saat dipandangnya tadi, rasanya seperti dipecutnya berkali-kali. Rrrrrrr...
Baru aja setan-setan kampret pada ngerumpi ngomongin lenggak-lenggok si baju putih, tu cewek berhenti dari lajunya. Berbalik arah, dan berkata.. "YAAAANG, JALANNYA CEPETAN DONG!"
KUCLUK..KUCLUK..KUCLUK..
Si cowok yang bernama "YANG" pun menghampirinya, mempercepat langkahnya, dan merangkulnya mesra. Lalu mereka berjalan menjauh dari gue.
Kuciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing!!!
Ternyata gue telat datang dan hadir ke kehidupan dia. (Sadaaaaaaaaaaaaaaaaap). Wakakkakakak.
Arah pandang gue kembali ke baju merah. Itu setelah meng-eliminasi baju ungu yang nge-joprak karena ga kuat minum, baju kuning yang geleng-geleng didepan speaker, sama baju ijo yang diri diem melongo kayak kambing qurban, tapi malah jadi lebih mirip ikan asin yang pasrah dikerubunin laler.
Kemudian :
"Sendirian aja nih??" Sapa gue memulai pembicaraan. Gue berdiri tepat dibelakangnya. Namun,
krik..krik..krik..
Sakit!
Diicuekin. Susu tumpah!
Sumpah! Dalem hati gue, uda tau budek, kok malah clubbing.
Tadinya gue mau bilang aja, "BINGUNG YA, MAU DIJADI'IN APA DIGUGURIN?" Tapi gue ga tega.
Oh.. Okay. Mungkin dia belum kena jurus senyum tsunami gue. Secara khan gue masih dibelakang dia. Jadi mungkin dia belum liat. Kalo dia liat, diijamin, hanyut sampe Bantar Gebang perasaan doski.
Liat aje! ;)
"EHEM EHEM!!!!" Gue blatuk. Blaga batuk gitu dibelakang dia supaya dia ngeh, terus nengok kebelakang. Tapiiiiii,
Kriuk-kriuk-kriuk..
Kampret!!!
Dicuekin ni cewek, rasanya kayak belum makan 7 hari 10 malem 13 jam.
Senyum gue melicik dari belakang. Ooooo, gue tahu. Gue mending duduk disebelah dia terus blakay (Blaga kaya) gitu.
Sip sip sip sip. Kali ini, kena ni cewek. Terkewer-kewer gue buat dia.
"Sob, Jack-D sebotol brapa???" Tanya gue pada bartender. Suaranya gue keras-kerasin biar si baju merah yang disebelah gue, ngeh kalo ada keponakan presiden butuh teman minum.
"Sejuta sekian bos." Jawab si bartender yang tangannya dililit slayer beli di puncak.
Buset, dalam hati gue, sejuta duit dari mancaw????
Belum habis akal gue. Gue tanya lagi, "Kalo se sloki, sob???"
Si bartender manyun dan menjawab, "Wah, ga bisa tu bos."
Bego!
Mana ada juga Jack-D dijual /sloki. Ck.
Kelewat grogi gue. Salah ni. Gue harus cari menu lain.
"Yauda, Beer aja se-sloki!" Kata gue sambil ngeluarin berlembar-lembar gambar Pattimura.
(GUBRAK!)
Tu bartender langsung ngasah-ngasah piso, pengen nyunat gue.
"Yauda, beer aja dulu, Sob, segelas. Masih pagi." Kata gue, cari aman. Sadaaaap.
Glek, glek, glek.
Gue minum setetes doang padahal. Cari hemat biar tu gelas penuh terus.
Untung si baju merah masih merenung dengan setia di sebelah gue. Pikiran gue mulai khawatir sekiranya ni cewek digasak sesama pria kampret lainnya. Akhirnya gue beranikan diri menyapanya langsung. Jurus yang ini, gue yakin ampuh.
"Berpikir sambil minum. Serunya.
Boleh ikutan???" Kata gue sok Cool.
Mata gue langsung menerjang kedua bola matanya yang kelam. Seketika itu juga dia menoleh. Melempar dengan senyuman yang se'akan berkata, "BASI!!!!!!"
Tapi gue tetep belum mau menyerah. Wanita cantik memang harus galak seperti ini. Tapi kalo uda laper, dia pasti kaing-kaing. hehehehe.
Ya ya ya.. Awalnya harus rela jadi orang annoying memang. Sabar........
"Boleh tahu namanya?" Tanya gue sok berwibawa. Dia diam saja, tapi gue terus nyerocos..
"Yaaaa, kalo ga boleh, brarti tambah satu lagi orang pelit di dunia ini. Sedihnya." Sambung gue.
Dia masih diem. Otak gue berputar..
"Kalo gitu, gue panggil 'si baju merah' aja, boleh?" Ujar gue sambil menenggak beer. (Kali ini se-teguk).
"Citra." Katanya, sendu sambil menatap gelas yang kosong.
Aidaa mayaaaa, anjas mara dianitami!
Senengnya minta ampun gue pas dia nyeletukin namanya. Tapi gue masih sok cool.
Kemudian :
"Ohhh..
sendirian aja, atau sama temen-temen?" Tanya gue, se-akan gue penganut prinsip "Love needs detail."
"Sendiri." Jawabnya ketus.
"Oh.. gue kira lagi ngobrol sama gue." Jawab gue, sengaja bikin dia bakal ngelempar muka gue pake gelas. Tapi ternyata enggak.
"HAH???" Citra menbelakak. Seakan berkata, "Hello, elu siapa???????"
"Hehehehe. Bercanda.
Eh, tadi siapa namanya? Cinta?" Tanya gue sekali lagi.
"Bukan. Citra. Lo budek ya?" Citra galak. Seakan dia bentar lagi gigitin celana gue.
"Oh.. Gue kira Cinta. Sori, gue salah denger.
Maklum. Jarak kuping sama hati, ga jauh-jauh banget." Kata gue, ngeles.
"Citra itu, brarti 4 bersaudara ya?" Sambung gue sok nebak.
"Loh, kok tahu?" Citra bangun dari bungkuknya, menatap gue antusias.
"Tahu dong. Kamu anak ke-2 khan?" Gue, makin sok tahu.
"Ih, sok tahu!" Citra menepuk pundak gue.
"Ih, ga ngaku!!!" Gue, sok akrab.
"Itu Citra yang lain kaliiiiiiiii..." Citra meledek.
"Rajawali, Citra, Televisi, Indonesia.
Citra-nya ke-2 khan, bener?" Gue, sok lucu.
"Ih, jayus!" Ujar Citra tak kuasa menahan tawa.
Di sela-sela tawanya dia, gue malah...
"Eh, gue pulang dulu deh ya, hati-hati lo disini, banyak pria yang lebih jayus dari gue. hehehehehe. daaaaaaaaaaaaaaa."
Gue beralih langsung cabut. Pura-pura cabut sebenernya. Tanpa pesan, tapi tinggalkan kesan. Dengan maksud, pas gue lagi jalan, ga sampe 3 langkah gue melangkah, dia langsung teriak, "Hei.. nama kamu siapa?"
Mantap ga tuuu??
Prak.. prak.. prak .. (Suara langkah gue).
"Hei..??????" Citra si baju merah itu memanggil. Benar dugaan gue. Gue langsung menoleh singkat, menatap matanya seakan berkata, "Apa, cantiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiik?"
Dan kata Citra dengan kelembutan, "Nama kamu???"
;)
-THE END-
"cerita ini hanya fiktif belaka, demi bekal untuk sobatku Reza Putra Andana yang segera pergi ke utara Amerika. Bukan untuk ditiru yang lainnya." hahahhahahaha
peace!
Senin, 29 Juni 2009
Kelinci Masuk Perpustakaan
Setiap kali gue melintasi jalan ini dan melihat kearah kiri, gue selalu berpikir tentang masa depan seseorang yang gue lihat. Sebuah kisah yang gue imajinasikan sendiri tetapi dikorelasikan sesuai dengan raut wajah mereka. Ya! Mereka semua yang ada didalam, dibalik dinding kaca tebal, duduk dengan anggun sambil bersenda gurau dengan buku-buku tebal.
Begitu lah setiap kali gue melintasi sebuah perpustakaan kampus. Pemandangannya biasa saja, tetapi apa yang gue bayangkan menurut gue luar biasa. Memicu tawa-tawa kecil yang terus menemani perjalanan gue menuju toilet untuk berkaca.
Tetapi hari ini terlihat seperti hari "kelinci" sedunia ketika seorang wanita cantik yang gue lihat dari balik kaca sedang tenggelam didunia keseriusan perpustakaan kampus. Temannya saat itu hanya lah seperangkat laptop berwarna silver dan 3 tumpuk buku tebal. Gue ga bisa bilang apa-apa, karena tidak satupun tertangkap sebuah kelemahan pada cantik mutlak paras wajahnya.
Bermenit-menit lamanya gue perhatikan aktivitasnya dari luar, memandanginya terus menerus.
Gue berancang-ancang untuk melempar senyum ketika misalnya dia melihat ke arah gue.
Tapi sial! Belum apa-apa, laptopnya membuat gue cemburu.
Tidak sedetikpun dia merasa ada se-ekor kelinci yang sedang mengawasinya karena dia terlalu sibuk bersenda gurau dengan teknologi.
Apa mau di kata, gue harus menyelinap masuk ke perpustakaan untuk berkenalan.
Ya.. agak janggal mendengar seorang "GUE" ada di perpustakaan. Tetapi lebih janggal jika seorang wanita cantik yang ada di perpustakaan, disia-siakan. Wkwkwkwkwkwkwk. :D
Kali ini, si cantik itu berada hanya 5 meter dari jempol kaki kiri gue. Dilihat dari jarak ini, cantiknya semakin mutlak. Parasnya bagaikan matahari jam 12 siang, ketika awanpun takut menutupi sinarnya.
Gue pun maju tak gentar!
"ehem.." Batuk buatan.
Tetapi sial, dia tidak menoleh. Lalu gue colek pundaknya dengan jari manis, "Sorry, bangku ini kosong?"
"Oh, iya." Katanya sambil tersenyum, tetapi sedetik kemudian kembali ke planet serius. Untuk kategori wanita seperti ini, gue berpikir jangan terlalu banyak bicara. Jika gue mengganggu konsentrasi belajarnya, bisa-bisa mata gue bakal dicolok pake pensil. Gue pun berpikir keras.
Wanita didalam perpustakaan tidak sama dengan wanita yang ada di dalam butik, mall, atau club. Tetapi dia tetap wanita cantik. Berarti tetap harus kenalan. (Hahahahhahaha).
Singkat cerita :
"Hei..?" Gue sapa dia sekali lagi.
"Ya?" Tanggapnya.
"1 jam gue perhatiin, lo kelihatan sangat-sangat tidak bisa diganggu.
Jadi, jika tugas negara yang penting ini (sambil menunjuk laptopnya) sudah selesai, boleh kita kenalan?"
Begitu kata gue sambil menatap matanya tanpa berkedip tetapi mengirim senyum ke pelupuk matanya. Tanpa menunggu jawabannya, 2 detik setelah gue melontarkan senyuman, gue mengalihkan pandangan gue ke sebuah buku yang telah gue persiapkan, lalu gue berpura-pura membaca.
Sekitar 5 menit setelah berada pada situasi hening ;
Tiba-tiba sicantik menutup laptopnya, mengangkat tasnya ke atas meja dan menyapa gue,
"Eh, kayaknya gue sering liat lo di kantin deh???"
"Tapi ga tau namanya??" Tanya gue sambil tertawa kecil, seakan gue sedang melanjutkan kalimatnya barusan.
"Iya. Hehehehe." Tanggapnya, sambil cekikikan.
Ketika sudah dalam keadaan seperti ini, 80% gue pasti bisa menciptakan situasi semau hati gue.
""Kamu pasti, Nia?" Tanya gue.
"Hah, Nia???" Si cantik bingung.
Sambil menunjuk kulit tepat dibawah matanya, gue berkata "Dengan kelopak mata yang hitam seperti ini, siapa lagi namanya kalau bukan Imsom'Nia??? :p"
"Hmmm.. Jayus." Katanya mesem-mesem.
"Sudah punya pacar???" Tanya gue lagi.
"Emm.. Udah." Katanya singkat, dengan ekspressi senyum yang terpaksa dilempar.
Ini adalah keadaan diluar rencana. Bodohnya. Siapa yang tahu kalau dia sudah punya pacar.
Sebagai kelinci, gue hanya bisa menatap matanya. Menatapnya terus sampai dia merasa tidak nyaman, lalu gue yang pergi sambil berpura-pura galau. hehehe..
"Oya?
Hmmm.. Semoga pacar lo memaafkan kelancangan gue hari ini ya." Kata gue sambil berberes-beres. Memasukkan buku kedalam sebagai isyarat kalau sebentar lagi gue bakal cabut. Ini pasti gambling. Gue ga mungkin akan bertindak lebih banyak jika sudah begini. Salah satu caranya ialah berharap bahwa dengan percakapan singkat itu, dia yang bergerak maju.
"Lho, katanya mau kenalan?
Nama gue Happy." Ujarnya dengan memasang senyum terlebar yang pernah gue lihat dari bibir yang tipis.
Ke'esokan harinya :
"Happy, kamu dimana??
Aku uda sampe kampus nih." Kata gue via sms.
**BERSAMBUNG**
(Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar ingin menghibur bagi yang senang membaca).
hihihihi... cabs!
Begitu lah setiap kali gue melintasi sebuah perpustakaan kampus. Pemandangannya biasa saja, tetapi apa yang gue bayangkan menurut gue luar biasa. Memicu tawa-tawa kecil yang terus menemani perjalanan gue menuju toilet untuk berkaca.
Tetapi hari ini terlihat seperti hari "kelinci" sedunia ketika seorang wanita cantik yang gue lihat dari balik kaca sedang tenggelam didunia keseriusan perpustakaan kampus. Temannya saat itu hanya lah seperangkat laptop berwarna silver dan 3 tumpuk buku tebal. Gue ga bisa bilang apa-apa, karena tidak satupun tertangkap sebuah kelemahan pada cantik mutlak paras wajahnya.
Bermenit-menit lamanya gue perhatikan aktivitasnya dari luar, memandanginya terus menerus.
Gue berancang-ancang untuk melempar senyum ketika misalnya dia melihat ke arah gue.
Tapi sial! Belum apa-apa, laptopnya membuat gue cemburu.
Tidak sedetikpun dia merasa ada se-ekor kelinci yang sedang mengawasinya karena dia terlalu sibuk bersenda gurau dengan teknologi.
Apa mau di kata, gue harus menyelinap masuk ke perpustakaan untuk berkenalan.
Ya.. agak janggal mendengar seorang "GUE" ada di perpustakaan. Tetapi lebih janggal jika seorang wanita cantik yang ada di perpustakaan, disia-siakan. Wkwkwkwkwkwkwk. :D
Kali ini, si cantik itu berada hanya 5 meter dari jempol kaki kiri gue. Dilihat dari jarak ini, cantiknya semakin mutlak. Parasnya bagaikan matahari jam 12 siang, ketika awanpun takut menutupi sinarnya.
Gue pun maju tak gentar!
"ehem.." Batuk buatan.
Tetapi sial, dia tidak menoleh. Lalu gue colek pundaknya dengan jari manis, "Sorry, bangku ini kosong?"
"Oh, iya." Katanya sambil tersenyum, tetapi sedetik kemudian kembali ke planet serius. Untuk kategori wanita seperti ini, gue berpikir jangan terlalu banyak bicara. Jika gue mengganggu konsentrasi belajarnya, bisa-bisa mata gue bakal dicolok pake pensil. Gue pun berpikir keras.
Wanita didalam perpustakaan tidak sama dengan wanita yang ada di dalam butik, mall, atau club. Tetapi dia tetap wanita cantik. Berarti tetap harus kenalan. (Hahahahhahaha).
Singkat cerita :
"Hei..?" Gue sapa dia sekali lagi.
"Ya?" Tanggapnya.
"1 jam gue perhatiin, lo kelihatan sangat-sangat tidak bisa diganggu.
Jadi, jika tugas negara yang penting ini (sambil menunjuk laptopnya) sudah selesai, boleh kita kenalan?"
Begitu kata gue sambil menatap matanya tanpa berkedip tetapi mengirim senyum ke pelupuk matanya. Tanpa menunggu jawabannya, 2 detik setelah gue melontarkan senyuman, gue mengalihkan pandangan gue ke sebuah buku yang telah gue persiapkan, lalu gue berpura-pura membaca.
Sekitar 5 menit setelah berada pada situasi hening ;
Tiba-tiba sicantik menutup laptopnya, mengangkat tasnya ke atas meja dan menyapa gue,
"Eh, kayaknya gue sering liat lo di kantin deh???"
"Tapi ga tau namanya??" Tanya gue sambil tertawa kecil, seakan gue sedang melanjutkan kalimatnya barusan.
"Iya. Hehehehe." Tanggapnya, sambil cekikikan.
Ketika sudah dalam keadaan seperti ini, 80% gue pasti bisa menciptakan situasi semau hati gue.
""Kamu pasti, Nia?" Tanya gue.
"Hah, Nia???" Si cantik bingung.
Sambil menunjuk kulit tepat dibawah matanya, gue berkata "Dengan kelopak mata yang hitam seperti ini, siapa lagi namanya kalau bukan Imsom'Nia??? :p"
"Hmmm.. Jayus." Katanya mesem-mesem.
"Sudah punya pacar???" Tanya gue lagi.
"Emm.. Udah." Katanya singkat, dengan ekspressi senyum yang terpaksa dilempar.
Ini adalah keadaan diluar rencana. Bodohnya. Siapa yang tahu kalau dia sudah punya pacar.
Sebagai kelinci, gue hanya bisa menatap matanya. Menatapnya terus sampai dia merasa tidak nyaman, lalu gue yang pergi sambil berpura-pura galau. hehehe..
"Oya?
Hmmm.. Semoga pacar lo memaafkan kelancangan gue hari ini ya." Kata gue sambil berberes-beres. Memasukkan buku kedalam sebagai isyarat kalau sebentar lagi gue bakal cabut. Ini pasti gambling. Gue ga mungkin akan bertindak lebih banyak jika sudah begini. Salah satu caranya ialah berharap bahwa dengan percakapan singkat itu, dia yang bergerak maju.
"Lho, katanya mau kenalan?
Nama gue Happy." Ujarnya dengan memasang senyum terlebar yang pernah gue lihat dari bibir yang tipis.
Ke'esokan harinya :
"Happy, kamu dimana??
Aku uda sampe kampus nih." Kata gue via sms.
**BERSAMBUNG**
(Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar ingin menghibur bagi yang senang membaca).
hihihihi... cabs!
Kelinci Masuk McD
Lelaki mana yang masih kuasa jika melihat wanita cantik yang sepertinya adalah seorang model berada satu jengkal didepannya, bahkan si cantik itu hanya mengenakan celana pendek ketat yang pendeknya lebih pendek dari celana sepak bola?
Hari itu friends, gue melihatnya dengan tidak berkedip disuatu restorant cepat saji (McD). Beruntung, bola mata gue tidak jadi menggelinding keluar saat melihat cantiknya dalam jarak dekat. Dan lidah gue pun masih tertahan untuk menjulur-julur keluar bak seekor anjing puddle.
Dalam keadaan seperti ini, gue langsung memeriksa resleting, apakah masih dalam keadaan normal. wkwkwkwkwk :p
Cacing-cacing diperut gue terasa menggelinjang disekitar lambung, seperti baru saja tersiram aspal panas. Sedangkan kedua tangan gue mendadak masuk kantong, meremas seceng-seceng lecek karena kegemesan. Ginjal gue seperti mau meledak. Sumpah Roy, Boy, Coy, cewek ini cantik bukan kepalang. Bulu matanya yang lentik ketika berkedip, seperti ayunan tongkat sihir Harry Potter yang merubah idung gue menjadi kodok. Seketika itu juga, gue langsung mimisan. ;)
"Bagaimana kalau kita mengajaknya berkenalan?" Begitu kata si 'pembisik' iseng yang ngegelitikin telinga gue. KAMPRET! Kalo urusannya uda ngadepin cewek tinggi, cantik, model pula seperti ini, itu sama saja mengajak gue berkaca 77 kali. 'Nggak maybe!'
Tetapi si 'Ledom satu ini masih tetap berdiri didepan gue. Tidak sedetikpun pandangan gue lepas dari lihai bentuk kakinya yang sempurna. Betisnya, pahanya, jari-jarinya.. Nyamuk pun pasti masuk neraka jika coba-coba nemplok.
Friends, jika harus mengantri dalam situasi seperti ini, gue rela berdiri 7 jam sekalipun. Ini gila friends! Sesekali dia terlihat gelisah karena antri-nya yang lama, lalu melihat kesana kemari, termasuk melihat kelinci imut yang dari tadi uda ngompol di belakangnya. Jika Tuhan punya nomor telepon nih, itu pasti gue uda nge-sms Dia untuk nanya, "Tuhan, jangan bilang kalo wanita didepan saya ini adalah takdir???"
krik krik krik..
Tiba-tiba tenggorokan gue gatel dan, "UHUK Haii..!"
Si model merasa mendengar lalu berlagak menggeser poni-nya yang jatuh dan menggantungkannya ke sela-sela telinga. Attitude yang jenius.
Bagaimana ini? Apa langsung gue gigit lehernya aja dari belakang gitu? Atau mungkin gue selengkat aja kakinya pake sepatu bola? Oh, mungkin me'meong-meong' di sela-sela keteknya lebih akurat????!
Kampreeeeeeeeeeeeeeeet!
Sumpah, ini adalah keberuntungan yang setara nilainya dengan menang Lotere. Tidak boleh di sia-siakan, tapi bingung harus bagaimana. GALAU GALAU GALAU!
"Chicken McD 1, satu.. Pepsi-nya yang middle, no ice." Begitu katanya kepada kasir. Gue tetap berdiri dibelakangnya, dengan setia menunggu pesanannya selesai sambil baca-baca do'a.
Tiba-tiba,
"Silahkan mas, ada yang bisa dibantu?" Salah seorang pegawai McD menyapa gue yang lagi membayangkan bagaimana suara si model ini ketika sedang baru bangun tidur. "Beb, beb.. thanks ya semalem! Kamu awesome banget." Gituuuuu.. Wakakakaakk.
"EH, IYA MAS?" Tanya gue yang baru siuman dari lamunan jorok.
"Pesan apa, mas?" Tanya balik si pegawai McD.
Kalo ditebak, rupanya si model sedang menunggu pesanannya selesai. Gerak-geriknya yang tidak sabar, langsung gue rekam di otak, agar bisa menjadi bekal kala nanti gue misalnya gue teringat untuk pipis. GOBLOK ABIS! Hahahahahahhahaha.
"Oh..
Chicken McD 1, satu.. Pepsi-nya yang middle, no ice!" Jawab gue.
Wah, pesanan yang gue pesan sengaja gue sama-sama'in sama si model dengan maksud, setidaknya dia sedikit menoleh ke gue saat mendengar pesanan gue. Lalu,
"kALAU SAYA TIDAK SALAH, MBAK ITU TITIK KAMAL YA?" Tanya gue, berpura-pura norak pada si model satu ini. Ini nekat namanya my friends!
"APA??? TITI KAMAL?
BUKAN. :)" Begitu katanya.
"AH, MASA?
JANGAN MERENDAH GITU, MBAK. HEHEHE." Ujar gue sambil mendekat ke arah matanya.
"EMANG MIRIP YA?" Tanya-nya.
"Yaaaa, cuma ada dua kemungkinan.
Kalau embak bukan Titi kamal, ya berarti embak lebih cantik dari Titi Kamal." Jawab gue sambil menatap matanya dengan sedikit menitip senyum-senyum kecil lewat sorot mata.
Gue lihat senyumnya tetap anggun. Tidak terlihat grogi sedikitpun. Rupanya ia sangat pandai menutupi rasa geli dihatinya. hehehehe.
Mungkin, sesampainya dirumah nanti, dia bakal ketawa cekikikan sambil memeluk bantal. Wkwkwkwkwkwk.
"Silahkan, Mbak." Kata si pegawai McD sambil menyerahkan pesanan si Model tadi.
Si Model langsung mengambil makanannya, dan tersenyum ke arah gue. Lalu ia mengarahkan langkahnya untuk mengambil sedotan dan saos sambal yang berada 3 meter disebelah kiri gue. "Duluan yaaa." Ujarnya.
"Boleh kenalan?" Tembak gue langsung tepat di jidatnya. Seketika dia tergeletak sambil menggelinjang dan mengacak-acak rambutnya yang terkuncir rapih.. Wakakakakak. Ga gitu sih. Lebay. Dia cuma langsung bilang,
"Oh. Boleh, boleh." Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Christian. Christian Sugiono. Hehehehe.." Cetus gue sambil menjabat tangannya.
"Hahahahaha. Ngarep!
Titi Kamal secara ya Booo....
Bisa aja lho. hehehe.
Gue, Indah." Jawabnya sambil ketawa-ketiwi ga karuan. Ternyata namanya Indah. Sesuai betul dengan paras mutlaknya. Melihatnya tertawa seperti ini, atas kepala gue mengeluarkan asap. Seperti kesetrum kabel kulkas. Gokil! Ditambah lagi, lagu Tompi "menghujam jantung" terputar tiba-tiba di McD. Seperti sepakat terhadap rasa yang lagi gue derita. Wakakakakakakkakkakakak.
Lalu tanpa basa basi, gue tembak lagi dia : "Nomor lo masih yang lama?"
"HAH?" Indah bingung.
"Ohh.. berarti baru ya?!
Pantesan. Kalo gitu, brapa? hehehe." Tanggap gue, iseng minta ampun.
"HAHAHAHHAHAHHA.
SUMPAH, ANEH. BILANG AJA MINTA NOMOR GUE.
GOMBAL YA BOOOOO..." Begitu katanya.
1 jam kemudian :
"Indah, terima kasih telah ramah di pagi-pagi buta.
Salam.
- Christian Sugiono 'abal-abal'. :)" Begitu kata gue ke dia, via sms.
(Selanjutnya terserah anda, karena sekali lagi, ini fiktif belaka. Wakakakakakakkaak)
...Z, cabs!
Hari itu friends, gue melihatnya dengan tidak berkedip disuatu restorant cepat saji (McD). Beruntung, bola mata gue tidak jadi menggelinding keluar saat melihat cantiknya dalam jarak dekat. Dan lidah gue pun masih tertahan untuk menjulur-julur keluar bak seekor anjing puddle.
Dalam keadaan seperti ini, gue langsung memeriksa resleting, apakah masih dalam keadaan normal. wkwkwkwkwk :p
Cacing-cacing diperut gue terasa menggelinjang disekitar lambung, seperti baru saja tersiram aspal panas. Sedangkan kedua tangan gue mendadak masuk kantong, meremas seceng-seceng lecek karena kegemesan. Ginjal gue seperti mau meledak. Sumpah Roy, Boy, Coy, cewek ini cantik bukan kepalang. Bulu matanya yang lentik ketika berkedip, seperti ayunan tongkat sihir Harry Potter yang merubah idung gue menjadi kodok. Seketika itu juga, gue langsung mimisan. ;)
"Bagaimana kalau kita mengajaknya berkenalan?" Begitu kata si 'pembisik' iseng yang ngegelitikin telinga gue. KAMPRET! Kalo urusannya uda ngadepin cewek tinggi, cantik, model pula seperti ini, itu sama saja mengajak gue berkaca 77 kali. 'Nggak maybe!'
Tetapi si 'Ledom satu ini masih tetap berdiri didepan gue. Tidak sedetikpun pandangan gue lepas dari lihai bentuk kakinya yang sempurna. Betisnya, pahanya, jari-jarinya.. Nyamuk pun pasti masuk neraka jika coba-coba nemplok.
Friends, jika harus mengantri dalam situasi seperti ini, gue rela berdiri 7 jam sekalipun. Ini gila friends! Sesekali dia terlihat gelisah karena antri-nya yang lama, lalu melihat kesana kemari, termasuk melihat kelinci imut yang dari tadi uda ngompol di belakangnya. Jika Tuhan punya nomor telepon nih, itu pasti gue uda nge-sms Dia untuk nanya, "Tuhan, jangan bilang kalo wanita didepan saya ini adalah takdir???"
krik krik krik..
Tiba-tiba tenggorokan gue gatel dan, "UHUK Haii..!"
Si model merasa mendengar lalu berlagak menggeser poni-nya yang jatuh dan menggantungkannya ke sela-sela telinga. Attitude yang jenius.
Bagaimana ini? Apa langsung gue gigit lehernya aja dari belakang gitu? Atau mungkin gue selengkat aja kakinya pake sepatu bola? Oh, mungkin me'meong-meong' di sela-sela keteknya lebih akurat????!
Kampreeeeeeeeeeeeeeeet!
Sumpah, ini adalah keberuntungan yang setara nilainya dengan menang Lotere. Tidak boleh di sia-siakan, tapi bingung harus bagaimana. GALAU GALAU GALAU!
"Chicken McD 1, satu.. Pepsi-nya yang middle, no ice." Begitu katanya kepada kasir. Gue tetap berdiri dibelakangnya, dengan setia menunggu pesanannya selesai sambil baca-baca do'a.
Tiba-tiba,
"Silahkan mas, ada yang bisa dibantu?" Salah seorang pegawai McD menyapa gue yang lagi membayangkan bagaimana suara si model ini ketika sedang baru bangun tidur. "Beb, beb.. thanks ya semalem! Kamu awesome banget." Gituuuuu.. Wakakakaakk.
"EH, IYA MAS?" Tanya gue yang baru siuman dari lamunan jorok.
"Pesan apa, mas?" Tanya balik si pegawai McD.
Kalo ditebak, rupanya si model sedang menunggu pesanannya selesai. Gerak-geriknya yang tidak sabar, langsung gue rekam di otak, agar bisa menjadi bekal kala nanti gue misalnya gue teringat untuk pipis. GOBLOK ABIS! Hahahahahahhahaha.
"Oh..
Chicken McD 1, satu.. Pepsi-nya yang middle, no ice!" Jawab gue.
Wah, pesanan yang gue pesan sengaja gue sama-sama'in sama si model dengan maksud, setidaknya dia sedikit menoleh ke gue saat mendengar pesanan gue. Lalu,
"kALAU SAYA TIDAK SALAH, MBAK ITU TITIK KAMAL YA?" Tanya gue, berpura-pura norak pada si model satu ini. Ini nekat namanya my friends!
"APA??? TITI KAMAL?
BUKAN. :)" Begitu katanya.
"AH, MASA?
JANGAN MERENDAH GITU, MBAK. HEHEHE." Ujar gue sambil mendekat ke arah matanya.
"EMANG MIRIP YA?" Tanya-nya.
"Yaaaa, cuma ada dua kemungkinan.
Kalau embak bukan Titi kamal, ya berarti embak lebih cantik dari Titi Kamal." Jawab gue sambil menatap matanya dengan sedikit menitip senyum-senyum kecil lewat sorot mata.
Gue lihat senyumnya tetap anggun. Tidak terlihat grogi sedikitpun. Rupanya ia sangat pandai menutupi rasa geli dihatinya. hehehehe.
Mungkin, sesampainya dirumah nanti, dia bakal ketawa cekikikan sambil memeluk bantal. Wkwkwkwkwkwk.
"Silahkan, Mbak." Kata si pegawai McD sambil menyerahkan pesanan si Model tadi.
Si Model langsung mengambil makanannya, dan tersenyum ke arah gue. Lalu ia mengarahkan langkahnya untuk mengambil sedotan dan saos sambal yang berada 3 meter disebelah kiri gue. "Duluan yaaa." Ujarnya.
"Boleh kenalan?" Tembak gue langsung tepat di jidatnya. Seketika dia tergeletak sambil menggelinjang dan mengacak-acak rambutnya yang terkuncir rapih.. Wakakakakak. Ga gitu sih. Lebay. Dia cuma langsung bilang,
"Oh. Boleh, boleh." Katanya sambil mengulurkan tangan.
"Christian. Christian Sugiono. Hehehehe.." Cetus gue sambil menjabat tangannya.
"Hahahahaha. Ngarep!
Titi Kamal secara ya Booo....
Bisa aja lho. hehehe.
Gue, Indah." Jawabnya sambil ketawa-ketiwi ga karuan. Ternyata namanya Indah. Sesuai betul dengan paras mutlaknya. Melihatnya tertawa seperti ini, atas kepala gue mengeluarkan asap. Seperti kesetrum kabel kulkas. Gokil! Ditambah lagi, lagu Tompi "menghujam jantung" terputar tiba-tiba di McD. Seperti sepakat terhadap rasa yang lagi gue derita. Wakakakakakakkakkakakak.
Lalu tanpa basa basi, gue tembak lagi dia : "Nomor lo masih yang lama?"
"HAH?" Indah bingung.
"Ohh.. berarti baru ya?!
Pantesan. Kalo gitu, brapa? hehehe." Tanggap gue, iseng minta ampun.
"HAHAHAHHAHAHHA.
SUMPAH, ANEH. BILANG AJA MINTA NOMOR GUE.
GOMBAL YA BOOOOO..." Begitu katanya.
1 jam kemudian :
"Indah, terima kasih telah ramah di pagi-pagi buta.
Salam.
- Christian Sugiono 'abal-abal'. :)" Begitu kata gue ke dia, via sms.
(Selanjutnya terserah anda, karena sekali lagi, ini fiktif belaka. Wakakakakakakkaak)
...Z, cabs!
Alay Pacaran
Ceritanya, Alay lagi pacaran.
Setelah beli teh botol diplastikin sama rokok super setengah, akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran di ujung blok komplek elite dekat rumahnya yang kebetulan sepi. Motor diparkirnya, lalu mereka duduk di joknya sambil bermesra ria.
si cowok :
"BeBH, PaNTad AQ g4t3L-gATelZ KnApH yUCH?" Katanya sambil garuk-garuk.
Si cewek yang sedang bersandar dipundak si cowok, mengisap kasar teh botol itu. Sedotannya digigit, terus dia minum sambil monyong-monyong. Jawabnya :
"Au ACh eLaPH! bETH3 aQuW aMA QmuW!"
Si cowok :
"NAp4H SIch BEBZ!!!!!!!!!!!!!?"
Si cewek :
"Ab!5AN, nGAPeLnYAH Dipin99ir JaLAn MuLU DAh!"
Si cowok menjawab sambil mencium-cium rambut si cewek, katanya:
"BoD0 mENanAn!
NYaN9 PenTyNg sEPi, ChAyAnK."
Si cewekpun cembetut, terus bilang :
"aPA Lo KaTA??
sEPI???
PaLA Lu KaBuR! bANYAK bET NyAmUK NOH." (Tepok-tepok-tepok, katanya sambil nepokin nepokin nyamuk).
Si cowok :
"KaLEM BeeeEBH.. aBANG bAWa AuTAN." Katanya sambil mengeluarkan obat nyamuk oles.
Akhirnya merekapun memutuskan untuk mengabisi malem minggu tetap ditempat itu. Angin bertiup lebih kencang. Suhu menjadi dingin. Si cowok memeluk dan menyandarkan kepala si cewek di jacketnya yang bertuliskan "Kupu-kupu liarku."
Tidak lama setelah itu,
Si cowok mulai ngeraba-raba perut si cewek. Tanpa kata, si cewek pun jadi merem melek ga karuan. Ga lama, tangan si cowok mulai naik ke atas. Lalu,
"Et Dah, rEMESNye PelAN-PeLAN NAPA B3bh!" Kata si cewek.
"Udah KaLeM AjE! BeHa QmUW RiBeT bANGaT NiCh." Si cowok ga sabar.
"uH.. UH.. Uh.."
Si cewek pura-pura desah. Bibirnya digigit-gigit. Matanya merem, tapi ngintip-ngintip.
"BUkAN MAeNNNNNNNNNNN!
BAcOt qMUW pELAN dIkIT DOnK.
dEPan, RUMaH pAK HAji!" Tegur si Cowok.
Tiba-tiba,
"BeEEEB???" Si cewek memanggil diantara desahannya sendiri.
"APE.. UH.. AH.. UH?" Si cowok tetep ribet.
"BuKA CelAN4Nya CePET!" Jawab si cewek.
Mendengar hal itu, si cowok langsung gercep. Ngambil tiker di bagasi bawah jok motor, terus menarik si cewek ke kebon yang tak jauh dari tempat motornya di parkir. Si cewek pun membuka semua pakaiannya. Ia telentang pasrah dibawah si cowok yang nafsunya membabi buta. Celananya si cowok pun di plorotin sedikit, lalu...
"AH.. AH.. AH.. YES.. NOH.. YES.. NOH..NOH.. NOH.. YES.." Begitu terus dalam kurun waktu sekitar 5 menit.
Tiba-tiba,
"Ahhhhhhhhhhhh... kEluWAR jUgA BeBH." Kata si cowok yang ngos-ngosan.
"HAH?" Cetus si cewek, kaget.
"EN4Q YA BebH?" Tanya si cowok sambil cium-ciumin leher.
"ENaQ PAL4 lu!"Si cewek terlihat kesel dan mendorong si cowok yang berbaring tengkurap diatasnya.
"DIh.. KnAPA BEBH??" Si cowok melas pun bertanya.
"Itu Tadi pUSER GUWA, GOBLOK!" Jawab si cewek, murka.
*selesai dan bukan untuk ditiru.
Setelah beli teh botol diplastikin sama rokok super setengah, akhirnya mereka memutuskan untuk berpacaran di ujung blok komplek elite dekat rumahnya yang kebetulan sepi. Motor diparkirnya, lalu mereka duduk di joknya sambil bermesra ria.
si cowok :
"BeBH, PaNTad AQ g4t3L-gATelZ KnApH yUCH?" Katanya sambil garuk-garuk.
Si cewek yang sedang bersandar dipundak si cowok, mengisap kasar teh botol itu. Sedotannya digigit, terus dia minum sambil monyong-monyong. Jawabnya :
"Au ACh eLaPH! bETH3 aQuW aMA QmuW!"
Si cowok :
"NAp4H SIch BEBZ!!!!!!!!!!!!!?"
Si cewek :
"Ab!5AN, nGAPeLnYAH Dipin99ir JaLAn MuLU DAh!"
Si cowok menjawab sambil mencium-cium rambut si cewek, katanya:
"BoD0 mENanAn!
NYaN9 PenTyNg sEPi, ChAyAnK."
Si cewekpun cembetut, terus bilang :
"aPA Lo KaTA??
sEPI???
PaLA Lu KaBuR! bANYAK bET NyAmUK NOH." (Tepok-tepok-tepok, katanya sambil nepokin nepokin nyamuk).
Si cowok :
"KaLEM BeeeEBH.. aBANG bAWa AuTAN." Katanya sambil mengeluarkan obat nyamuk oles.
Akhirnya merekapun memutuskan untuk mengabisi malem minggu tetap ditempat itu. Angin bertiup lebih kencang. Suhu menjadi dingin. Si cowok memeluk dan menyandarkan kepala si cewek di jacketnya yang bertuliskan "Kupu-kupu liarku."
Tidak lama setelah itu,
Si cowok mulai ngeraba-raba perut si cewek. Tanpa kata, si cewek pun jadi merem melek ga karuan. Ga lama, tangan si cowok mulai naik ke atas. Lalu,
"Et Dah, rEMESNye PelAN-PeLAN NAPA B3bh!" Kata si cewek.
"Udah KaLeM AjE! BeHa QmUW RiBeT bANGaT NiCh." Si cowok ga sabar.
"uH.. UH.. Uh.."
Si cewek pura-pura desah. Bibirnya digigit-gigit. Matanya merem, tapi ngintip-ngintip.
"BUkAN MAeNNNNNNNNNNN!
BAcOt qMUW pELAN dIkIT DOnK.
dEPan, RUMaH pAK HAji!" Tegur si Cowok.
Tiba-tiba,
"BeEEEB???" Si cewek memanggil diantara desahannya sendiri.
"APE.. UH.. AH.. UH?" Si cowok tetep ribet.
"BuKA CelAN4Nya CePET!" Jawab si cewek.
Mendengar hal itu, si cowok langsung gercep. Ngambil tiker di bagasi bawah jok motor, terus menarik si cewek ke kebon yang tak jauh dari tempat motornya di parkir. Si cewek pun membuka semua pakaiannya. Ia telentang pasrah dibawah si cowok yang nafsunya membabi buta. Celananya si cowok pun di plorotin sedikit, lalu...
"AH.. AH.. AH.. YES.. NOH.. YES.. NOH..NOH.. NOH.. YES.." Begitu terus dalam kurun waktu sekitar 5 menit.
Tiba-tiba,
"Ahhhhhhhhhhhh... kEluWAR jUgA BeBH." Kata si cowok yang ngos-ngosan.
"HAH?" Cetus si cewek, kaget.
"EN4Q YA BebH?" Tanya si cowok sambil cium-ciumin leher.
"ENaQ PAL4 lu!"Si cewek terlihat kesel dan mendorong si cowok yang berbaring tengkurap diatasnya.
"DIh.. KnAPA BEBH??" Si cowok melas pun bertanya.
"Itu Tadi pUSER GUWA, GOBLOK!" Jawab si cewek, murka.
*selesai dan bukan untuk ditiru.
Kelinci Masuk Club 2
Waktu di club, jumat malam tempo itu, tenggorokan gue terasa seret. Disatu sisi, gue lihat satu cewek sedang riang sempoyongan berjoged diatas meja sambil memegang gelas berisikan zat cair yang memabukkan. Ini namanya sambil menyelam, minum air, my friend.
Gue samperin tu cewek. Cara jalan gue, gue koboy-koboyin biar keren. Kalo dikantong gue ada sisir, pasti gue langsung nyisir sambil membasahi poni gue pake air liur. Tapi itu ga mungkin. Gue ga mau satu club mendadak muntah ngeliat gaya gue.
Cewek yang lagi joged-joged ini, untungnya cantik. Cuma kurang bisa mawas diri. Demi kebaikannya, gue berlagak :
"ENOUGH, BABE. ENOUGH!!!" Kata gue, sambil meraih gelas yang digenggamnya.
Tu cewek bengong, menatap gue melongo persis sapi pengen dipotong. Mungkin didalam hatinya yang terkontaminasi alkohol, dia berkata panik, "PAPA??? PAPA KOK DISINI???" Jadi serasa anak gadis satu-satunya, yang baru ketauan bokapnya sedang mabok-mabokan di club malam. Hihihihi...
"EH, LU SIAPA?" Kata si cewek yang matanya merem melek, ga kuat menahan efek radiasi alkohol yang mengguncang saraf-saraf sadarnya.
"KHAN.. KHAN.. KHAN.. KAMU MULAI LAGI.
GA CAPEK KAMU BABE, BERANTEM TERUS SAMA AKU CUMA GARA-GARA INI AJA?" Jawab gue.
Tu cewek mukanya langsung bengkok. "Helooooooow.. cowok gue bukan, kenal juga enggak, kok kelakuannya kayak kampret salah makan." Mungkin begitu jika gue gambarkan raut wajah herannya dengan kata-kata. Tapi...
"BALIKIN MINUMAN GUE!" Kata si cewek marah-marah.
Temen-temen satu mejanya ngeliatin gue semua. Seakan salah dikit kata-kata gue, gue pasti langsung jadi lontong rebus ditempat gara-gara digebukin mereka.
"EASY GUYS. DIA EMANG SELALU KAYAK GINI KALO UDA MABOK." Elak gue, ketakutan.
"UDAH BABE. ENOUGH.
KAMU UDA KEBANYAKAN MINUM. KAMU LUPA YA, 2 HARI SEKALI KAMU MESTI CHECK UP JANTUNG KAMU????" Kata-kata gue mulai ngawur.
"APA? DINDA? LO ADA PENYAKIT JANTUNG??" Kata salah seorang temannya yang juga mabuk.
"JANTUNG??? EH.. LO SIAPA SIH GUE GA KENAL???!
SINI MINUMAN GUE!!!!!!" Tanya geram si cewek cantik ini.
"UDAH BABE! KAMU MAUNYA APA SIH?
INI AKU AJA YANG MINUM!!!! GLEEEEEK GLEEEEK GLEEEK!" Kata gue sambil menenggak minuman yang ternyata segelas murni Vodka Absolute. Dalam hati gue yang norak, "lumayaaaan.. gratis. hihihihi."
"SEKARANG KAMU MAU PULANG SAMA AKU, ATAU MEREKA?" Kata gue.
"Diiin, uda.. lo ikut dia aja. Lo uda kelewat mabok deh hari ini." Kata salah seorang temennya lagi. Dalem hati gue langsung "YES. YES. YES!"
"Eeeeee... tapi serius deh. Gue ga kenal lo." Tanya si cantik lagi. Ia turun dari atas meja, dan mendekatkan matanya ke wajah gue.
Situasi ini adalah situasi gambling, my friend. Cuma ada 2 kemungkinan. Pulang bersama Dinda, atau digebukin satu club.
Gue langsung meraih telinganya, lalu membisikinya dengan woles dan mengelus pipinya..
"Ssssst.. ini cara kenalan paling fenomenal yang pernah aku lakuin. Berikan senyum ke temen-temen kamu sekarang, atau hari ini adalah hari terakhir aku hidup!" Kata gue menantangnya.
Singkat cerita :
Kita pulang bareng. ;)
cerita ini adalah fiktif belaka. tidak mungkin berhasil jika ditiru. hehehehe.
Gue samperin tu cewek. Cara jalan gue, gue koboy-koboyin biar keren. Kalo dikantong gue ada sisir, pasti gue langsung nyisir sambil membasahi poni gue pake air liur. Tapi itu ga mungkin. Gue ga mau satu club mendadak muntah ngeliat gaya gue.
Cewek yang lagi joged-joged ini, untungnya cantik. Cuma kurang bisa mawas diri. Demi kebaikannya, gue berlagak :
"ENOUGH, BABE. ENOUGH!!!" Kata gue, sambil meraih gelas yang digenggamnya.
Tu cewek bengong, menatap gue melongo persis sapi pengen dipotong. Mungkin didalam hatinya yang terkontaminasi alkohol, dia berkata panik, "PAPA??? PAPA KOK DISINI???" Jadi serasa anak gadis satu-satunya, yang baru ketauan bokapnya sedang mabok-mabokan di club malam. Hihihihi...
"EH, LU SIAPA?" Kata si cewek yang matanya merem melek, ga kuat menahan efek radiasi alkohol yang mengguncang saraf-saraf sadarnya.
"KHAN.. KHAN.. KHAN.. KAMU MULAI LAGI.
GA CAPEK KAMU BABE, BERANTEM TERUS SAMA AKU CUMA GARA-GARA INI AJA?" Jawab gue.
Tu cewek mukanya langsung bengkok. "Helooooooow.. cowok gue bukan, kenal juga enggak, kok kelakuannya kayak kampret salah makan." Mungkin begitu jika gue gambarkan raut wajah herannya dengan kata-kata. Tapi...
"BALIKIN MINUMAN GUE!" Kata si cewek marah-marah.
Temen-temen satu mejanya ngeliatin gue semua. Seakan salah dikit kata-kata gue, gue pasti langsung jadi lontong rebus ditempat gara-gara digebukin mereka.
"EASY GUYS. DIA EMANG SELALU KAYAK GINI KALO UDA MABOK." Elak gue, ketakutan.
"UDAH BABE. ENOUGH.
KAMU UDA KEBANYAKAN MINUM. KAMU LUPA YA, 2 HARI SEKALI KAMU MESTI CHECK UP JANTUNG KAMU????" Kata-kata gue mulai ngawur.
"APA? DINDA? LO ADA PENYAKIT JANTUNG??" Kata salah seorang temannya yang juga mabuk.
"JANTUNG??? EH.. LO SIAPA SIH GUE GA KENAL???!
SINI MINUMAN GUE!!!!!!" Tanya geram si cewek cantik ini.
"UDAH BABE! KAMU MAUNYA APA SIH?
INI AKU AJA YANG MINUM!!!! GLEEEEEK GLEEEEK GLEEEK!" Kata gue sambil menenggak minuman yang ternyata segelas murni Vodka Absolute. Dalam hati gue yang norak, "lumayaaaan.. gratis. hihihihi."
"SEKARANG KAMU MAU PULANG SAMA AKU, ATAU MEREKA?" Kata gue.
"Diiin, uda.. lo ikut dia aja. Lo uda kelewat mabok deh hari ini." Kata salah seorang temennya lagi. Dalem hati gue langsung "YES. YES. YES!"
"Eeeeee... tapi serius deh. Gue ga kenal lo." Tanya si cantik lagi. Ia turun dari atas meja, dan mendekatkan matanya ke wajah gue.
Situasi ini adalah situasi gambling, my friend. Cuma ada 2 kemungkinan. Pulang bersama Dinda, atau digebukin satu club.
Gue langsung meraih telinganya, lalu membisikinya dengan woles dan mengelus pipinya..
"Ssssst.. ini cara kenalan paling fenomenal yang pernah aku lakuin. Berikan senyum ke temen-temen kamu sekarang, atau hari ini adalah hari terakhir aku hidup!" Kata gue menantangnya.
Singkat cerita :
Kita pulang bareng. ;)
cerita ini adalah fiktif belaka. tidak mungkin berhasil jika ditiru. hehehehe.
Geletar
Pelan-pelan, tumpahan pesan sudah setara dengan dagu.
Kau menjamuku dengan siliran ramah diantara tumpukan sapa khalayak yang tertumpat, dengan menghadiahiku simbol senyum dengan tangan sambil melipat.
Meski nyaris tidak bernafas, aku tetap berusaha tersenyum tegas.
Namun ada yang menyentilku diam-diam kala kita bercakap. Yaitu, guyonan karyaku sendiri yang menjadikanku makin merasa luak.
Apa kabar kamu yang bakal sering diserbu sorak? Pasti akan menyulapmu menjadi lebih selektif dalam menyaring setiap tatap.
Hanya dengar. Fakta yang ada padaku memang secuil.
Tapi ini bukan fakta yang tanpa kaedah. Aku rela menghumbankan semua habit daifku ke tong sampah, demi meminta pesanmu satu kali lagi.
Ah, dasar! :)
Candu ini membuatku geletar mengejar kereta mewahmu dengan tanpa alas kaki, supaya bisa memberikanmu tissue untuk keringatmu yang ada didahi.
Untuk : Semua yang alergi pada wangi buah durian. :)
25 Juni 2009,
Di kursi Si pengagum Asmirandah.
Zarry Hendrik
Kau menjamuku dengan siliran ramah diantara tumpukan sapa khalayak yang tertumpat, dengan menghadiahiku simbol senyum dengan tangan sambil melipat.
Meski nyaris tidak bernafas, aku tetap berusaha tersenyum tegas.
Namun ada yang menyentilku diam-diam kala kita bercakap. Yaitu, guyonan karyaku sendiri yang menjadikanku makin merasa luak.
Apa kabar kamu yang bakal sering diserbu sorak? Pasti akan menyulapmu menjadi lebih selektif dalam menyaring setiap tatap.
Hanya dengar. Fakta yang ada padaku memang secuil.
Tapi ini bukan fakta yang tanpa kaedah. Aku rela menghumbankan semua habit daifku ke tong sampah, demi meminta pesanmu satu kali lagi.
Ah, dasar! :)
Candu ini membuatku geletar mengejar kereta mewahmu dengan tanpa alas kaki, supaya bisa memberikanmu tissue untuk keringatmu yang ada didahi.
Untuk : Semua yang alergi pada wangi buah durian. :)
25 Juni 2009,
Di kursi Si pengagum Asmirandah.
Zarry Hendrik
Minggu, 14 Juni 2009
Pelabuhan Ratu, waktu itu. (buat temen-temen yang uda pernah baca, baca lagi. buat yang belum, baca deh). hehehe.. chekedot! Share
perayaan paskah kemaren , gue nekat ma anak2 menembus peta hingga sampai pantai pelabuhan ratu.
rada gila sii memang. mending klo rencana nya dari rumah sampe sana terus nginep dihotel berbintang,
berendem aer panas, bangun2 minum teh, abis itu dipijit neng geulis sambil liat bule memanggang badannya yang aduhai..
lahh ini,,
naek motor ber-enam, 3 motor.
berangkat jam 11malam-pulang jam5pagi.
lalu begini lah awal dari penderitaan yang mengasyikan.
10 kilometer pertama, gue seperti sudah mendengar ombak.. padahal baru nyampe cibubur.
suasana hati begitu semangat. sesekali gue bercanda sama kawan yang sekaligus navigator setia gue, dicko harry mukti wibowo.
"ko, jangan tidur.. udah mau sampe!"
sapa gue yang kuatir dia tiba2 menghilang ditelan angin.
raymond ditemani david berada disisi kanan gue bersama megapro kebanggaannya.
berlagak seperti anak-anak brotherhood yang konvoi keliling pulau jawa walau sebenarnya lebih mirip genderuwo baru belajar motor.
lalu dibelakang gue, akun bersama koko yang keliatan seperti kangguru dan anaknya yang lagi naik bom-bom car.
perjalanan mulai terasa jauh dan memuakkan. berusaha berpikir positif, gue mencoba menganggap bahwa debu-debu yang gue hirup sepanjang jalan mengandung caffeine yang tidak menyebabkan kantuk.
tiba-tiba pas sampai bogor, ada razia.
"santai, tenang, kita semua lengkap!"
sapa gue terhadap diri yang parno ini.
"malam pak, tolong surat-suratnya!"
tegur pak polisi, sopan.
"razia ya pak?" tanya dicko yang lebih panik dari gue.
mencoba membantali pertanyaan dicko yang ‘pintar itu’, gue nyeletuk.. "oh, razia pak. saya kira ada syuting film setan gituu.. soalnya banyak lampu-lampu."
singkat cerita, razia berhasil dilewati dengan lancar gara2 STNK dicko yang mati, terlindungi oleh kartu anggota sang ayah. hahaha, polisi pengecut!
kalo gue jadi polisi itu, gue bakal bilang gini, "maaf pak. STNK anda sudah tidak berlaku. jadi, mohon maaf.. silahkan lanjutkan perjalanan anda dengan hati-hati dan tanpa kantuk! mariii.."
kabut mulai menebal.
???
ohh, ternyata itu bukan kabut. itu debu akibat puluhan truk pengangkut paku bumi yang jalannya kayak bekicot lagi menstruasi. sial!
menyalip truk2 itu, sama aja bertaruh nyawa. apalagi, kondisi jalannya hampir sama kayak remaja yang jarang cuci muka.
posisi gue paling depan.
dalam situasi ini, gue sangat tidak sabaran. maklum, alergi debu.:p
akhirnya, dengan gagah berani dan dengan ketampanan yang luar biasa, gue berhasil melewati puluhan truk itu tanpa ampun. gue kebut suzuki satria yang gue gas dengan birahi supaya bisa meninggalkan truk-truk itu hingga jalan terasa tenang.
gue sempet mikir gitu, yang ngangkutin n nurunin paku bumi-paku bumi itu dari truk, siapa yee? secara, paku bumi.
100 ade rai juga bakal kondor kalo ngangkatin gituan. \tapi bodo ahh. gue ga mau banyak mikir!
mungkin aja, paku bumi itu dibikinnya diatas truk, trus nuruninnya didorong pake traktor. logic dong!
keenakan ngebut, 2 motor raymond n akun
ga kliatan. berpikir, mereka ketinggalan
sangat jauh, akhirnya gue bersantai di
warung kopi.
hati kotor gue berkata, jangan2 mereka
berempat sudah rata dengan aspal?!?!?!??
ohhh Tuhan, lindungi mereka dengan adil!
baru asik ngegoda’in embak2 yang jaga, eh mereka uda dateng. feeling gue agak meleset.
akun cuma jatuh ringan gara-gara lubang yang lupa di benerin PEMDA setempat.
raymond, nyaris terlindas oleh truk yang arahnya berlawanan.
lama bercerita, kita lanjutkan perjalanan dengan binal!
thanks God, akhirnya gue bisa membaca plang yang bertuliskan, "pelabuhan ratu, kanan!"
pas disitu, dicko lagi seru-serunya nyerita’in ilmu hitam temannya yang katanya sakti.
"sssttt, udah ahh ceritanya! daerah sini udah rawan!" kata dicko, sambil memeluk gue erat.:p
"knapa ko, lo takut nyi blorong denger yee? hahahahahaha!" sambung gue.
"bego, jaket lo ijo. nah lo!" tegur dicko, serius.
tiba-tiba gue mencipok bau-bau aneh.
seperti bau melati, bau sampah, bau debu, dan bau tanah. (halah, kayak tau aja bau tanah tu kayak gimana).
bau itu jelas mengganggu indera pencipokan gue.
bau yang paling nyanterrr adalah bau bunga melati.
serius gue..
tapi semakin lama nyanter, bau itu semakin mengarah ke wangi sesajen.
pikir gue, jangan-jangan itu adalah wangi parfum gue yang udah kadarluarsa.
tapi ternyata bukan.
aneh..
praktis, bulu ketek gue merinding.
seperti ada yang mau menghampiri gue dari atas pohon, kemudian menerkam gue dengan lidah yang menjulur keluar.
hiiiiii!
ga bener nii suasana.
akhirnya gue menancap gas dengan tanpa iba sedikitpun.
kalau memang ratu pantai selatan menghadang gue didepan, biar gue tabrak dengan kecepatan tinggi!
toh, ga mungkin juga kan dia bisa mati gara-gara ditabrak motor.(pikir gue, sempit).
lama ngebut, jalanan mulai berlubang.
"apa jalan yang rusak ini sengaja dibiarkan oleh pemerintah untuk memancing supaya wisatawan kapok?"
tanya gue dalam hati.
lalu gue mengurangi kecepatan.
dengan asumsi, ratu pantai selatan itu ga mungkin bisa mengejar motor 2-tak ini dengan kereta kuda yang kuno.
wangi aneh itu pun telah lenyap.
yang gue lihat hanya kabut tebal yang dari tadi iseng ngetes jarak pandang gue. ck!
tapi dalam hati gue berkata, "amaaaan!"
sayangnya, laju motor yang gue tunggangi terlalu cepat, sampai-sampai 4 rekan tour gue itu jauh tertinggal. seketika, gue memelan.
"kemana yaa tu mereka."
gue mencoba menunggu dengan laju kecepatan 10km/jam.
rada sama cepetnya kayak kecepatan sepeda balita roda tiga, yang digenjot sekuat tenaga.
tapi mereka belum muncul juga.
pengen berhenti, kuatir terlalu membuka harapan buat rampok.
gue tetep jalan santai.
jangan sampe aja terjadi hal-hal yang tidak terlalu diharapkan, terjadi pada mereka.
misalnya:
ditengah perjalanan, tiba-tiba mereka nemu dompet yang terjatuh ditengah jalan yang isinya jutaan rupiah. karena kaget dan grogi melihat uang sebanyak itu, akhirnya mereka menghamburkannya ditempat prostitusi terdekat. dan tanpa mengajak gue!!! (penting gitu??)
atau mungkin salah satu dari mereka motornya mogok. karena frustasi dengan kondisi jalanan yang gelap gulita dan motor yang tak kunjung hidup, akhirnya mereka mabok bensin hingga menjatuhkan diri bersama ke jurang. tapi, bisa juga mereka dicegat rombongan perampok. pas perampok mencoba merampas harta mereka yang minim, ratu pantai selatan datang menolong bagaikan panji manusia milenium. dan sebagai tanda terima kasih, mereka rela dijadikan berondong, dan hidup didasar laut. selamanya.
(halah, mulai ngawur..)
tapi mungkin, pemikiran gue yang ini lebih tajam dan realistis. jadi…., mereka menganggap bahwasanya gue tertinggal jauh dibelakang. karena pikirnya gue lama muncul, akhirnya mereka putar balik demi keselamatan gue dan berusaha mencari gue keseluruh penjuru desa.
begooooo!!!
lama merenungkan beberapa hal itu, sekonyong-konyong mereka muncul.
pemikiran gue salah. mereka sempet marah-marah gitu ke gue, karena gue jalannya ga santai dan ugal-ugalan. mencoba lebih dewasa, akhirnya gue memposisikan diri paling belakang, lalu melaju dengan kompromi.
ngeeeeeeeeng!(bunyi motor gue yang hampir kena reumatik).
sekonyong-konyong, suasana berubah drastis.
alam terasa bersahabat.
daun-daun hijau menari karena tertiup angin.
kabut yang tebal pun terangkat ke awan.
pas gue buka helm, gue merasakan kesejukan yang begitu luar biasa.
wooow..
capeknya pun juga luar biasa.
di situasi yang sendu ini, kawan-kawan gue malah terlihat ’sakit’.
david terlihat mengangkat kedua tangannya, mencoba meraba alam sekitar sambil berkata, "peace we along day.." kata itu seperti mantra untuk membisiki angin agar mengantarkan kita ke tempat tujuan.
(semoga dia menyesali perbuatanannya).
raymond, aneh. dia menggerak-gerakkan pantatnya sendiri seperti memperagakkan suatu tragedi yang terjadi di pantatnya itu. mungkin dipantatnya sedang ada pertempuran dasyat antara kentut dan kuman. karena supporter pendukung kuman rusuh, akhirnya raymond bertindak tegas ala pasukan anti huru-hara dengan cara menggesek-gesekkan pantatnya pada jok motor.
kalo akun, lain. pandangan kosongnya memperkuat dugaan gue kalo sebentar lagi dia bakal bilang, "pulang yuk!"
koko, yang diboncengnya juga cuma terlihat netral sambil menyesali perbuatannya, yaitu "ikutan dalam perjalanan bodoh ini."
kalo dicko, masih berdebat sama gue perihal 2 pilihan penting. **melepas jaket hijau atau mati.**
gila aja, dinginnya seanjing-anjing, kok gue disuruh lepas jaket? mati sambil mendesah gara-gara kedinginan kan ga lucu! gue tetep kekeh..
"entar aje ko, kalo ombaknya gue lihat rada gede baru gue lepas jaketnya!" bagaikan perantau dari bekasi (bekasi???), kita teruskan perjalanan tanpa kuatir. di hati kita cuma ada satu kalimat, "selamat datang di pelabuhan ratu". dan kalimat itu yang kita jadikan pegangan hidup sementara.
cahaya lampu berwarna-warni ada didepan. tapi gue hanya bisa memandang dari kejauhan. seperti neon box besar, yang gue harapkan bertuliskan, "selamat datang di pantai pelabuhan ratu." wow, bahagianya kami. disaat-saat yang tidak mendebarkan seperti ini, tiba-tiba kita melihat pom bensin.
yaaa.. ternyata warna-warni itu cuma pom bensin. (arrrgghhh!)
oke, oke..
bersyukur kan?
iyaaa, gue bersyukur.
disitu gue bisa kencing sepuasnya, boker sepuasnya, dan bergumul sepuasnya. ya ya ya..bersyukur.
kita pun kesana.
gue mengisi bensin lagi hingga full.
di pinggir jalan akun, koko, raymond, dan david sedang berbangga dengan motornya yang irit sambil menunggu gue and dicko isi bensin. lalu disitu kita ngobrol sekilas tentang perjalanan tolol ini.
pada situasi itu, koko mengambil kesempatan untuk kencing. beda dengan yang lainnya, dia terlihat lebih comfort kalo kencing dibawah pohon yang ada dipinggir jalan sambil numpang-numpang. (dasar orang kota!)
khayalan gue, mungkin si koko berpikir kalo hantu kuntilanak lebih banyak ada di toilet pom bensin dari pada diatas pohon. makanya dia berspekulasi untuk kencing diatas pohon. mungkin pikiran orang modern yang takut setan, seperti itu. ck!
"setengah jam.
ya, zerry.. ya..
setengah jam lagi kita bisa melihat pantai pelabuhan ratu.
kerahkan seluruh kekuatanmu untuk mencapai pelabuhan ratu.
semangat!" sapa gue terhadap diri sendiri.
kan pas ngisi bensin tadi, gue sempet nanya sama pegawai pom bensinnya, kira-kira berapa menit lagi sampe pelabuhan ratu. katanya pada gue dengan yakin, "setengah jam." berarti, sebentar lagi.
yaa.. sebentar lagi. setengah jam itu kan sebentar.
horeeeee, sebentar lagi kita ke pantai pelabuhan ratu. asik asik asik…:-)
keceriaan gue lahir.
cerianya bagaikan anak kecil yang baru pertama kali ke ancol.
gue membayangkan pasir, desir ombak, penjaga warung, dan penyewa tiker.
ga sabar pula, bikin istana dari pasir, yang disampingnya ada tekstur luna maya pake bikini.
tentu tidak lupa, membuat 2 gunung yang tinggi tepat di dadanya. hahahahaha.
senangnya pagi ini.:-D
waktu kian berjalan.
gue mulai meresapi detik-detik terakhir perjumpaan gue dengan pantai pelabuhan ratu.
hihihi, jadi grogi.
"lho, mana? mana? mana ko pantainya?
kita ga salah jalan kan?"
ini udah setengah jam lebih, tapi kok pantainya ga keliatan.
gue sempet berpikir lagi, jangan-jangan pantai pelabuhan ratu ternyata cuma khalayan belaka.
pom bensin tadi pun cuma mimpi.
"bangun zer, bangun! kita cuma dikelabui peta pulau jawa versi bajakan!"
tapi gue belom menyerah.
mungkin aja, pantai pelabuhan ratu uda ganti nama menjadi pantai pelabuhan ‘duo maia.’ dan salahnya, kita tidak melihat pantai duo maia itu karena ketutupan jenggot ahmad dani yang gimbal.
mungkin aja. mungkin kan? gue terus nge’renungin hal itu bermenit-menit. terus merenung dan meremas otak.
"apa iya, pegawai pom bensin itu berbohong demi menghidupi keluarganya?
enggak kan zer, enggak??"
ternyata dan ternyata, renungan gue itu membuahkan hasil. yaitu, berhasil membuang waktu gue untuk menyesali perjalanan ini. saat gue tengok kearah kiri, itulah pantai pelabuhan ratu yang gue idam-idamkan beberapa jam yang lalu.
pantai pelabuhan ratu.
tanpa pingkan, tanpa mulan, tanpa maia, juga tanpa dhani.
pure, pantai pelabuhan ratu.
begitu indahnya…. woow..
(sayangnya ga ada penjaga pantai seperti di serial ‘baywatch’).
tepat pukul 3 pagi, kita sampai.
gue sempet berencana balik ke pom bensin itu untuk memberitahu suatu fakta kepada pegawainya, bahwa perjalanan dari pom bensin itu ke pantai pelabuhan ratu ternyata memakan waktu 1 jam, bukan setengah jam. tapi gue tunda niat itu, karena leher gue rasanya udah seperti gagal mati gantung diri.
(krueteeekk kruueeteeeekkk).
ya!
warung kopi dipinggir pantai adalah pilihan tepat sebagai tempat meregangkan otot.
mata gue menunjuk kesana.
begitu juga anak-anak yang lain.
tanpa ragu, kita kesana.
lontong, gorengan, dan kacang kulit yang terpampang langsung gue santap tanpa ragu pula.
udah asik ngunyah, gue terdiam.
meniup kopi panas, sambil memandang pantai ternyata moment yang lumayan syahdu.
semyum gue melebar. (padahal ga tau, apa juga yang disenyumin).
tapi bawaannya mau senyuuuuuummm,aja.
desiran ombak kayak sengaja ngelawak gitu khusus buat kedatangan gue.
tanpa basa-basi, gue mencoba menyapa ombak itu.
menghampirinya dengan langkah perlahan.
ketika dekat, gue berlutut diatas pasir lembab, lalu berdoa terus amin!
"wise man said, only fool rush in.. but I cant help fallin in love with you!"
gue sempet nyanyi itu sambil senyum-senyum sendiri.
kenapa yaa?
capek berlutut, terus gue menyilakan kaki gue.
gue nyanyi-nyanyi lagu kesukaan gue sekaligus tutup mata.
dari situ gue menemukan bakat gue yang baru, yaitu bisa menyanyi dipinggir pantai tanpa melihat.
gokil!!!
capek nyanyi, gue diem.
mata gue memandang jauh kedepan, lalu berkata, "how great is Our God!"
kedua tangan gue juga iseng meremas pasir.
"cintanya Tuhan, melebihi banyaknya butiran pasir laut.
dan pengampunan-Nya, adalah bagian dari pasir yang tak terhitung itu."
(kalimat yang gue tangkap saat menggenggam pasir).
tapi lagi asik-asik menyiram rohani sendiri, raymond and diko dateng ngisengin.
bosen gue, cara mereka ngagetin gue itu-itu melulu.
paling "DOOOORRR!!!" doang. ck! ganggu aja.
david and koko malah lagi asik main air laut sampe basah kuyup.
akun, celingak-celinguk kayak nyari cewek yang dateng dari dasar laut.
bicara soal jaket gue yang warna ijo itu, tentu gue telah melepasnya.
yaaa, itung-itung menghormati budaya yang dianut dicko. hahahahahaha,,:-D
gue iseng lagi.
kali ini, gue iseng nutup mata dan konsentrasi pada suara ombak.
suaranya khas.
kalo pake gitar, kayaknya sedap diiringi pake kunci C#Minor7. (sok tau!)
kian lama, suara ombak itu mengeras tapi ga ada feed back. (yaiyaaalah!)
lalu terpikirlah tsunami.
praktis, gue melek.
ternyata, pantai tidak surut jauh ketengah.
berarti aman.
mata gue tutup lagi.
disitu gue menangkap suatu amanat bahwa lagu ada band itu liriknya berat.
"walau badai menghadang, cintaku kan slalu bla,,bla,,bla,,………"
aje gile, suara ombak aje ngeri, apalagi badai beneran. hahahaha:p
semoga ada band tidak nge-gombal.
sepanjang kebodohan kita, sebenarnya ada satu alasan mengapa kita layak disebut "enam pria sakit jiwa."
kepelabuhan ratu, pergi jam 11 malam, tapi pulang jam 5 pagi.
"hello guys, bego ga tuu??"
paskah.
itu alasannya kenapa kita tidak mencari penginapan lalu istirahat.
jam 9 pagi, gue, raymond, akun dan david harus ibadah paskah.
dicko dan koko yang muslim ga mungkin juga nginep berdua disitu lalu membiarkan kita pulang untuk ibadah, lalu balik lagi menjemput mereka.
mau ga mau dong, mereka harus mengerti kondisi ini.
dan memang mereka bisa mengerti.
duuh, begitu indahnya persatuan tanpa memandang perbedaan. (ce’elah):-).
fiyuuuuuhhhh……
apa mau dikata, waktu ga bisa berhenti.
kita harus bergegas pulang.
2 jam di pelabuhan ratu, lumayanlah.
anggep aja kita survei tempat yang ga bakal kita kunjungi lagi dengan cara pulang pergi naek motor.
yaa, anggep aja gitu!
start, jam 5 pagi tepat.
jaket ijo buluk itu jelas gue pake lagi.
kalo emang ratu pantai selatan ngikutin, itu emang dia aja yang kelewat ganjen! hehehe,,
orang dateng kesana sopan kok, gak tepe-tepe.
david and koko malah pusing dengan pasir laut yang ngegelitikin selangkangannya yang lembab karena air laut.
siapa suruh juga main di pantai pagi-pagi buta, ga bawa celana ganti.
begitulah resiko orang yang kekanak-kanakan.
gigi tiga pertama, gue menarik nafas dalam-dalam.
mencoba mengisi tenaga ala dragonball demi perjalanan jauh ini.
demi paskah pula.
"semangat!!!!!!!!!"
tidak melihat sunrise muncul dipantai cukup gue sesali.
tapi tidak ibadah paskah, lebih gue sesali.
langit mulai membiru kayak digebukin satu kampung.
udara yang lebih dingin ga gue pikirin.
yang penting oksigen masih bisa gue hirup.
sempet kebayang ga sii kalo oksigen itu langka?
iye, mati lah kita!
bersyukur deh, kalo Tuhan kita itu ga pelit sama oksigen. hehehehe.
laju gue semakin cepat seiring terangnya dunia ini.
bukannya ga mikirin ke-empat kawan gue dibelakang, tapi gue yakin kalo saling menunggu tidak tepat dalam situasi ini.
yang penting mereka tau jalan pulang, dan jarak gue didepan ga jauh-jauh amat dari mereka.
pikir gue waktu itu, sempit.
perjalanan ini memberikan gue banyak insprassi.
nekat, aneh, bego, tapi lucu juga. hahahaha.
sumpah, gue bakal kangen sama pantai itu.
dari perjalanan singkat, padat, merayap ini pun gue menampung jutaan makna dan tanya (sadis, jutaan..), yang diantaranya:
*) kalo dua, tiga, empat, lima orang bilang "ayo", dan satu orang bilang "berangkat".. kita ga pernah tau setan bilang apa.
*) bisa jadi juga, truk paku bumi itu kepunyaan ‘mak erot. secara panjang banget truknya.
hahahaha, gila. kebayang ga sii ‘mak erot ngurutin truk????
*) didunia ini, banyak yang tak terhitung.
seperti jumlah butiran pasir laut, jumlah hewan yang ada dilaut, jumlah debu yang terhirup, juga seberapa besar kuasa cinta.
*) gue juga bertanya-tanya, apakah ratu pantai selatan pernah ke bikini bottom??
apa sponge bob pacarnya?? taklukkah dia pada jack sparrow??? cantik mana sama titi kamal?? dan sebagainya..
*) dan mungkin ini bagus buat makna terakhir..
"hati-hati dijalan, awas licin berlubang."
hmmmm…
melelahkan.
oya, gue lupa gimana kita sampe.
singkat cerita nii pokoknya, kita berenam sampai dengan bernyawa.
raymond dengan navi nya, david menduduki posisi pertama.
mereka sampai tepat pukul setengah 9 pagi karena handphone-nya yang ga aktif. kenapa gitu?
gue and dicko yang harusnya sampe jam 8, tertunda karena harus putar balik nyusulin akun n koko yang kecelakaan pas dideket-deket sukabumi.
koko memar di kaki, akun 7 jahitan di dagu.
kita sampe rumah jam 10.
gue n akun sampe gereja jam setengah 11, tepat pas ibadah selesai.
david malah ga bisa tidur.
dicko mimpi indah.
koko lupa mandi.
tapi sehari kemudian, kita semua sehat semangat.
akhir kisah ini, adalah awal kisah nanti.
kawanku, sampai jumpa.
peluk, kecup, cium, cupank, ….
*mmmmmuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaahhhh!
-zerry
rada gila sii memang. mending klo rencana nya dari rumah sampe sana terus nginep dihotel berbintang,
berendem aer panas, bangun2 minum teh, abis itu dipijit neng geulis sambil liat bule memanggang badannya yang aduhai..
lahh ini,,
naek motor ber-enam, 3 motor.
berangkat jam 11malam-pulang jam5pagi.
lalu begini lah awal dari penderitaan yang mengasyikan.
10 kilometer pertama, gue seperti sudah mendengar ombak.. padahal baru nyampe cibubur.
suasana hati begitu semangat. sesekali gue bercanda sama kawan yang sekaligus navigator setia gue, dicko harry mukti wibowo.
"ko, jangan tidur.. udah mau sampe!"
sapa gue yang kuatir dia tiba2 menghilang ditelan angin.
raymond ditemani david berada disisi kanan gue bersama megapro kebanggaannya.
berlagak seperti anak-anak brotherhood yang konvoi keliling pulau jawa walau sebenarnya lebih mirip genderuwo baru belajar motor.
lalu dibelakang gue, akun bersama koko yang keliatan seperti kangguru dan anaknya yang lagi naik bom-bom car.
perjalanan mulai terasa jauh dan memuakkan. berusaha berpikir positif, gue mencoba menganggap bahwa debu-debu yang gue hirup sepanjang jalan mengandung caffeine yang tidak menyebabkan kantuk.
tiba-tiba pas sampai bogor, ada razia.
"santai, tenang, kita semua lengkap!"
sapa gue terhadap diri yang parno ini.
"malam pak, tolong surat-suratnya!"
tegur pak polisi, sopan.
"razia ya pak?" tanya dicko yang lebih panik dari gue.
mencoba membantali pertanyaan dicko yang ‘pintar itu’, gue nyeletuk.. "oh, razia pak. saya kira ada syuting film setan gituu.. soalnya banyak lampu-lampu."
singkat cerita, razia berhasil dilewati dengan lancar gara2 STNK dicko yang mati, terlindungi oleh kartu anggota sang ayah. hahaha, polisi pengecut!
kalo gue jadi polisi itu, gue bakal bilang gini, "maaf pak. STNK anda sudah tidak berlaku. jadi, mohon maaf.. silahkan lanjutkan perjalanan anda dengan hati-hati dan tanpa kantuk! mariii.."
kabut mulai menebal.
???
ohh, ternyata itu bukan kabut. itu debu akibat puluhan truk pengangkut paku bumi yang jalannya kayak bekicot lagi menstruasi. sial!
menyalip truk2 itu, sama aja bertaruh nyawa. apalagi, kondisi jalannya hampir sama kayak remaja yang jarang cuci muka.
posisi gue paling depan.
dalam situasi ini, gue sangat tidak sabaran. maklum, alergi debu.:p
akhirnya, dengan gagah berani dan dengan ketampanan yang luar biasa, gue berhasil melewati puluhan truk itu tanpa ampun. gue kebut suzuki satria yang gue gas dengan birahi supaya bisa meninggalkan truk-truk itu hingga jalan terasa tenang.
gue sempet mikir gitu, yang ngangkutin n nurunin paku bumi-paku bumi itu dari truk, siapa yee? secara, paku bumi.
100 ade rai juga bakal kondor kalo ngangkatin gituan. \tapi bodo ahh. gue ga mau banyak mikir!
mungkin aja, paku bumi itu dibikinnya diatas truk, trus nuruninnya didorong pake traktor. logic dong!
keenakan ngebut, 2 motor raymond n akun
ga kliatan. berpikir, mereka ketinggalan
sangat jauh, akhirnya gue bersantai di
warung kopi.
hati kotor gue berkata, jangan2 mereka
berempat sudah rata dengan aspal?!?!?!??
ohhh Tuhan, lindungi mereka dengan adil!
baru asik ngegoda’in embak2 yang jaga, eh mereka uda dateng. feeling gue agak meleset.
akun cuma jatuh ringan gara-gara lubang yang lupa di benerin PEMDA setempat.
raymond, nyaris terlindas oleh truk yang arahnya berlawanan.
lama bercerita, kita lanjutkan perjalanan dengan binal!
thanks God, akhirnya gue bisa membaca plang yang bertuliskan, "pelabuhan ratu, kanan!"
pas disitu, dicko lagi seru-serunya nyerita’in ilmu hitam temannya yang katanya sakti.
"sssttt, udah ahh ceritanya! daerah sini udah rawan!" kata dicko, sambil memeluk gue erat.:p
"knapa ko, lo takut nyi blorong denger yee? hahahahahaha!" sambung gue.
"bego, jaket lo ijo. nah lo!" tegur dicko, serius.
tiba-tiba gue mencipok bau-bau aneh.
seperti bau melati, bau sampah, bau debu, dan bau tanah. (halah, kayak tau aja bau tanah tu kayak gimana).
bau itu jelas mengganggu indera pencipokan gue.
bau yang paling nyanterrr adalah bau bunga melati.
serius gue..
tapi semakin lama nyanter, bau itu semakin mengarah ke wangi sesajen.
pikir gue, jangan-jangan itu adalah wangi parfum gue yang udah kadarluarsa.
tapi ternyata bukan.
aneh..
praktis, bulu ketek gue merinding.
seperti ada yang mau menghampiri gue dari atas pohon, kemudian menerkam gue dengan lidah yang menjulur keluar.
hiiiiii!
ga bener nii suasana.
akhirnya gue menancap gas dengan tanpa iba sedikitpun.
kalau memang ratu pantai selatan menghadang gue didepan, biar gue tabrak dengan kecepatan tinggi!
toh, ga mungkin juga kan dia bisa mati gara-gara ditabrak motor.(pikir gue, sempit).
lama ngebut, jalanan mulai berlubang.
"apa jalan yang rusak ini sengaja dibiarkan oleh pemerintah untuk memancing supaya wisatawan kapok?"
tanya gue dalam hati.
lalu gue mengurangi kecepatan.
dengan asumsi, ratu pantai selatan itu ga mungkin bisa mengejar motor 2-tak ini dengan kereta kuda yang kuno.
wangi aneh itu pun telah lenyap.
yang gue lihat hanya kabut tebal yang dari tadi iseng ngetes jarak pandang gue. ck!
tapi dalam hati gue berkata, "amaaaan!"
sayangnya, laju motor yang gue tunggangi terlalu cepat, sampai-sampai 4 rekan tour gue itu jauh tertinggal. seketika, gue memelan.
"kemana yaa tu mereka."
gue mencoba menunggu dengan laju kecepatan 10km/jam.
rada sama cepetnya kayak kecepatan sepeda balita roda tiga, yang digenjot sekuat tenaga.
tapi mereka belum muncul juga.
pengen berhenti, kuatir terlalu membuka harapan buat rampok.
gue tetep jalan santai.
jangan sampe aja terjadi hal-hal yang tidak terlalu diharapkan, terjadi pada mereka.
misalnya:
ditengah perjalanan, tiba-tiba mereka nemu dompet yang terjatuh ditengah jalan yang isinya jutaan rupiah. karena kaget dan grogi melihat uang sebanyak itu, akhirnya mereka menghamburkannya ditempat prostitusi terdekat. dan tanpa mengajak gue!!! (penting gitu??)
atau mungkin salah satu dari mereka motornya mogok. karena frustasi dengan kondisi jalanan yang gelap gulita dan motor yang tak kunjung hidup, akhirnya mereka mabok bensin hingga menjatuhkan diri bersama ke jurang. tapi, bisa juga mereka dicegat rombongan perampok. pas perampok mencoba merampas harta mereka yang minim, ratu pantai selatan datang menolong bagaikan panji manusia milenium. dan sebagai tanda terima kasih, mereka rela dijadikan berondong, dan hidup didasar laut. selamanya.
(halah, mulai ngawur..)
tapi mungkin, pemikiran gue yang ini lebih tajam dan realistis. jadi…., mereka menganggap bahwasanya gue tertinggal jauh dibelakang. karena pikirnya gue lama muncul, akhirnya mereka putar balik demi keselamatan gue dan berusaha mencari gue keseluruh penjuru desa.
begooooo!!!
lama merenungkan beberapa hal itu, sekonyong-konyong mereka muncul.
pemikiran gue salah. mereka sempet marah-marah gitu ke gue, karena gue jalannya ga santai dan ugal-ugalan. mencoba lebih dewasa, akhirnya gue memposisikan diri paling belakang, lalu melaju dengan kompromi.
ngeeeeeeeeng!(bunyi motor gue yang hampir kena reumatik).
sekonyong-konyong, suasana berubah drastis.
alam terasa bersahabat.
daun-daun hijau menari karena tertiup angin.
kabut yang tebal pun terangkat ke awan.
pas gue buka helm, gue merasakan kesejukan yang begitu luar biasa.
wooow..
capeknya pun juga luar biasa.
di situasi yang sendu ini, kawan-kawan gue malah terlihat ’sakit’.
david terlihat mengangkat kedua tangannya, mencoba meraba alam sekitar sambil berkata, "peace we along day.." kata itu seperti mantra untuk membisiki angin agar mengantarkan kita ke tempat tujuan.
(semoga dia menyesali perbuatanannya).
raymond, aneh. dia menggerak-gerakkan pantatnya sendiri seperti memperagakkan suatu tragedi yang terjadi di pantatnya itu. mungkin dipantatnya sedang ada pertempuran dasyat antara kentut dan kuman. karena supporter pendukung kuman rusuh, akhirnya raymond bertindak tegas ala pasukan anti huru-hara dengan cara menggesek-gesekkan pantatnya pada jok motor.
kalo akun, lain. pandangan kosongnya memperkuat dugaan gue kalo sebentar lagi dia bakal bilang, "pulang yuk!"
koko, yang diboncengnya juga cuma terlihat netral sambil menyesali perbuatannya, yaitu "ikutan dalam perjalanan bodoh ini."
kalo dicko, masih berdebat sama gue perihal 2 pilihan penting. **melepas jaket hijau atau mati.**
gila aja, dinginnya seanjing-anjing, kok gue disuruh lepas jaket? mati sambil mendesah gara-gara kedinginan kan ga lucu! gue tetep kekeh..
"entar aje ko, kalo ombaknya gue lihat rada gede baru gue lepas jaketnya!" bagaikan perantau dari bekasi (bekasi???), kita teruskan perjalanan tanpa kuatir. di hati kita cuma ada satu kalimat, "selamat datang di pelabuhan ratu". dan kalimat itu yang kita jadikan pegangan hidup sementara.
cahaya lampu berwarna-warni ada didepan. tapi gue hanya bisa memandang dari kejauhan. seperti neon box besar, yang gue harapkan bertuliskan, "selamat datang di pantai pelabuhan ratu." wow, bahagianya kami. disaat-saat yang tidak mendebarkan seperti ini, tiba-tiba kita melihat pom bensin.
yaaa.. ternyata warna-warni itu cuma pom bensin. (arrrgghhh!)
oke, oke..
bersyukur kan?
iyaaa, gue bersyukur.
disitu gue bisa kencing sepuasnya, boker sepuasnya, dan bergumul sepuasnya. ya ya ya..bersyukur.
kita pun kesana.
gue mengisi bensin lagi hingga full.
di pinggir jalan akun, koko, raymond, dan david sedang berbangga dengan motornya yang irit sambil menunggu gue and dicko isi bensin. lalu disitu kita ngobrol sekilas tentang perjalanan tolol ini.
pada situasi itu, koko mengambil kesempatan untuk kencing. beda dengan yang lainnya, dia terlihat lebih comfort kalo kencing dibawah pohon yang ada dipinggir jalan sambil numpang-numpang. (dasar orang kota!)
khayalan gue, mungkin si koko berpikir kalo hantu kuntilanak lebih banyak ada di toilet pom bensin dari pada diatas pohon. makanya dia berspekulasi untuk kencing diatas pohon. mungkin pikiran orang modern yang takut setan, seperti itu. ck!
"setengah jam.
ya, zerry.. ya..
setengah jam lagi kita bisa melihat pantai pelabuhan ratu.
kerahkan seluruh kekuatanmu untuk mencapai pelabuhan ratu.
semangat!" sapa gue terhadap diri sendiri.
kan pas ngisi bensin tadi, gue sempet nanya sama pegawai pom bensinnya, kira-kira berapa menit lagi sampe pelabuhan ratu. katanya pada gue dengan yakin, "setengah jam." berarti, sebentar lagi.
yaa.. sebentar lagi. setengah jam itu kan sebentar.
horeeeee, sebentar lagi kita ke pantai pelabuhan ratu. asik asik asik…:-)
keceriaan gue lahir.
cerianya bagaikan anak kecil yang baru pertama kali ke ancol.
gue membayangkan pasir, desir ombak, penjaga warung, dan penyewa tiker.
ga sabar pula, bikin istana dari pasir, yang disampingnya ada tekstur luna maya pake bikini.
tentu tidak lupa, membuat 2 gunung yang tinggi tepat di dadanya. hahahahaha.
senangnya pagi ini.:-D
waktu kian berjalan.
gue mulai meresapi detik-detik terakhir perjumpaan gue dengan pantai pelabuhan ratu.
hihihi, jadi grogi.
"lho, mana? mana? mana ko pantainya?
kita ga salah jalan kan?"
ini udah setengah jam lebih, tapi kok pantainya ga keliatan.
gue sempet berpikir lagi, jangan-jangan pantai pelabuhan ratu ternyata cuma khalayan belaka.
pom bensin tadi pun cuma mimpi.
"bangun zer, bangun! kita cuma dikelabui peta pulau jawa versi bajakan!"
tapi gue belom menyerah.
mungkin aja, pantai pelabuhan ratu uda ganti nama menjadi pantai pelabuhan ‘duo maia.’ dan salahnya, kita tidak melihat pantai duo maia itu karena ketutupan jenggot ahmad dani yang gimbal.
mungkin aja. mungkin kan? gue terus nge’renungin hal itu bermenit-menit. terus merenung dan meremas otak.
"apa iya, pegawai pom bensin itu berbohong demi menghidupi keluarganya?
enggak kan zer, enggak??"
ternyata dan ternyata, renungan gue itu membuahkan hasil. yaitu, berhasil membuang waktu gue untuk menyesali perjalanan ini. saat gue tengok kearah kiri, itulah pantai pelabuhan ratu yang gue idam-idamkan beberapa jam yang lalu.
pantai pelabuhan ratu.
tanpa pingkan, tanpa mulan, tanpa maia, juga tanpa dhani.
pure, pantai pelabuhan ratu.
begitu indahnya…. woow..
(sayangnya ga ada penjaga pantai seperti di serial ‘baywatch’).
tepat pukul 3 pagi, kita sampai.
gue sempet berencana balik ke pom bensin itu untuk memberitahu suatu fakta kepada pegawainya, bahwa perjalanan dari pom bensin itu ke pantai pelabuhan ratu ternyata memakan waktu 1 jam, bukan setengah jam. tapi gue tunda niat itu, karena leher gue rasanya udah seperti gagal mati gantung diri.
(krueteeekk kruueeteeeekkk).
ya!
warung kopi dipinggir pantai adalah pilihan tepat sebagai tempat meregangkan otot.
mata gue menunjuk kesana.
begitu juga anak-anak yang lain.
tanpa ragu, kita kesana.
lontong, gorengan, dan kacang kulit yang terpampang langsung gue santap tanpa ragu pula.
udah asik ngunyah, gue terdiam.
meniup kopi panas, sambil memandang pantai ternyata moment yang lumayan syahdu.
semyum gue melebar. (padahal ga tau, apa juga yang disenyumin).
tapi bawaannya mau senyuuuuuummm,aja.
desiran ombak kayak sengaja ngelawak gitu khusus buat kedatangan gue.
tanpa basa-basi, gue mencoba menyapa ombak itu.
menghampirinya dengan langkah perlahan.
ketika dekat, gue berlutut diatas pasir lembab, lalu berdoa terus amin!
"wise man said, only fool rush in.. but I cant help fallin in love with you!"
gue sempet nyanyi itu sambil senyum-senyum sendiri.
kenapa yaa?
capek berlutut, terus gue menyilakan kaki gue.
gue nyanyi-nyanyi lagu kesukaan gue sekaligus tutup mata.
dari situ gue menemukan bakat gue yang baru, yaitu bisa menyanyi dipinggir pantai tanpa melihat.
gokil!!!
capek nyanyi, gue diem.
mata gue memandang jauh kedepan, lalu berkata, "how great is Our God!"
kedua tangan gue juga iseng meremas pasir.
"cintanya Tuhan, melebihi banyaknya butiran pasir laut.
dan pengampunan-Nya, adalah bagian dari pasir yang tak terhitung itu."
(kalimat yang gue tangkap saat menggenggam pasir).
tapi lagi asik-asik menyiram rohani sendiri, raymond and diko dateng ngisengin.
bosen gue, cara mereka ngagetin gue itu-itu melulu.
paling "DOOOORRR!!!" doang. ck! ganggu aja.
david and koko malah lagi asik main air laut sampe basah kuyup.
akun, celingak-celinguk kayak nyari cewek yang dateng dari dasar laut.
bicara soal jaket gue yang warna ijo itu, tentu gue telah melepasnya.
yaaa, itung-itung menghormati budaya yang dianut dicko. hahahahahaha,,:-D
gue iseng lagi.
kali ini, gue iseng nutup mata dan konsentrasi pada suara ombak.
suaranya khas.
kalo pake gitar, kayaknya sedap diiringi pake kunci C#Minor7. (sok tau!)
kian lama, suara ombak itu mengeras tapi ga ada feed back. (yaiyaaalah!)
lalu terpikirlah tsunami.
praktis, gue melek.
ternyata, pantai tidak surut jauh ketengah.
berarti aman.
mata gue tutup lagi.
disitu gue menangkap suatu amanat bahwa lagu ada band itu liriknya berat.
"walau badai menghadang, cintaku kan slalu bla,,bla,,bla,,………"
aje gile, suara ombak aje ngeri, apalagi badai beneran. hahahaha:p
semoga ada band tidak nge-gombal.
sepanjang kebodohan kita, sebenarnya ada satu alasan mengapa kita layak disebut "enam pria sakit jiwa."
kepelabuhan ratu, pergi jam 11 malam, tapi pulang jam 5 pagi.
"hello guys, bego ga tuu??"
paskah.
itu alasannya kenapa kita tidak mencari penginapan lalu istirahat.
jam 9 pagi, gue, raymond, akun dan david harus ibadah paskah.
dicko dan koko yang muslim ga mungkin juga nginep berdua disitu lalu membiarkan kita pulang untuk ibadah, lalu balik lagi menjemput mereka.
mau ga mau dong, mereka harus mengerti kondisi ini.
dan memang mereka bisa mengerti.
duuh, begitu indahnya persatuan tanpa memandang perbedaan. (ce’elah):-).
fiyuuuuuhhhh……
apa mau dikata, waktu ga bisa berhenti.
kita harus bergegas pulang.
2 jam di pelabuhan ratu, lumayanlah.
anggep aja kita survei tempat yang ga bakal kita kunjungi lagi dengan cara pulang pergi naek motor.
yaa, anggep aja gitu!
start, jam 5 pagi tepat.
jaket ijo buluk itu jelas gue pake lagi.
kalo emang ratu pantai selatan ngikutin, itu emang dia aja yang kelewat ganjen! hehehe,,
orang dateng kesana sopan kok, gak tepe-tepe.
david and koko malah pusing dengan pasir laut yang ngegelitikin selangkangannya yang lembab karena air laut.
siapa suruh juga main di pantai pagi-pagi buta, ga bawa celana ganti.
begitulah resiko orang yang kekanak-kanakan.
gigi tiga pertama, gue menarik nafas dalam-dalam.
mencoba mengisi tenaga ala dragonball demi perjalanan jauh ini.
demi paskah pula.
"semangat!!!!!!!!!"
tidak melihat sunrise muncul dipantai cukup gue sesali.
tapi tidak ibadah paskah, lebih gue sesali.
langit mulai membiru kayak digebukin satu kampung.
udara yang lebih dingin ga gue pikirin.
yang penting oksigen masih bisa gue hirup.
sempet kebayang ga sii kalo oksigen itu langka?
iye, mati lah kita!
bersyukur deh, kalo Tuhan kita itu ga pelit sama oksigen. hehehehe.
laju gue semakin cepat seiring terangnya dunia ini.
bukannya ga mikirin ke-empat kawan gue dibelakang, tapi gue yakin kalo saling menunggu tidak tepat dalam situasi ini.
yang penting mereka tau jalan pulang, dan jarak gue didepan ga jauh-jauh amat dari mereka.
pikir gue waktu itu, sempit.
perjalanan ini memberikan gue banyak insprassi.
nekat, aneh, bego, tapi lucu juga. hahahaha.
sumpah, gue bakal kangen sama pantai itu.
dari perjalanan singkat, padat, merayap ini pun gue menampung jutaan makna dan tanya (sadis, jutaan..), yang diantaranya:
*) kalo dua, tiga, empat, lima orang bilang "ayo", dan satu orang bilang "berangkat".. kita ga pernah tau setan bilang apa.
*) bisa jadi juga, truk paku bumi itu kepunyaan ‘mak erot. secara panjang banget truknya.
hahahaha, gila. kebayang ga sii ‘mak erot ngurutin truk????
*) didunia ini, banyak yang tak terhitung.
seperti jumlah butiran pasir laut, jumlah hewan yang ada dilaut, jumlah debu yang terhirup, juga seberapa besar kuasa cinta.
*) gue juga bertanya-tanya, apakah ratu pantai selatan pernah ke bikini bottom??
apa sponge bob pacarnya?? taklukkah dia pada jack sparrow??? cantik mana sama titi kamal?? dan sebagainya..
*) dan mungkin ini bagus buat makna terakhir..
"hati-hati dijalan, awas licin berlubang."
hmmmm…
melelahkan.
oya, gue lupa gimana kita sampe.
singkat cerita nii pokoknya, kita berenam sampai dengan bernyawa.
raymond dengan navi nya, david menduduki posisi pertama.
mereka sampai tepat pukul setengah 9 pagi karena handphone-nya yang ga aktif. kenapa gitu?
gue and dicko yang harusnya sampe jam 8, tertunda karena harus putar balik nyusulin akun n koko yang kecelakaan pas dideket-deket sukabumi.
koko memar di kaki, akun 7 jahitan di dagu.
kita sampe rumah jam 10.
gue n akun sampe gereja jam setengah 11, tepat pas ibadah selesai.
david malah ga bisa tidur.
dicko mimpi indah.
koko lupa mandi.
tapi sehari kemudian, kita semua sehat semangat.
akhir kisah ini, adalah awal kisah nanti.
kawanku, sampai jumpa.
peluk, kecup, cium, cupank, ….
*mmmmmuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaahhhh!
-zerry
Nyokap Tercinta (Part 4)
"Itu rambut kenapa jadi berdarah gitu, Mah?" Tanya gue. Aneh aja gue pikir. Baru balik kampus, tiba-tiba gue sampe rumah, ngeliat nyokap gue sendiri, rambutnya uda kayak ketiban matahari. Baru gue mau bilang, "Mah, kalo lagi dapet, ya pake pembalut. bukan di lap pake rambut gitu.." eh ternyata salah. Nyokap baru aja nge-cat rambutnya jadi merah. Mungkin supaya uban-ubannya tidak nampak jelas. Ide bagus gue pikir. Cuma mungkin gue bertanya-tanya, "Kenapa juga mesti merah merona???"
Gue tanya lagi..
"Khan kampanye masih lama, Mah.. Kenapa jadi serba PDIP gitu rambutnya."
Nyokap berbalik arah, ngambil remote TV, berniat ngelempar ke muka gue. Untung, gue langsung ngabur ke kamar. Dari kamar gue teriak, "KALO KERAMAS, JANGAN PAKE BETHADINE!" Kikiikikikikikikikik.
Ke'esokan harinya.
"Mah, kok sekarang coklat? Luntur ya?" Gue heran. Perasaan baru kemaren gue liat rambut beliau berwarna merah, eh sekarang kenapa jadi coklat. Mungkin nyokap keseringan ngaca. Jadi karena merasa terganggu oleh penampilannya sendiri, jadi ia berusaha mengoreksi ulang dengan merubah warnanya jadi coklat. "Better lah, Mam." Comment gue.
Tanggapan nyokap datar. "Ini salah beli warna. Mamah kira warna Oranye."
Arrgggh... Gue langsung bersyukur ria. Untung nyokap kurang ahli masalah warna. Coba kalo dia beli warna oranye, bisa-bisa dia dikira cebok pake rambut. Setelah gue ngedenger tanggapannya, gue nelen ludah.
Nyokap emang doyan ngurusin rambutnya. Tapi masalah style, dia ngerasa punya gaya sendiri yang lebih langka. Ga pernah mau dikoreksi. Apa yang ada di mata dia bagus, yaudah, dia laksanakan. Ga peduli komentar orang. Bagus sih.. cuma kadang, selera fashion dia suka kelewat batas. hahahha.
"Yaudah, gitu aja, Mam.. bagus. dari pada merah kayak kemarin." Comment gue kali ini positif. Emang lumayan lah gue lihat. Nyokap lumayan ada kemajuan. "Cuma rambutnya pendek'in dikit lah.. ini khan tahun 2009. Jamannya bondol." Tambah gue.
"O YEAH??" Nyokap antusias. Gimana enggak.. gue rasa, rambutnya kali ini mekar bagai bunga matahari yang kesamber geledek. Kalo kemaren warna merah, udah mirip markas semut rang-rang. Kalo sekarang, better lah.. mirip meriam belina. hahahhahahaha.
"Iya, pendekin lah.. dikit." Saran gue singkat.
"Pendekin Kayak apa?" Tanya nya semangat. Pikiran gue bertanya-tanya, tumben dia peduli saran gue.
"Pendekin aja kayak Ucok Baba!" Celetuk gue, bercanda.
"Serius, nyemot!" Nyokap kesel.
"yaaa.. pendekin lah pokoknya."
Setelah bicara begitu, nyokap ngangguk-ngangguk. Oh, dia pasti mengerti maksud gue. Yasudah, gue cabut.
Lagi, Keesokan harinya.
Gue baru balik kampus.
"ASTAGA, IBUNDA!!!!" Gue kaget.
"Kenapa? Keren ya?" Ia tersenyum-senyum ria di depan kaca.
"Keren dari Hongkong!" Gubris gue. Rambutnya sih bagus, pendek. Tapi warnanya oranye beneran. Bukan maen abstraknya. Kalo dari depan, gue lihatnya bagai buntut kuda. Pantat bedarah. Parah.
Gue ga kuat ngeliatnya. Rasa-rasanya gue pengen masukin oli mesin di dalam kemasan shampoo nya. Biar pas pagi-pagi keramas, rambutnya jadi hitam. Tapi ga mungkin. Gue berubah panik. Panik kalo tiba-tiba nyokap keluar rumah, laler pada ngerubunin palanya.Di kira E'E kucing. Duh.. mama tercinta!
Ke'esokan harinya, rambutnya hitam.
bersyukur gue. sekarang, dia jadi Mama paling cantik, sekaligus paling ganteng sedunia.
I LOVE YOU MAM. U NEVER KNOW THAT! HAHAHAHAHAHAHHAHA
Gue tanya lagi..
"Khan kampanye masih lama, Mah.. Kenapa jadi serba PDIP gitu rambutnya."
Nyokap berbalik arah, ngambil remote TV, berniat ngelempar ke muka gue. Untung, gue langsung ngabur ke kamar. Dari kamar gue teriak, "KALO KERAMAS, JANGAN PAKE BETHADINE!" Kikiikikikikikikikik.
Ke'esokan harinya.
"Mah, kok sekarang coklat? Luntur ya?" Gue heran. Perasaan baru kemaren gue liat rambut beliau berwarna merah, eh sekarang kenapa jadi coklat. Mungkin nyokap keseringan ngaca. Jadi karena merasa terganggu oleh penampilannya sendiri, jadi ia berusaha mengoreksi ulang dengan merubah warnanya jadi coklat. "Better lah, Mam." Comment gue.
Tanggapan nyokap datar. "Ini salah beli warna. Mamah kira warna Oranye."
Arrgggh... Gue langsung bersyukur ria. Untung nyokap kurang ahli masalah warna. Coba kalo dia beli warna oranye, bisa-bisa dia dikira cebok pake rambut. Setelah gue ngedenger tanggapannya, gue nelen ludah.
Nyokap emang doyan ngurusin rambutnya. Tapi masalah style, dia ngerasa punya gaya sendiri yang lebih langka. Ga pernah mau dikoreksi. Apa yang ada di mata dia bagus, yaudah, dia laksanakan. Ga peduli komentar orang. Bagus sih.. cuma kadang, selera fashion dia suka kelewat batas. hahahha.
"Yaudah, gitu aja, Mam.. bagus. dari pada merah kayak kemarin." Comment gue kali ini positif. Emang lumayan lah gue lihat. Nyokap lumayan ada kemajuan. "Cuma rambutnya pendek'in dikit lah.. ini khan tahun 2009. Jamannya bondol." Tambah gue.
"O YEAH??" Nyokap antusias. Gimana enggak.. gue rasa, rambutnya kali ini mekar bagai bunga matahari yang kesamber geledek. Kalo kemaren warna merah, udah mirip markas semut rang-rang. Kalo sekarang, better lah.. mirip meriam belina. hahahhahahaha.
"Iya, pendekin lah.. dikit." Saran gue singkat.
"Pendekin Kayak apa?" Tanya nya semangat. Pikiran gue bertanya-tanya, tumben dia peduli saran gue.
"Pendekin aja kayak Ucok Baba!" Celetuk gue, bercanda.
"Serius, nyemot!" Nyokap kesel.
"yaaa.. pendekin lah pokoknya."
Setelah bicara begitu, nyokap ngangguk-ngangguk. Oh, dia pasti mengerti maksud gue. Yasudah, gue cabut.
Lagi, Keesokan harinya.
Gue baru balik kampus.
"ASTAGA, IBUNDA!!!!" Gue kaget.
"Kenapa? Keren ya?" Ia tersenyum-senyum ria di depan kaca.
"Keren dari Hongkong!" Gubris gue. Rambutnya sih bagus, pendek. Tapi warnanya oranye beneran. Bukan maen abstraknya. Kalo dari depan, gue lihatnya bagai buntut kuda. Pantat bedarah. Parah.
Gue ga kuat ngeliatnya. Rasa-rasanya gue pengen masukin oli mesin di dalam kemasan shampoo nya. Biar pas pagi-pagi keramas, rambutnya jadi hitam. Tapi ga mungkin. Gue berubah panik. Panik kalo tiba-tiba nyokap keluar rumah, laler pada ngerubunin palanya.Di kira E'E kucing. Duh.. mama tercinta!
Ke'esokan harinya, rambutnya hitam.
bersyukur gue. sekarang, dia jadi Mama paling cantik, sekaligus paling ganteng sedunia.
I LOVE YOU MAM. U NEVER KNOW THAT! HAHAHAHAHAHAHHAHA
Sebenarnya, gerombolan aksara sudah tidak sabar untuk menari-nari
sampai mereka sudah berancang-ancang difikiranku
dan mengancam jari jemariku
seakan berkata, jika aku tidak menulis, maka inspirasi akan meledak di arteri dan vena sehingga cinta yang kuanggap menara, bisa berubah menjadi puing-puing
tapi entah mengapa,
sementara ini mata telah menjadi subtitusi
kedua bolanya asyik melempar 26 karakter impresif tanpa verbal
sehingga rekan didekatnya cuma bisa me-nganga ria
ah, aku memang rindu menulis
terlebih lagi sang penulis
sekarang biarlah puisi ini di anggap murah
yang penting khan aku tidak menjualnya
ya sudah..
menarilah lagi laskar aksara
lagi dan lagi selagi hati yang jadi kendali
1 Maret 2009,
di Kursi Imajinasi..
Zarry Hendrik seperti biasa
sampai mereka sudah berancang-ancang difikiranku
dan mengancam jari jemariku
seakan berkata, jika aku tidak menulis, maka inspirasi akan meledak di arteri dan vena sehingga cinta yang kuanggap menara, bisa berubah menjadi puing-puing
tapi entah mengapa,
sementara ini mata telah menjadi subtitusi
kedua bolanya asyik melempar 26 karakter impresif tanpa verbal
sehingga rekan didekatnya cuma bisa me-nganga ria
ah, aku memang rindu menulis
terlebih lagi sang penulis
sekarang biarlah puisi ini di anggap murah
yang penting khan aku tidak menjualnya
ya sudah..
menarilah lagi laskar aksara
lagi dan lagi selagi hati yang jadi kendali
1 Maret 2009,
di Kursi Imajinasi..
Zarry Hendrik seperti biasa
Agneshia Putri
Kemarin-kemarin aku sedang beruntung.
Teman, siapa yang percaya, si mirip matahari pernah berada dipinggiran lampu merah?
Awalnya aku juga tidak percaya.
Aku sempat mengira bahwa disana hanyalah sebuah sessi pemotretan victoria secret edisi busana tropis, atau mungkin kunjungan miss universe ke pusat-pusat keramaian.
Tapi aneh. Hari itu lebih condong kepada fenomena gejala alam, ketika matahari berada sejengkal dari daya fikir kaum-kaum adam.. Bagaimana aku tidak 'eureka'!
Tapi tidak mungkin, bahwa hingar-bingar debu pusat kota adalah latar terbaik untuknya..
Aku pasti bergurau.
bukankah terik siang bolong akan menggores kulit-kulitnya yang tak memiliki keluhan? ya setidaknya, metropolitan menjadi terlalu bising untuk dentingan syahdu nada cara jalannya. Ditambah lagi, lalu lalang sepeda motor ditengah egoisitas, akan membuat rambutnya kering. Adalah tidak mungkin jika dia adalah nyata. Pasti aku hanya kelelahan karena ujian yang mengejangkan arteri. Sampai-sampai aku jadi merasa terlalu beruntung untuk bisa melihat ciptaan-Nya yang paling jarang.
Tapi hari ini aku diterjangnya lagi, untuk kedua kalinya.
Nyata.
Kali ini aku yakin bahwa aku tidak berada dalam suatu pameran busana, atau reality show rekayasa. Hanya sayangnya, aku baru sadar didetik-detik setelah dia lenyap seperti uap. Sial..
sekarang masuk akal. Satu detik diterjang matanya saja, sudah terasa lebih teduh dari taman gantung Babilonia. Jadi, mungkin-mungkin saja, warna kuning yang juga kulihat barusan, adalah si mirip matahari yang kulihat berjalan dipinggir trotoar.
Hebat.
Jalan becek, belok penuh tanah dan kubangan, baginya adalah catwalk.
Terik menyengat, memancing keringat, untuknya adalah lighting.
walau mata paling bodoh yang aku pancarkan, hanyalah figuran, tapi mungkin dia boleh tahu, bahwa huruf aneh, kalimat abstrak tak karuan ini, adalah puisi.
Ya teman..
warna kuning oblong yang kau kenakan hari ini, lebih terang dari matahari..
sampai-sampai entah warna apa raut wajahku tadi?! :)
Jakarta, sekian-sekian-sekian.
Zarry Hendrik
Teman, siapa yang percaya, si mirip matahari pernah berada dipinggiran lampu merah?
Awalnya aku juga tidak percaya.
Aku sempat mengira bahwa disana hanyalah sebuah sessi pemotretan victoria secret edisi busana tropis, atau mungkin kunjungan miss universe ke pusat-pusat keramaian.
Tapi aneh. Hari itu lebih condong kepada fenomena gejala alam, ketika matahari berada sejengkal dari daya fikir kaum-kaum adam.. Bagaimana aku tidak 'eureka'!
Tapi tidak mungkin, bahwa hingar-bingar debu pusat kota adalah latar terbaik untuknya..
Aku pasti bergurau.
bukankah terik siang bolong akan menggores kulit-kulitnya yang tak memiliki keluhan? ya setidaknya, metropolitan menjadi terlalu bising untuk dentingan syahdu nada cara jalannya. Ditambah lagi, lalu lalang sepeda motor ditengah egoisitas, akan membuat rambutnya kering. Adalah tidak mungkin jika dia adalah nyata. Pasti aku hanya kelelahan karena ujian yang mengejangkan arteri. Sampai-sampai aku jadi merasa terlalu beruntung untuk bisa melihat ciptaan-Nya yang paling jarang.
Tapi hari ini aku diterjangnya lagi, untuk kedua kalinya.
Nyata.
Kali ini aku yakin bahwa aku tidak berada dalam suatu pameran busana, atau reality show rekayasa. Hanya sayangnya, aku baru sadar didetik-detik setelah dia lenyap seperti uap. Sial..
sekarang masuk akal. Satu detik diterjang matanya saja, sudah terasa lebih teduh dari taman gantung Babilonia. Jadi, mungkin-mungkin saja, warna kuning yang juga kulihat barusan, adalah si mirip matahari yang kulihat berjalan dipinggir trotoar.
Hebat.
Jalan becek, belok penuh tanah dan kubangan, baginya adalah catwalk.
Terik menyengat, memancing keringat, untuknya adalah lighting.
walau mata paling bodoh yang aku pancarkan, hanyalah figuran, tapi mungkin dia boleh tahu, bahwa huruf aneh, kalimat abstrak tak karuan ini, adalah puisi.
Ya teman..
warna kuning oblong yang kau kenakan hari ini, lebih terang dari matahari..
sampai-sampai entah warna apa raut wajahku tadi?! :)
Jakarta, sekian-sekian-sekian.
Zarry Hendrik
Aku Menulis Lagi
Sudah berapa lama jariku hibernasi kawan?
Ya. Sudah jarang aku tidak menyapamu di notifikasi.
Karena dengar,
Belakanganan ini aku jadi sulit sekali menulis dan entah kenapa..
Otakku kusut menciut seperti takut kepada suara kentut semut. Hal ini menyebalkan jika kau merasa bahwa menulis adalah nyawamu.
Dimana mereka? Huruf-huruf nakal itu seperti bersembunyi disela-sela rambut Joshumbrella.
Tidak! Ini bukan karena aku terbuai piringan centil Louis Sangki, atau dibawa kemilau taring-taring Reza Putra Andhana. Aku seperti tahu tetapi tidak tahu. Hal ini membuat aku gemas menyentil telinga Richard Dawkins yang menulis logika diatas kaca. Tapi apa kabarnya Andrea Hirata ya? Bahkan aku sampai tidak tahu kalau Kambing Jantan sudah difilemkan.
Sumpah iya, aku rindu sekali menulis. Kangen pada cerita yang isinya seperti kerupuk yang baru diangkat dari atas wajan. Garing, tapi jika sendiri sepi aku membacanya, aku seperti sudah 13 tahun menderita sakit jiwa. Kau tahu bagaimana aku merasa betapa lucunya ceritaku? Coba bayangkan saja jika rambut Poppy Septiani Putri dikepang menjadi tujuh belas! Nah, begitu lucunya. :)
Kawan, bagaimana kalau menulis memang adalah nyawaku?
Jantungku terletak di jari-jemariku, dan mataku adalah hatinya. Sedangkan kepalaku, adalah dunia. Wah, gila! Aku pasti gila, seperti jika Raymond Gideon melihat Luna Maya. Tapi biarlah.. Aku yakin cinta mengintipku dari kejauhan sana. Tertawa geli melihatku terkatung-katung oleh ombak euforia Hawa sambil membolak-balik lembarku yang maya, menungguku dibawah tudung sayap malaikat, tetapi berdoa agar aku tidak gila dan meninggalkannya. Nanti ketika aku mendarat dengan lesuh, seketika dia mengambil ancang-ancang untuk menjewerku, tetapi matanya tak kuasa untuk bilang cinta. :)
Kalau begitu, dorong aku ke atas panggung. Kadang paras yang menyerempet hollywood ini, bukan jaminan aku adalah pemalu.
Kawan, singkat cerita, aku menulis lagi.
Zarry Hendrik
"aku itu sangat pelupa.. makanya aku menulis."
Ya. Sudah jarang aku tidak menyapamu di notifikasi.
Karena dengar,
Belakanganan ini aku jadi sulit sekali menulis dan entah kenapa..
Otakku kusut menciut seperti takut kepada suara kentut semut. Hal ini menyebalkan jika kau merasa bahwa menulis adalah nyawamu.
Dimana mereka? Huruf-huruf nakal itu seperti bersembunyi disela-sela rambut Joshumbrella.
Tidak! Ini bukan karena aku terbuai piringan centil Louis Sangki, atau dibawa kemilau taring-taring Reza Putra Andhana. Aku seperti tahu tetapi tidak tahu. Hal ini membuat aku gemas menyentil telinga Richard Dawkins yang menulis logika diatas kaca. Tapi apa kabarnya Andrea Hirata ya? Bahkan aku sampai tidak tahu kalau Kambing Jantan sudah difilemkan.
Sumpah iya, aku rindu sekali menulis. Kangen pada cerita yang isinya seperti kerupuk yang baru diangkat dari atas wajan. Garing, tapi jika sendiri sepi aku membacanya, aku seperti sudah 13 tahun menderita sakit jiwa. Kau tahu bagaimana aku merasa betapa lucunya ceritaku? Coba bayangkan saja jika rambut Poppy Septiani Putri dikepang menjadi tujuh belas! Nah, begitu lucunya. :)
Kawan, bagaimana kalau menulis memang adalah nyawaku?
Jantungku terletak di jari-jemariku, dan mataku adalah hatinya. Sedangkan kepalaku, adalah dunia. Wah, gila! Aku pasti gila, seperti jika Raymond Gideon melihat Luna Maya. Tapi biarlah.. Aku yakin cinta mengintipku dari kejauhan sana. Tertawa geli melihatku terkatung-katung oleh ombak euforia Hawa sambil membolak-balik lembarku yang maya, menungguku dibawah tudung sayap malaikat, tetapi berdoa agar aku tidak gila dan meninggalkannya. Nanti ketika aku mendarat dengan lesuh, seketika dia mengambil ancang-ancang untuk menjewerku, tetapi matanya tak kuasa untuk bilang cinta. :)
Kalau begitu, dorong aku ke atas panggung. Kadang paras yang menyerempet hollywood ini, bukan jaminan aku adalah pemalu.
Kawan, singkat cerita, aku menulis lagi.
Zarry Hendrik
"aku itu sangat pelupa.. makanya aku menulis."
Tanduk.. tanduk..
Kau pikir kau leluasa menyeruduk? pfft.. sungguh kali ini aku tertawa ter-uhuk-uhuk. Lagakmu membuat ragaku mengantuk. Kau tidak bisa menutup segala huruf, jika ternyata manipulasimu tertera disetiap spanduk.
Pintar!
Niatmu tidak terlihat memang.
tetapi sayang, busuknya bisa ku cium dengan gampang.
Jadi apa lagi yang kau ingin lakukan? tiarap menyelinap lewat pintu belakang.. menyalipku ditikungan depan, atau berlagak menjadi gerilyawan? Silahkan.. atau kalau kau memang terlalu tertarik, lanjutkan.. sampaikan salamku pada jurang, pamitlah dari sekarang, karena akan ku buat kau tak akan pernah bisa pulang.
Untuk tandukmu yang lugu, teman pemakan teman.
Zarry Hendrik
Kau pikir kau leluasa menyeruduk? pfft.. sungguh kali ini aku tertawa ter-uhuk-uhuk. Lagakmu membuat ragaku mengantuk. Kau tidak bisa menutup segala huruf, jika ternyata manipulasimu tertera disetiap spanduk.
Pintar!
Niatmu tidak terlihat memang.
tetapi sayang, busuknya bisa ku cium dengan gampang.
Jadi apa lagi yang kau ingin lakukan? tiarap menyelinap lewat pintu belakang.. menyalipku ditikungan depan, atau berlagak menjadi gerilyawan? Silahkan.. atau kalau kau memang terlalu tertarik, lanjutkan.. sampaikan salamku pada jurang, pamitlah dari sekarang, karena akan ku buat kau tak akan pernah bisa pulang.
Untuk tandukmu yang lugu, teman pemakan teman.
Zarry Hendrik
Nyokap Tercinta (Part 3)
"lagi ngapain sih Mah, asyik beunuerrr?" Tanya gue, saat melewati ruang TV. Nyokap menyandarkan punggungnya di tembok. Tetapi tidak sedetikpun gue lihat matanya memerhatikan kotak dua dimensi, TeleVisi. Yang ada malahan, TV yang memerhatikan kerut elips wajahnya. Dia sibuk ngeliatin handphone. Sesekali, gemes sendiri. Terus tiba-tiba ketawa.
Pertanyaan gue tadi tidak digubris. Jangan-jangan gendang telinganya sudah mengalami gangguan, pikir gue. "MAH!" Sapa gue sekali lagi.
"EH, APA?" Jawabnya ketus. Merasa bahwa sapaan lembut gue, sudah membuat konsentrasinya hilang.
ahhhhh, gue tahu. Jangan-jangan dia lagi smsan sama calon papa baru. "GANJEN DEH! INGET WOY, UMUR!" Gue mengeram, lalu masuk kamar.
Pulang kampus kali ini, lelah se-ada-adanya.
Jalanan kota Jakarta udah mirip kayak parkiran. Rasanya gue pengen parkir motor gue ditengah jalan, terus gelar tiker dsampingnya. Macetnya bikin depresi. Inikah kinerja departemen perhubungan selama ini? (emosi gue!)
Mana jalanan tadi beceknya minta ampun. Gerah ngeliatnya.
Tapi untung, sekarang gue udah sampe rumah. Gue rebahkan tubuh gue sejenak. Menghirup nafas dalam-dalam, lalu menahannya selama 2 jam. Dijamin; meninggal.
Sejam-an dikamar, gue lupa satu hal.
Lagi-lagi perut.
gembel-gembel yang menetap dilambung gue, uda nyubitin usus gue.
mereka terus nyubit sambil teriak, "tuan kere, makan kaleeeee..!"
yauds, demi mereka, demi perut, demi gemuk, gue ke dapur, ngegeratak apa yang ada.
Tidak gue cium bau makanan sedikitpun. Hidung gue mengendus-endus sambil menjulurkan lidah keluar. Gue cari makanan sampai ke tong sampah. lebay!!!
ternyata, ga ada apa-apa. Kecoa mengintip, melirik gue genit, katanya "sama sob, gue juga lagi nyari-nyari makanan nih.." sial!
Gue kejar tu kecoa. Bete sama cara jalannya yang pecicilan. Tapi beruntung. Kecoa sialan itu berhasil ngumpet dibawah lemari. "Hari ini kau boleh selamat, kecoa laknat. Awas lain kali."
"Mah, ga ada makanan?" teriak gue dari dapur. Semoga jawaban nyokap kali ini memuaskan.
"Mah???" (krik.. krik.. krik..)
Hmmmm, ternyata benar, kupingnya terganggu. Gue bergegas menghampirinya.
Mencoba membisikinya dengan pijitan-pijitan pamrih.
"Mah, ga ada makanan?" tanya gue sekali lagi. Kali ini, kalo dia ga denger juga, langsung gue bergegas ngambil obeng. Ngebenerin mur-mur yang longgar di dekat gendang telinganya.
"Ku mencintaimu, lebih dari apapun.. meskipun engkau hanya kekasih gelaaaaaaaaaapku.. ouwooo...."
Sumpah, worth it banget!
Orang nanya makanan, dia malah ber-pasha ungu gila.
Gue jadi bener mau ngambil obeng sekarang!
Obeng uda gue ambil. Plus paku payung, linggis, sama cangkul.
Pas gue mau meriksa kupingnya, ternyata dugaan gue salah. Nyokap lagi denger lagu pake headset dari handphone-nya. PANTESAAAAAAAAN!
Gue langsung lepas tu headset tanpa pandang bulu kaki. "Mah, makaaaaaaaaaaan!" Pinta gue sambil megang perut. Masa gara-gara kekasih gelapku itu, gue jadi mati kelaparan. Tapi nyokap malah ngomelin gue, sambil nyanyi.
"meskipun engkau hanya... ANAK GA SOPAN!!!" Tegurnya, gahar. "LAGI ENAK-ENAK DENGER JUGA!"
Sumpah, ngeselin.
(krik.. krik.. krik..)
"ya kan mau nanya, ada makanan apa enggak.
ini malah kekasih gelapku jawabnya!" keluh gue, sebagai anak yang meminta kasih sayang.
"ga masak, males. kirain lo ga pulang." katanya ketus. Lalu ia meraih headset itu lagi, dan meletakkannya ditempat semula. Ditelinganya.
"SUNNY, SUNNY, APA KABAR, KABAR AKU BAIK-BAIK SAJA."
Begitu nyokap bernyanyi. Meraih bantal, dan memeletakkan bantal di dadanya, lalu sambil terus mencetin handphone-nya. Entah smsan sama siapa.
Kali ini, nyokap persis Bunga Citra Les-Jahit. Gayanya selangit.
"Terus, perutku ini bagaimana nasibnya Mam?
Kau campakkan begitu saja?
Teganya-teganya-teganya.." Gue complain. Suara gue keras, menembus gong telinganya.
Masa iya gue puasa??? pikir gue.
"MASAK AJA INDOMIE!" Kata nyokap selow.
"Masakiiiiiiiiiiiiiiiiiiin!" Gaya gue yang ini, persis kucing. Mengais-aiskan leher gue dikakinya.
Kalo nyokap nolak, gue cakar kakinya.
"INI.. INI.. NGEBABU'IN ORANG TUA AJE TERUS!
KALO KULIAHNYA BAGUS SIH, WAJAR..
LAH INI........................"
Beh, panjang.
nyokap malah nasihatin gue.
"tapi kan.. tapi kan.. tapi kan.. aku butuh tatitayaaaaaaaaang..."
jawab gue,manja. Abis ngomong itu, gue langsung pengen ke cermin, ngepang rambut gue, pake daster, stocking macan, panggil taksi, terus nongkrong di taman lawang.
Akhirnya gue masak tu indomie.
ga enak juga ama nyokap, nyuruh malem-malem. kasian.
gue masak lah.
langsung sekali tiga. telornya juga tiga.
mantap tu setelan tukang becak abis narik dari subuh.
abis makan ini, dijamin gembel di perut gue bungkam seada-adanya.
tanpa kata, tanpa suara, mereka terhanyut, terbuai kunyahan serigala lapar.
setelah matang, gue koyak gulungan mie itu dengan liar.
mulut gue berubah anarkis. cara makan gue kali ini persis kanibal vegetarian. (mana ada zer? ga worth it banget getoooo, lo!) najis tu bahasa dalem kurung. guling-gulingan gue abis nulisnya. hahahaha.
setelah makan, gue kenyang.(yaiyalah zer, kenyang. ga worth it banget gituuuuu lhoh)
gue samperin nyokap.
Mau bilang kalo gue mau doa di kamar, jadi jangan sembarang masuk kamar, macam maling.
ngeganggu konsentrasi gue yang ada, entar. sadis ga tu gaya gue?? hahahahaha.
"Mah!!!"
krik.. krik.. krik.. krik..
lagi-lagi gue dicuekin.
Gue kepikiran sama obeng lagi. tapi gue singkirkan pikiran itu.
mungkin iya suara lagu yang mengalun di headset-nya terlalu keras, sampai ia tidak mendengar panggilan gue.
yasudah, gue ingin masuk kamar. nampaknya ia terlalu asyik dengan lagu-lagu pop koleksinya.
tapi gue agak penasaran. dari tadi gue liat dia asyik mencetin handphone.
sms siapa sih?????
gue coba intip, apa yang ia ketik. penasaran gue, lelaki berengsek mana lagi yang lagi smsan sama dia.
gue deketin pelan-pelan. pura-pura nonton.
mata gue memicing, berakomodasi secara maksimal.
Pas gue mau baca, dia langsung menoleh ke arah gue, ngeh.
dengan polos dia berkata, "KALO MAU HAPUS HURUF, PENCET YANG MANA SIH???"
GUUUUUUBRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!
GAPTEK GILAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
Pertanyaan gue tadi tidak digubris. Jangan-jangan gendang telinganya sudah mengalami gangguan, pikir gue. "MAH!" Sapa gue sekali lagi.
"EH, APA?" Jawabnya ketus. Merasa bahwa sapaan lembut gue, sudah membuat konsentrasinya hilang.
ahhhhh, gue tahu. Jangan-jangan dia lagi smsan sama calon papa baru. "GANJEN DEH! INGET WOY, UMUR!" Gue mengeram, lalu masuk kamar.
Pulang kampus kali ini, lelah se-ada-adanya.
Jalanan kota Jakarta udah mirip kayak parkiran. Rasanya gue pengen parkir motor gue ditengah jalan, terus gelar tiker dsampingnya. Macetnya bikin depresi. Inikah kinerja departemen perhubungan selama ini? (emosi gue!)
Mana jalanan tadi beceknya minta ampun. Gerah ngeliatnya.
Tapi untung, sekarang gue udah sampe rumah. Gue rebahkan tubuh gue sejenak. Menghirup nafas dalam-dalam, lalu menahannya selama 2 jam. Dijamin; meninggal.
Sejam-an dikamar, gue lupa satu hal.
Lagi-lagi perut.
gembel-gembel yang menetap dilambung gue, uda nyubitin usus gue.
mereka terus nyubit sambil teriak, "tuan kere, makan kaleeeee..!"
yauds, demi mereka, demi perut, demi gemuk, gue ke dapur, ngegeratak apa yang ada.
Tidak gue cium bau makanan sedikitpun. Hidung gue mengendus-endus sambil menjulurkan lidah keluar. Gue cari makanan sampai ke tong sampah. lebay!!!
ternyata, ga ada apa-apa. Kecoa mengintip, melirik gue genit, katanya "sama sob, gue juga lagi nyari-nyari makanan nih.." sial!
Gue kejar tu kecoa. Bete sama cara jalannya yang pecicilan. Tapi beruntung. Kecoa sialan itu berhasil ngumpet dibawah lemari. "Hari ini kau boleh selamat, kecoa laknat. Awas lain kali."
"Mah, ga ada makanan?" teriak gue dari dapur. Semoga jawaban nyokap kali ini memuaskan.
"Mah???" (krik.. krik.. krik..)
Hmmmm, ternyata benar, kupingnya terganggu. Gue bergegas menghampirinya.
Mencoba membisikinya dengan pijitan-pijitan pamrih.
"Mah, ga ada makanan?" tanya gue sekali lagi. Kali ini, kalo dia ga denger juga, langsung gue bergegas ngambil obeng. Ngebenerin mur-mur yang longgar di dekat gendang telinganya.
"Ku mencintaimu, lebih dari apapun.. meskipun engkau hanya kekasih gelaaaaaaaaaapku.. ouwooo...."
Sumpah, worth it banget!
Orang nanya makanan, dia malah ber-pasha ungu gila.
Gue jadi bener mau ngambil obeng sekarang!
Obeng uda gue ambil. Plus paku payung, linggis, sama cangkul.
Pas gue mau meriksa kupingnya, ternyata dugaan gue salah. Nyokap lagi denger lagu pake headset dari handphone-nya. PANTESAAAAAAAAN!
Gue langsung lepas tu headset tanpa pandang bulu kaki. "Mah, makaaaaaaaaaaan!" Pinta gue sambil megang perut. Masa gara-gara kekasih gelapku itu, gue jadi mati kelaparan. Tapi nyokap malah ngomelin gue, sambil nyanyi.
"meskipun engkau hanya... ANAK GA SOPAN!!!" Tegurnya, gahar. "LAGI ENAK-ENAK DENGER JUGA!"
Sumpah, ngeselin.
(krik.. krik.. krik..)
"ya kan mau nanya, ada makanan apa enggak.
ini malah kekasih gelapku jawabnya!" keluh gue, sebagai anak yang meminta kasih sayang.
"ga masak, males. kirain lo ga pulang." katanya ketus. Lalu ia meraih headset itu lagi, dan meletakkannya ditempat semula. Ditelinganya.
"SUNNY, SUNNY, APA KABAR, KABAR AKU BAIK-BAIK SAJA."
Begitu nyokap bernyanyi. Meraih bantal, dan memeletakkan bantal di dadanya, lalu sambil terus mencetin handphone-nya. Entah smsan sama siapa.
Kali ini, nyokap persis Bunga Citra Les-Jahit. Gayanya selangit.
"Terus, perutku ini bagaimana nasibnya Mam?
Kau campakkan begitu saja?
Teganya-teganya-teganya.." Gue complain. Suara gue keras, menembus gong telinganya.
Masa iya gue puasa??? pikir gue.
"MASAK AJA INDOMIE!" Kata nyokap selow.
"Masakiiiiiiiiiiiiiiiiiiin!" Gaya gue yang ini, persis kucing. Mengais-aiskan leher gue dikakinya.
Kalo nyokap nolak, gue cakar kakinya.
"INI.. INI.. NGEBABU'IN ORANG TUA AJE TERUS!
KALO KULIAHNYA BAGUS SIH, WAJAR..
LAH INI........................"
Beh, panjang.
nyokap malah nasihatin gue.
"tapi kan.. tapi kan.. tapi kan.. aku butuh tatitayaaaaaaaaang..."
jawab gue,manja. Abis ngomong itu, gue langsung pengen ke cermin, ngepang rambut gue, pake daster, stocking macan, panggil taksi, terus nongkrong di taman lawang.
Akhirnya gue masak tu indomie.
ga enak juga ama nyokap, nyuruh malem-malem. kasian.
gue masak lah.
langsung sekali tiga. telornya juga tiga.
mantap tu setelan tukang becak abis narik dari subuh.
abis makan ini, dijamin gembel di perut gue bungkam seada-adanya.
tanpa kata, tanpa suara, mereka terhanyut, terbuai kunyahan serigala lapar.
setelah matang, gue koyak gulungan mie itu dengan liar.
mulut gue berubah anarkis. cara makan gue kali ini persis kanibal vegetarian. (mana ada zer? ga worth it banget getoooo, lo!) najis tu bahasa dalem kurung. guling-gulingan gue abis nulisnya. hahahaha.
setelah makan, gue kenyang.(yaiyalah zer, kenyang. ga worth it banget gituuuuu lhoh)
gue samperin nyokap.
Mau bilang kalo gue mau doa di kamar, jadi jangan sembarang masuk kamar, macam maling.
ngeganggu konsentrasi gue yang ada, entar. sadis ga tu gaya gue?? hahahahaha.
"Mah!!!"
krik.. krik.. krik.. krik..
lagi-lagi gue dicuekin.
Gue kepikiran sama obeng lagi. tapi gue singkirkan pikiran itu.
mungkin iya suara lagu yang mengalun di headset-nya terlalu keras, sampai ia tidak mendengar panggilan gue.
yasudah, gue ingin masuk kamar. nampaknya ia terlalu asyik dengan lagu-lagu pop koleksinya.
tapi gue agak penasaran. dari tadi gue liat dia asyik mencetin handphone.
sms siapa sih?????
gue coba intip, apa yang ia ketik. penasaran gue, lelaki berengsek mana lagi yang lagi smsan sama dia.
gue deketin pelan-pelan. pura-pura nonton.
mata gue memicing, berakomodasi secara maksimal.
Pas gue mau baca, dia langsung menoleh ke arah gue, ngeh.
dengan polos dia berkata, "KALO MAU HAPUS HURUF, PENCET YANG MANA SIH???"
GUUUUUUBRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!!!
GAPTEK GILAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.
susi kampret!
"duh, dimane sih tu aer terjun-aer terjunan! mane jauh bener lagi dah jalan kakinye. ude pu'unannye banyak buener lagi dah. kali-kali ada kuntilanak kan berabe! gresek bet dah gue!"
gumul gue dalam hati versi bahasa anak bekasi.
hari itu gue bener-bener terperangkap. terpaksa harus merayakan tahun baru yang tidak sesuai dengan apa yang gue bayangkan sebelumnya. bahkan gue tidak hanya terperangkap, tetapi juga terjerumus. terjerumus oleh kecorobohan gue sendiri, dan sangat sulit untuk kembali lagi.
gue masih inget hari itu, adalah tanggal 31 desember dua ribu sekian bertempat di suatu vila didaerah puncak, jawa barat.
di hari sebelumnya:
"gimana chey, nanti sore gue berangkat ke puncak nih nyusulin cewek gue di puncak. lo jadi ikut ga?"
dodi (nama samaran) adalah temen gue dari SMP. temen bae tepatnya. kulitnya coklat gelap. tapi suka dikatain 'item' sama orang-orang. gue sih ga bilang dia item, tapi menurut gue, dia hitam kelam seperti ampas kopi yang bekas di minum supir metromini! hahahahaha, lebih parah!
dari jauh-jauh hari dodi udah nawarin gue kalo mendingan gue ikut taun baruan bareng dia ke puncak, bareng ceweknya and temen ceweknya, and bareng keluarga dari temen ceweknya. cuma gue selalu bilang liat nanti liat nanti and liat nanti.
ketebak sih maksud dodi adalah dia pengen nyomblangin gue sama temen ceweknya dia sekaligus supaya gue bisa nemenin dia disana buat temen ngobrol. tapi gue rada males and ga selera. abis pikiran gue terus disenggol-senggol sama gigi kelinci nya chelsea olivia. makanya gue ga semangat sama advice nya dia and proyek comblang mencomblangi nya dia.
ceweknya dodi namanya gincu (nama samaran juga), dan temen nya gincu namanya susi. (nama samaran juga lah).
sori mai fren sebelumnya kalo kita pake nama samaran segala. karena lo ngerti lah, facebook kan terbuka untuk umum. takutnye kalo ada yang baca, suka ngerasa pede atau tersinggung. apalagi misalnya sandra dewi baca ini, pasti dia bakal nyamperin gue sambil teriak didepan pager rumah gue dengan lantang,
" SIAPA SUSI BEIBBBB!?!?!?! SIAPAAAAAA HAH?????????"
jadi mending gue pake nama samaran aje.
begindaaaaaaaaaaang!
gincu adalah pacar dodi. orang nya rada lemot, tapi pada dasar nya cantik dan putih. baik pula. makanya anak-anak sempet heran juga kenapa dodi yang mirip petasan boncos ini bisa jadian sama gincu yang manis-manis gula jawa, jelita bagai pita-pita. (halah zer!)
tapi entahlah. kadang hidup itu misteri ya kan? hehehe.
lain lagi susi. susi juga anak baik. bodinya standar gadis gadis kalender gitu lah fren. tapi ya face-nya, kurang gereget. terlepas dari semua itu, gue akuin sih dia emang baik orangnya. cantik di dalem gitu, gimana sih. tapi ya gimana, bukan tipe gue kali ya. ;)
(blagu lo zer, sumpah!)
ngeng, ngeng, ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan musyawarah seadanya, dengan pemikiran yang sempit dan tidak seksama akhirnya gue berangkat berdua sama dodi kepuncak.
abis gue bingung fren, taun baru ini mau gimana.
orang rumah gue udah pada tidur malah jam 07 malemnya. kayak mereka ga nyadar kalo besok adalah tahun baru dan dihari yang sungguh-sungguh sakral untuk meniup terompet dan merayakannya bersama-sama, tapi mereka malah terdampar di kasur kelelahan karena natal kemarennya. rasanya gue pengen teriak di kuping mereka atu-atu, "woooooooooooooy, ini taun baru woooooooooooooooy! bangun lo semuaaaaaaaaaaaa!"
tapi ga mungkin. bisa-bisa muka gue di tatoo gambar pantat kucing sama keluarga sendiri. mending gue ikut dodi.
mau ikut acara keluarga besar juga males. pasti gitu-gitu doang acaranya. dateng, makan, ngobrol, pulang. bete!
anak-anak yang lain juga pada ngambang rencananya. ada yang buka kamar di hotel ini lah. ada yang ke anyer lah. sampe ada yang nanjak ke gunung. tadinya sih gue mau ikut mereka pada. tapi gue agak ragu. yang di hotel, gue takut di gerebek BNN. gue orang sehat. jadi ga mau ke dokter yang buka prakter di hotel pula.
lain lagi yang di anyer. gue pikir sih, takut aje gitu pas lagi tiup-tiup terompet, eh kita semua malah ditiup tsunami. hahahahaha.
yang di gunung, mereka semua udah pada disana dari tiga hari sebelumnya. jadi ga mungkin juga gue nyusul gitu sendiri ke mereka yang mungkin sudah berkemah di puncak gunung. hahahahahahaha.
menurut bijak gue, dari pada gue harus ikutan tidur di rumah, and dari pada gue ga kemana-mana juga. mending gue santai-santai di vila yang sebenarnya gue ga kenal-kenal banget orangnya. tapi bodo. muka tembok, muka tembok deh ye. yang penting taun baru hari ini, gue bisa ngerasain dinginnya iklim tropis sambil menanti-nanti tetes-tetes hujan. paling enggak, taun baru gue keluar rumah lah.
perjalanan tidak begitu memakan waktu banyak. hanya memakan waktu sangat banyak.
jelas sekali, yang namanya puncak dimalam tahun baru itu macet nya se-kucing-kucing. jadi mau ga mau, gue harus nelen ludah saben kali roda kendaraan kita harus melaju satu inchi per-jamnya.
beruntung sih. walau kita tak sehebat rossi ataupun se-tengil ananda micola, tapi akhirnya kita sampai di vila pas sebelum tanggal 1 januari tahun dua ribu sekian.
sampe disana, idung gue mulai ke helder-helderan. bau makanan sedikit, lidah gue langsung keluar minta dilemparin kacang. laper banget perut gue. panjangnya perjalanan, lebih panjang dari pada panjangnya berurusan sama anak 234 sc. karena panjang itu pula, gembel-gembel yang ada di perut gue udah teriak-teriak, "turun kan makanan, brengsek! halal atau tidak, basi atau tidak, kami telan!"
gue udah kelaperan banget.
bener adanya. dua putri puncak ini (gincu dan susi) , menghampiri kami sambil mengucapkan salam. salam pertama mereka terdengar lebih meriah daripada jingle sebuah produk, lebih sakral dari tepuk pramuka, dan sama krusial nya dengan pancasila sila ke-5. ya! salam pertama mereka adalah, "udah pada makan belum nih?"
1 jam berlalu.
makanan sudah disapu bersih oleh dua mahluk titisan comberan ini. dengan tidak tahu malu, kami koyak-koyak apapun yang tergeletak lemas di meja makan. gue and dodi dalam sessi ini, terlihat begitu anarkis memang. kejam! hahahahahhahaha.
syurrrrrrr...........
waktu terus berjalan. ketika semua sudah dibereskan.
"eh, kenapa ga pada ke air terjun sekarang?!" sapa seorang ibu yang ternyata adalah ibundanya susi.
"oh iya, yuk kita ke air terjun!" gincu langsung nyamber.
gue masih bengong sambil menghayati betapa nikmatnya selonjoran.
susi hanya terlihat tersipu-sipu sambil mesem-mesem.
wajah dodi senyum kentang gitu, berkata "ho'o!"
singkat cerita mai fren, akhirnya kita menuju ke air terjun dengan tujuan countdown tahun baru disana.
sepanjang perjalanan gue bergumul.
"kampret banget ye si dodi. di sini gue jadi nyamuk nontonin dia pacaran sama gincu. sedangkan gue? sendiri tak berpasangan. nyesel gue ikut kesini. susi? ya elah. males! kalo ada luna maya sih, woke deh! (eh sori sandra dewi.. tetep kamu kok di imajinasi aku!)
hari ini emang dasar tahun baru tersial gue! mana sekarang gue disuruh jalan malem-malem, nanjak pula jalannya. gesrek abis otak gue!
rasanya nih, gue pengen nge-gelindingin badan gue sampe rumah gitu kalo bisa. tapi mustahil. gue udah terperangkap disini dan tidak bisa kemana-mana. keadaan seakan memaksa gue untuk terpaksa menikmati suasana dan manfaatkan apapun yang setidaknya membuat gue ikut merayakan tahun baru ini dengan senyuman dan ucapan syukur.
"ya, benar! gue ga boleh kelewat ngegumel aja. ga ada juntrungannya juga. percuma. mendingan gue have fun. nikmati alam yang ada dan sebenarnya dari tadi gue tidak menyadari kalau ternyata betapa indahnya alam raya ini."
gue tapaki jalan curam itu dengan senyuman perdana. memandangi tegap nya pohon pinus yang congkak. mereka berbaris begitu rapihnya. seperti peragawati yang berjalan berbarengan di akhir bagian acara fashion show. disisi lain, pandangan gue menantang ke cahaya-cahaya nan jauh diatas langit. tumben, bintang hari ini begitu ramai. sangat disayangkan kalau wajah gue hanya berkerut dan terlihat muram didepannya. di arah pandangan yang berbeda, sudut kota terlihat begitu jelas dengan kerlap kerlip lampunya. mungkin itu kota bogor 70 kilometer dari bola mata gue. begitu indah dilihatnya.
gue tapaki lagi jalan ini semakin mendekat ke air terjun.
didepan gue, gincu dan dodi malah asyik bercanda ria menikmati kekasmaran mereka. gue resapi. bertujuan ikut merasakan kebahagiaan mereka, walau jauh di palung hati gue yang paling dalam, "anjriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!" tapi gue berusaha ikut ceria.
susi yang dari tadi diem aja, ikut-ikutan senyum disebelah gue.
"duh chey, gue capek nih." sapa susi, akhirnya.
"yah, bentar lagi kali sus udah tahun baru. kita harus buru-buru sampe aer terjun sebelum kehilangan moment penting tahun ini." jawab gue semangat sambil mengelus-elus punggungnya.
susi lalu kembali tersenyum dan bertanya, "moment penting apa?"
"Ya taun baru lah dodol!" jawab gue sambil ngakak.
"ohh....????" sambung nya.
ia masih terlihat lelah, dan berkata "tapi capek deh serius."
sambil menarik tangannya dan terus berjalan menyusul dodi dan gincu gue bilang "ayooooooo!"
fiyuh, akhirnya sampe juga di air terjun.
ga nyangka. lumayan lah view nya dari yang sebelumnya gue kira.
di sini ternyata banyak orang jakarta pula yang turut ingin melewati tahun baru sambil maen ciprat-cipratan. ternyata kita ga cuma ber-empat. gue agak lega.
abis ga lucu kan gue pikir kalo berempat. saat dodi lagi asik nyium ceweknya, masa gue nyium susi juga yang kayaknya pasrah-pasrah aja. hahahahahahahaha.
enggak-enggak-enggak!
10, 9, 8, 7, 6, 3, 2, 1...
toetttttt..tereeeeeeeeeeet.. prepeeeeetpetpeeeeeeeeeeeeeeeet!
hip hip hurray!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
tepat ke detik setelah angka satu, gue langsung ingin berdoa. ingin bersyukur kalau sampai saat ini gue masih ganteng adanya. masih bernafas dan merasa dicukupkan apapun itu bentuknya. setiap masalah di tahun sebelumnya, sudah terselesaikan semuanya. hingga sampai pada akhirnya gue juga berdoa bahwasanya gue ingin segera diberi petunjuk dan pertolongan bakal kuliah dimana dan ngambil apa. maklum fren, setelah gagal masuk IPA yang merupakan syarat untuk bisa menjadi tentara nasional Indonesia, gue agak lepas arah soalnya. hahahahaha.
"doa yuk sus!" sapa gue pada susi mengajaknya berdoa.
setelah berdoa. dan memberi selamat tahun baru ke semua:
"pas banget ya sus, di tahun baru kayak gini ada orang yang disayang." gue memulai topik pembicaraan sambil melihat dodi dan gincu lagi maen siram-siraman. mereka terlihat semarak dan ceria sampai memaksa bibir gue untuk membentuk tawa-tawa kecil.
dengan bengong sebentar, seakan tak percaya tapi raut wajahnya terlihat seperti sedang menang undian 100juta, kata susi:
"apa?"
"ya pokoknya hari ini gue seneng banget. hari yang orang lain tidak akan pernah lupa, termasuk kita. 1 januari! gokiiiil!"
"lo serius chey?!"
"dari tadi gue udah kayak orang gila gini senyum-senyum sendiri, lo kira gue boong?"
"hmmmm.. hmmmm.."
"yeee, dia mikir!"
"eh.. eh... gue juga seneng hari ini. walau terlalu cepat, tapi gue juga sayang sama lo chey."
NAHLO!!!!!!!!
ada yang janggal nih kata-katanya.
dalam hati gue bertanya-tanya:
lho, kok ni cewek kodok satu malah ke situ-situ. sayang sama gue??????
kampret! tadi gue ngomong apa sih, kok dia ampe ngomong gini. padahal kan maksudnya ga ke arah situ. wah, salah pengertian nih.
"ehh, gini sus..."
beeeeeeeeeeeeet!
susi langsung memotong omongan gue dengan gayanya sambil muter-muterin rambut, "iya chey. aku ngerti kok kamu bakal mikir kalo kamu terlalu cepet ngomong gini. tapi aku bisa ngerti kok. perasaan kan datang tiba-tiba. aku bakal inget hari ini, hari jadian kita."
kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
saat dia ngomong gitu, seakan air terjun ngeguyur kepala gue.
pikiran gue langsung ke doraemon. gue pengen minta tolong dia supaya ngembaliin gue ke zaman nike ardilla masih idup aja. kampreeeeeeeeet!
gue langsung kebingungan. antara panik, ga enak, ngerasa bego, ketiban sial, itu semua udah nyampur-nyampur.
lalu gue senyum aja. tapi maksa. harusnya dia ngerasa kalo senyum gue maksa. menandakan kalo apa yang barusan susi omongin udah kelewat ngaco dan nyaris buat gue nyolok mata gue sendiri. tapi senyum maksa gue kayaknya udah ga berfungsi. dia malah meluk gue sambil kesenengan.
mampus gue!
gue galau.
ngerasa salah ngomong, salah topik, dan salah milih tempat taun baruan.
tapi gue ga enak sama dodi juga kalo misalnya gue ngejelasin ke susi tenang kesalahpahaman ini, malah nantinya gue minta pulang gara-gara2 gue tampar pake centog, and diusir sama susi. ga mungkin juga kan gue ngancurin acara kencan sahabat gue sendiri.
alhasil gue terjerumus.
mau ga mau, ancur ga ancur, gue mengiyakan saja kita udah jadian.
gaya males-malesan nya gue udah ga mempan di dia.
saat gue lagi males-malesan gitu deket dia, dia pikir gue lagi ngelucu. kampret!
sedangkan dodi, malah ngomong gini:
"bener kan fren dugaan gue, lo cocok banget ama dia."
cocok apenye! cocok puser nye!!!!!!!!
gue stress bukan kepalang. tapi mau ga mau, gue harus mendem rasa itu sendiri.
mau ga mau, siap ga siap..
"GUE PACAR SUSI"
*dua minggu setelahnya*
--------
"hah, elu salah ngomong?!" tanya dodi, kaget mendengar penjelasan gue di suatu kedai kopi.
gue, dengan acak-acakan nya rambut gue, gue jawab, "kaliii..."
"wah.. parah lo chey. dia baru aja disakitin sama cowok. dan katanya elu yang ngebuat dia bisa lepas dari sakit hati itu. terus sekarang lo bilang, jadian kemaren, salah pengertian? parah!" dodi membentak halus.
lalu dodi terus ngoceh, "mending lo jalanin aje lah. entar juga nongol sendiri tu perasaan. apa lagi, dia anak WAKAPOLDA di suatu propinsi gitu. terjamin lah chey biaya hidup lo. tapi kalo lo macem-macem, ati-ati di dor lo chey! tambahnya sambil tertawa-tawa atas kebodohan gue yang menjerumuskan gue sendiri.
gue sempet mikir gitu ya fren, mending gue nyusul temen gue aje ke gunung dari pada gue harus jadian sama susi. salah banget. orangnya baik, tapi gue harus nipu-nipu orang baik setiap jamnya. tersiksa gue!
tapi ga bisa ke mana-mana juga.
duh sumpah fren, hubungan ini buat gue bingung.
mana kayaknya susi udah sayang gitu lagi kan sama gue. sedangkan, gue malah makin handal ngebohongin susi and terus menerus menutupi yang sebenarnya.
sangking galaunya raga dan jiwa ini, akhirnya gue lewati hari demi hari dengan terus nipu dia. belaga seneng, belaga sayang aja. asalkan dia tetep senyum aja di depan gue. gue kuatir gue nyakitin hati dia. tapi tanda disadari, gue semakin menggali lobang yang dalam buat kuburan gue sendiri.
sempet gue pun berusaha mancing supaya ada chemistri sama susi, tapi tetep ga kena-kena.
gue bingung, tapi gue juga bodo amat.
semua terus berjalan sesuai dengan tipu daya gue.
tapi,
sesuatu yang tidak di inginkan pun tiba.
diteras rumahnya, tiba-tiba sosok tinggi, tegap, coklat, rapih, dan berwibawa muncul saat susi sedang membuatkan gue minuman.
sorot matanya tajam mengancam. suaranya tenang tapi tajam. kepalan tangannya sebesar peluru meriam kayaknya. alisnya mengerut. caraya menatap gue seperti cara kingkong menatap lo saat lo ngerebut pisang dari kingkong itu.
mampus, itu bokapnya susi!
ia berjalan dengan tegap dan teratur.
bercelanakan pendek sambil menggengam lipatan koran hari ini.
ia menatap gue lama, lalu duduk disamping gue. ia membuka lipatan korannya.
sedangkan pikiran gue beragam, antara nyariinn baygon buat diminum, atau nyekek leher gue pake sedotan.
suasana agak hening sebelumnya.
tiba-tiba:
"KAMU SIAPANYA SUSI?"
(mampus gue, mampuus!
DORAEMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
ahhhhh! kenapa mahluk mengerikan ini adalah bokap pacar gue sendiri. gumul gue dalem hati.
dia duduk disamping gue dengan nada yang halus tetapi tajam. rambutnya yang cepak dan lingkar wajahnya yang kekar meyakinkan gue kalo misalnya gue salah ngomong sedikit aja, mulut gue bakal di sumpel pake koran yang lagi dia baca.
"hmmm, bukan pak!, eh, om?!" jawab gue berlumur keringat dingin.
senyum gue maksa. persis kayak lagi boker sambil ngaca.
lalu gue sambung, "saya di kenalin nani (temen sekelasnya susi)."
duh, tegang gue. baru kali ini gue ngadepin bokap pacar yang setelannya kayak panglima perang. apalagi idungnya besar. gue takut kalo dia bersin, terus ingusnya muncrat ke muka gue. ampun-ampun deh.
sambil membolak-balik lembar koran hari ini, bokapnya mengerutkan dahi nya. sepertinya pertanda kalau dia mulai ngira gue anak berandalan ga jelas yang udah berani-berani macarin anak perempuannya, anak tunggal satu-satunya.
abis gimana ga mau kritis nanyain gue nya. secara penampilan gue hari itu pake kaos oblong butek yang tulisannya udah luntur-luntur, ditambah lagi sendal jepit, celana pendek, sama jacket andelan yang belum gue cuci selama 2 bulan. gue kuatir kalau-kalau dia menyangka gue adalah tukang jualan batagor disekolah anaknya.
"kenal dimana?" tanya sang bapak satu ini lebih tegas dari sebelumnya. gue pikir dia lagi menginterogasi gue.
"eh, kenalnya kalo ga salah pas ulang tahun susi om. tukeran nomor, terus akhirnya jadi deket."
aduh mati. gue kelewat jujur.
kenapa juga gue mesti bilang tuker-tukeran nomor segala.
salah gue. gue berusaha agar tidak terlihat panik. tapi malah fatal.
kenapa juga gue ga bilang aja kenalnya di seminar anti narkoba. atau mungkin kenalan di suatu ibadah. duh, bego deh.
pasti dia bakal ngira gue playboy cap kepala bebek.
pusing gue.
"tinggal dimana?"
"sekolah dimana?"
"kelas berapa?"
"asli nya dimana?"
dan seterusnya, dan seterusnya.
mampuy mampuy mampuy.
kenapa jadi nanya terus ni raksasa ireng. pasti lepas ni orang dari kandangnya. apa gue telpon taman safari aja kali ya, terus bilang kalo beruang grizzle nya lepas dan membuat ke onaran diperkampungan. ato enggak, gue telfon departemen kehutanan buat ngasih tau kalo badak bercula satu lagi baca koran.
tapi gue urungkan niat itu saat gue sadar bahwa umur gue udah ga lama lagi. gue bakal terbunuh oleh kepanikan gue sendiri.
tapi aneh sih.
dari dulu emang gue agak males ketemu sama apa yang namanya bokap pacar. tau deh kenapa.
nah sekarang, gue mesti ngadepin bokap pacar yang jabatannya adalah WAKAPOLDA disuatu propinsi. gimana gue ga kebelet kencing ngobrol sama dia.
waktu itu gue masih SMA. gaya gue begajulan. suka kebut-kebutan and bolos sekolah. gaya ngomong gue selenge'an dan mungkin tidak bertata krama. ditambah lagi, penampilan gue juga persis kayak kucing kecemplung di comberan. jauh dari wibawa.
sedangkan kali ini, kebetulan gue berpacaran dengan cewek baik, pintar, bermartabat, anak tunggal seorang wakapolda. rasanya gue telah menerjunkan diri gue ke jurang dengan tanpa busana. kampret!
disisi lain, gue takut dikira utusan teroris yang ingin menyandera anak aparat negara ini.
sebenarnya sih jadian sama susi ini bisa dibilang ga sengaja.
cuma karena gue salah ngomong, terus susinya salah tangkep lalu kepedean. n tau-tau seluruh dunia tau kalo kita udah jadian. karena gue ga enakan orangnya, ya jadian juga akhirnya.
nyokapnya susi kerja di BNN. tapi beliau lebih ramah. berbeda dengan sang papa yang terus-terusan melotot kayak helder merhatiin tulang.
makanya sesegera mungkin gue mau mengakhiri hubungan ini.
tersiksa juga ngebohongin susi juga ngebohongin perasaan sendiri. cuma gue masih belum tau caranya.
tapi sepertinya, gue uda terjerumus.
keluarga susi seperti mencoba mengenal gue lebih dalam.
gue berharap banget kalo si bokap bakal bilang ke susi:
"TINGGALKAN ANAK BERANDALAN ITU! PAPA TIDAK MAU PUNYA MENANTU YANG GANTENG!"
otak gue udah mumet ngomong sama bokapnya susi terus menerus. pikiran gue jadi ga di badan.
sedangkan susi yang katanya bikinin gue orange juice di dapur, malah ga balik-balik. gue sempet mikir kalo dia di kira ceker ayam sama pembantunya, terus di goreng di atas wajan. hahahahahaha.
tiba-tiba si bokap berdiri. meneruskan tapak kakinya ke sebuah kandang burung beo yang sepertinya burung beo kesayangannya.
sambil menjetikkan jarinya, "kerrr.. kerrr..", dia nanya gue lagi.
"memang cita-cita kamu apa?"
gaya bertanyanya agak lembut. membelakangi gue dan mengarahkan pandangannya kearah burung beo. sedangkan muka gue, persis satu meter di depan pantat tu bokap yang lagi nungging.
rasanya pengen gue colok pantatnya pake sapu lidi. argggh!
waktu itu gue bingung.
tapi berusaha mencairkan suasana, gue jawab.
"jadi polisi, om!"
tujuan gue agak caper. biar dia agak akrab sama gue and ga terkesan galak lagi.
harapan gue, dia bakal ngejawab, "oya? bagus dong. nanti om bantu."
tapi ternyata perkiraan gue salah.
dia berbalik arah. menatap gue dengan bola matanya yang runcing seruncing kuku ibu mertua.
katanya,"POLISI????"
"hhh... iya om. polisi." jawab gue memaksa untuk santai. padahal sebentar lagi gue bakal kencing dicelana.
"dengan gaya kamu yang berantakan seperti ini, kamu mau jadi polisi?" tegur nya menghantam otak gue.
mampus! gue salah jawab. nyesel gue jawab ngasal. padahal waktu itu gue mau bilang jadi pengacara atau insinyur. tapi malah gue milih polisi. bego banget gue. harusnya gue nyadar diri kalo tampang kayak gue ini lebih cocok jadi model. argh, salah lagi gue.
tapi gue berusaha mengelak dan berkata, "dulu sih saya mau jadi pemain bola om. cuma karena..."
"PEMAIN BOLA!" potongnya dengan suara keras. suaranya mirip suara kurt cobain kalo lagi keselek gitar.
"KAMU TAU, SUSI ITU ANAK SAYA SATU-SATUNYA. KALAU KAMU MACAM-MACAM SAMA DIA, KAMU BERHADAPAN DENGAN SAYA. DENGAN POLISI!"
duh, gue sadar. gue malah makin bego ternyata.
beruntung sosok yang ditunggu datang mengakhiri bahan pembicaraan kita.
"sayang, nih orange juice nya." sapa susi dengan senyuman seperti tikus.
"pada ngobrolin apa sih?" sambung susi terlihat penasaran.
"ohhhhh.. ini papa bilang ke dia, kalo dia cocok jadi polisi, Sus." jawab papanya sambil meraih koran yang tergeletak di meja.
"yasudah, papa masuk dulu ya sus. ngantuk." kata sang bapak yang hampir gue cakar mukanya.
hari itu adalah hari terakhir gue menginjak rumah itu.
beberapa hari kemudian gue putus.
kamprettttttttttttttt!
grrrrrrrrrrr
gumul gue dalam hati versi bahasa anak bekasi.
hari itu gue bener-bener terperangkap. terpaksa harus merayakan tahun baru yang tidak sesuai dengan apa yang gue bayangkan sebelumnya. bahkan gue tidak hanya terperangkap, tetapi juga terjerumus. terjerumus oleh kecorobohan gue sendiri, dan sangat sulit untuk kembali lagi.
gue masih inget hari itu, adalah tanggal 31 desember dua ribu sekian bertempat di suatu vila didaerah puncak, jawa barat.
di hari sebelumnya:
"gimana chey, nanti sore gue berangkat ke puncak nih nyusulin cewek gue di puncak. lo jadi ikut ga?"
dodi (nama samaran) adalah temen gue dari SMP. temen bae tepatnya. kulitnya coklat gelap. tapi suka dikatain 'item' sama orang-orang. gue sih ga bilang dia item, tapi menurut gue, dia hitam kelam seperti ampas kopi yang bekas di minum supir metromini! hahahahaha, lebih parah!
dari jauh-jauh hari dodi udah nawarin gue kalo mendingan gue ikut taun baruan bareng dia ke puncak, bareng ceweknya and temen ceweknya, and bareng keluarga dari temen ceweknya. cuma gue selalu bilang liat nanti liat nanti and liat nanti.
ketebak sih maksud dodi adalah dia pengen nyomblangin gue sama temen ceweknya dia sekaligus supaya gue bisa nemenin dia disana buat temen ngobrol. tapi gue rada males and ga selera. abis pikiran gue terus disenggol-senggol sama gigi kelinci nya chelsea olivia. makanya gue ga semangat sama advice nya dia and proyek comblang mencomblangi nya dia.
ceweknya dodi namanya gincu (nama samaran juga), dan temen nya gincu namanya susi. (nama samaran juga lah).
sori mai fren sebelumnya kalo kita pake nama samaran segala. karena lo ngerti lah, facebook kan terbuka untuk umum. takutnye kalo ada yang baca, suka ngerasa pede atau tersinggung. apalagi misalnya sandra dewi baca ini, pasti dia bakal nyamperin gue sambil teriak didepan pager rumah gue dengan lantang,
" SIAPA SUSI BEIBBBB!?!?!?! SIAPAAAAAA HAH?????????"
jadi mending gue pake nama samaran aje.
begindaaaaaaaaaaang!
gincu adalah pacar dodi. orang nya rada lemot, tapi pada dasar nya cantik dan putih. baik pula. makanya anak-anak sempet heran juga kenapa dodi yang mirip petasan boncos ini bisa jadian sama gincu yang manis-manis gula jawa, jelita bagai pita-pita. (halah zer!)
tapi entahlah. kadang hidup itu misteri ya kan? hehehe.
lain lagi susi. susi juga anak baik. bodinya standar gadis gadis kalender gitu lah fren. tapi ya face-nya, kurang gereget. terlepas dari semua itu, gue akuin sih dia emang baik orangnya. cantik di dalem gitu, gimana sih. tapi ya gimana, bukan tipe gue kali ya. ;)
(blagu lo zer, sumpah!)
ngeng, ngeng, ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan musyawarah seadanya, dengan pemikiran yang sempit dan tidak seksama akhirnya gue berangkat berdua sama dodi kepuncak.
abis gue bingung fren, taun baru ini mau gimana.
orang rumah gue udah pada tidur malah jam 07 malemnya. kayak mereka ga nyadar kalo besok adalah tahun baru dan dihari yang sungguh-sungguh sakral untuk meniup terompet dan merayakannya bersama-sama, tapi mereka malah terdampar di kasur kelelahan karena natal kemarennya. rasanya gue pengen teriak di kuping mereka atu-atu, "woooooooooooooy, ini taun baru woooooooooooooooy! bangun lo semuaaaaaaaaaaaa!"
tapi ga mungkin. bisa-bisa muka gue di tatoo gambar pantat kucing sama keluarga sendiri. mending gue ikut dodi.
mau ikut acara keluarga besar juga males. pasti gitu-gitu doang acaranya. dateng, makan, ngobrol, pulang. bete!
anak-anak yang lain juga pada ngambang rencananya. ada yang buka kamar di hotel ini lah. ada yang ke anyer lah. sampe ada yang nanjak ke gunung. tadinya sih gue mau ikut mereka pada. tapi gue agak ragu. yang di hotel, gue takut di gerebek BNN. gue orang sehat. jadi ga mau ke dokter yang buka prakter di hotel pula.
lain lagi yang di anyer. gue pikir sih, takut aje gitu pas lagi tiup-tiup terompet, eh kita semua malah ditiup tsunami. hahahahaha.
yang di gunung, mereka semua udah pada disana dari tiga hari sebelumnya. jadi ga mungkin juga gue nyusul gitu sendiri ke mereka yang mungkin sudah berkemah di puncak gunung. hahahahahahaha.
menurut bijak gue, dari pada gue harus ikutan tidur di rumah, and dari pada gue ga kemana-mana juga. mending gue santai-santai di vila yang sebenarnya gue ga kenal-kenal banget orangnya. tapi bodo. muka tembok, muka tembok deh ye. yang penting taun baru hari ini, gue bisa ngerasain dinginnya iklim tropis sambil menanti-nanti tetes-tetes hujan. paling enggak, taun baru gue keluar rumah lah.
perjalanan tidak begitu memakan waktu banyak. hanya memakan waktu sangat banyak.
jelas sekali, yang namanya puncak dimalam tahun baru itu macet nya se-kucing-kucing. jadi mau ga mau, gue harus nelen ludah saben kali roda kendaraan kita harus melaju satu inchi per-jamnya.
beruntung sih. walau kita tak sehebat rossi ataupun se-tengil ananda micola, tapi akhirnya kita sampai di vila pas sebelum tanggal 1 januari tahun dua ribu sekian.
sampe disana, idung gue mulai ke helder-helderan. bau makanan sedikit, lidah gue langsung keluar minta dilemparin kacang. laper banget perut gue. panjangnya perjalanan, lebih panjang dari pada panjangnya berurusan sama anak 234 sc. karena panjang itu pula, gembel-gembel yang ada di perut gue udah teriak-teriak, "turun kan makanan, brengsek! halal atau tidak, basi atau tidak, kami telan!"
gue udah kelaperan banget.
bener adanya. dua putri puncak ini (gincu dan susi) , menghampiri kami sambil mengucapkan salam. salam pertama mereka terdengar lebih meriah daripada jingle sebuah produk, lebih sakral dari tepuk pramuka, dan sama krusial nya dengan pancasila sila ke-5. ya! salam pertama mereka adalah, "udah pada makan belum nih?"
1 jam berlalu.
makanan sudah disapu bersih oleh dua mahluk titisan comberan ini. dengan tidak tahu malu, kami koyak-koyak apapun yang tergeletak lemas di meja makan. gue and dodi dalam sessi ini, terlihat begitu anarkis memang. kejam! hahahahahhahaha.
syurrrrrrr...........
waktu terus berjalan. ketika semua sudah dibereskan.
"eh, kenapa ga pada ke air terjun sekarang?!" sapa seorang ibu yang ternyata adalah ibundanya susi.
"oh iya, yuk kita ke air terjun!" gincu langsung nyamber.
gue masih bengong sambil menghayati betapa nikmatnya selonjoran.
susi hanya terlihat tersipu-sipu sambil mesem-mesem.
wajah dodi senyum kentang gitu, berkata "ho'o!"
singkat cerita mai fren, akhirnya kita menuju ke air terjun dengan tujuan countdown tahun baru disana.
sepanjang perjalanan gue bergumul.
"kampret banget ye si dodi. di sini gue jadi nyamuk nontonin dia pacaran sama gincu. sedangkan gue? sendiri tak berpasangan. nyesel gue ikut kesini. susi? ya elah. males! kalo ada luna maya sih, woke deh! (eh sori sandra dewi.. tetep kamu kok di imajinasi aku!)
hari ini emang dasar tahun baru tersial gue! mana sekarang gue disuruh jalan malem-malem, nanjak pula jalannya. gesrek abis otak gue!
rasanya nih, gue pengen nge-gelindingin badan gue sampe rumah gitu kalo bisa. tapi mustahil. gue udah terperangkap disini dan tidak bisa kemana-mana. keadaan seakan memaksa gue untuk terpaksa menikmati suasana dan manfaatkan apapun yang setidaknya membuat gue ikut merayakan tahun baru ini dengan senyuman dan ucapan syukur.
"ya, benar! gue ga boleh kelewat ngegumel aja. ga ada juntrungannya juga. percuma. mendingan gue have fun. nikmati alam yang ada dan sebenarnya dari tadi gue tidak menyadari kalau ternyata betapa indahnya alam raya ini."
gue tapaki jalan curam itu dengan senyuman perdana. memandangi tegap nya pohon pinus yang congkak. mereka berbaris begitu rapihnya. seperti peragawati yang berjalan berbarengan di akhir bagian acara fashion show. disisi lain, pandangan gue menantang ke cahaya-cahaya nan jauh diatas langit. tumben, bintang hari ini begitu ramai. sangat disayangkan kalau wajah gue hanya berkerut dan terlihat muram didepannya. di arah pandangan yang berbeda, sudut kota terlihat begitu jelas dengan kerlap kerlip lampunya. mungkin itu kota bogor 70 kilometer dari bola mata gue. begitu indah dilihatnya.
gue tapaki lagi jalan ini semakin mendekat ke air terjun.
didepan gue, gincu dan dodi malah asyik bercanda ria menikmati kekasmaran mereka. gue resapi. bertujuan ikut merasakan kebahagiaan mereka, walau jauh di palung hati gue yang paling dalam, "anjriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!" tapi gue berusaha ikut ceria.
susi yang dari tadi diem aja, ikut-ikutan senyum disebelah gue.
"duh chey, gue capek nih." sapa susi, akhirnya.
"yah, bentar lagi kali sus udah tahun baru. kita harus buru-buru sampe aer terjun sebelum kehilangan moment penting tahun ini." jawab gue semangat sambil mengelus-elus punggungnya.
susi lalu kembali tersenyum dan bertanya, "moment penting apa?"
"Ya taun baru lah dodol!" jawab gue sambil ngakak.
"ohh....????" sambung nya.
ia masih terlihat lelah, dan berkata "tapi capek deh serius."
sambil menarik tangannya dan terus berjalan menyusul dodi dan gincu gue bilang "ayooooooo!"
fiyuh, akhirnya sampe juga di air terjun.
ga nyangka. lumayan lah view nya dari yang sebelumnya gue kira.
di sini ternyata banyak orang jakarta pula yang turut ingin melewati tahun baru sambil maen ciprat-cipratan. ternyata kita ga cuma ber-empat. gue agak lega.
abis ga lucu kan gue pikir kalo berempat. saat dodi lagi asik nyium ceweknya, masa gue nyium susi juga yang kayaknya pasrah-pasrah aja. hahahahahahahaha.
enggak-enggak-enggak!
10, 9, 8, 7, 6, 3, 2, 1...
toetttttt..tereeeeeeeeeeet.. prepeeeeetpetpeeeeeeeeeeeeeeeet!
hip hip hurray!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
tepat ke detik setelah angka satu, gue langsung ingin berdoa. ingin bersyukur kalau sampai saat ini gue masih ganteng adanya. masih bernafas dan merasa dicukupkan apapun itu bentuknya. setiap masalah di tahun sebelumnya, sudah terselesaikan semuanya. hingga sampai pada akhirnya gue juga berdoa bahwasanya gue ingin segera diberi petunjuk dan pertolongan bakal kuliah dimana dan ngambil apa. maklum fren, setelah gagal masuk IPA yang merupakan syarat untuk bisa menjadi tentara nasional Indonesia, gue agak lepas arah soalnya. hahahahaha.
"doa yuk sus!" sapa gue pada susi mengajaknya berdoa.
setelah berdoa. dan memberi selamat tahun baru ke semua:
"pas banget ya sus, di tahun baru kayak gini ada orang yang disayang." gue memulai topik pembicaraan sambil melihat dodi dan gincu lagi maen siram-siraman. mereka terlihat semarak dan ceria sampai memaksa bibir gue untuk membentuk tawa-tawa kecil.
dengan bengong sebentar, seakan tak percaya tapi raut wajahnya terlihat seperti sedang menang undian 100juta, kata susi:
"apa?"
"ya pokoknya hari ini gue seneng banget. hari yang orang lain tidak akan pernah lupa, termasuk kita. 1 januari! gokiiiil!"
"lo serius chey?!"
"dari tadi gue udah kayak orang gila gini senyum-senyum sendiri, lo kira gue boong?"
"hmmmm.. hmmmm.."
"yeee, dia mikir!"
"eh.. eh... gue juga seneng hari ini. walau terlalu cepat, tapi gue juga sayang sama lo chey."
NAHLO!!!!!!!!
ada yang janggal nih kata-katanya.
dalam hati gue bertanya-tanya:
lho, kok ni cewek kodok satu malah ke situ-situ. sayang sama gue??????
kampret! tadi gue ngomong apa sih, kok dia ampe ngomong gini. padahal kan maksudnya ga ke arah situ. wah, salah pengertian nih.
"ehh, gini sus..."
beeeeeeeeeeeeet!
susi langsung memotong omongan gue dengan gayanya sambil muter-muterin rambut, "iya chey. aku ngerti kok kamu bakal mikir kalo kamu terlalu cepet ngomong gini. tapi aku bisa ngerti kok. perasaan kan datang tiba-tiba. aku bakal inget hari ini, hari jadian kita."
kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
saat dia ngomong gitu, seakan air terjun ngeguyur kepala gue.
pikiran gue langsung ke doraemon. gue pengen minta tolong dia supaya ngembaliin gue ke zaman nike ardilla masih idup aja. kampreeeeeeeeet!
gue langsung kebingungan. antara panik, ga enak, ngerasa bego, ketiban sial, itu semua udah nyampur-nyampur.
lalu gue senyum aja. tapi maksa. harusnya dia ngerasa kalo senyum gue maksa. menandakan kalo apa yang barusan susi omongin udah kelewat ngaco dan nyaris buat gue nyolok mata gue sendiri. tapi senyum maksa gue kayaknya udah ga berfungsi. dia malah meluk gue sambil kesenengan.
mampus gue!
gue galau.
ngerasa salah ngomong, salah topik, dan salah milih tempat taun baruan.
tapi gue ga enak sama dodi juga kalo misalnya gue ngejelasin ke susi tenang kesalahpahaman ini, malah nantinya gue minta pulang gara-gara2 gue tampar pake centog, and diusir sama susi. ga mungkin juga kan gue ngancurin acara kencan sahabat gue sendiri.
alhasil gue terjerumus.
mau ga mau, ancur ga ancur, gue mengiyakan saja kita udah jadian.
gaya males-malesan nya gue udah ga mempan di dia.
saat gue lagi males-malesan gitu deket dia, dia pikir gue lagi ngelucu. kampret!
sedangkan dodi, malah ngomong gini:
"bener kan fren dugaan gue, lo cocok banget ama dia."
cocok apenye! cocok puser nye!!!!!!!!
gue stress bukan kepalang. tapi mau ga mau, gue harus mendem rasa itu sendiri.
mau ga mau, siap ga siap..
"GUE PACAR SUSI"
*dua minggu setelahnya*
--------
"hah, elu salah ngomong?!" tanya dodi, kaget mendengar penjelasan gue di suatu kedai kopi.
gue, dengan acak-acakan nya rambut gue, gue jawab, "kaliii..."
"wah.. parah lo chey. dia baru aja disakitin sama cowok. dan katanya elu yang ngebuat dia bisa lepas dari sakit hati itu. terus sekarang lo bilang, jadian kemaren, salah pengertian? parah!" dodi membentak halus.
lalu dodi terus ngoceh, "mending lo jalanin aje lah. entar juga nongol sendiri tu perasaan. apa lagi, dia anak WAKAPOLDA di suatu propinsi gitu. terjamin lah chey biaya hidup lo. tapi kalo lo macem-macem, ati-ati di dor lo chey! tambahnya sambil tertawa-tawa atas kebodohan gue yang menjerumuskan gue sendiri.
gue sempet mikir gitu ya fren, mending gue nyusul temen gue aje ke gunung dari pada gue harus jadian sama susi. salah banget. orangnya baik, tapi gue harus nipu-nipu orang baik setiap jamnya. tersiksa gue!
tapi ga bisa ke mana-mana juga.
duh sumpah fren, hubungan ini buat gue bingung.
mana kayaknya susi udah sayang gitu lagi kan sama gue. sedangkan, gue malah makin handal ngebohongin susi and terus menerus menutupi yang sebenarnya.
sangking galaunya raga dan jiwa ini, akhirnya gue lewati hari demi hari dengan terus nipu dia. belaga seneng, belaga sayang aja. asalkan dia tetep senyum aja di depan gue. gue kuatir gue nyakitin hati dia. tapi tanda disadari, gue semakin menggali lobang yang dalam buat kuburan gue sendiri.
sempet gue pun berusaha mancing supaya ada chemistri sama susi, tapi tetep ga kena-kena.
gue bingung, tapi gue juga bodo amat.
semua terus berjalan sesuai dengan tipu daya gue.
tapi,
sesuatu yang tidak di inginkan pun tiba.
diteras rumahnya, tiba-tiba sosok tinggi, tegap, coklat, rapih, dan berwibawa muncul saat susi sedang membuatkan gue minuman.
sorot matanya tajam mengancam. suaranya tenang tapi tajam. kepalan tangannya sebesar peluru meriam kayaknya. alisnya mengerut. caraya menatap gue seperti cara kingkong menatap lo saat lo ngerebut pisang dari kingkong itu.
mampus, itu bokapnya susi!
ia berjalan dengan tegap dan teratur.
bercelanakan pendek sambil menggengam lipatan koran hari ini.
ia menatap gue lama, lalu duduk disamping gue. ia membuka lipatan korannya.
sedangkan pikiran gue beragam, antara nyariinn baygon buat diminum, atau nyekek leher gue pake sedotan.
suasana agak hening sebelumnya.
tiba-tiba:
"KAMU SIAPANYA SUSI?"
(mampus gue, mampuus!
DORAEMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
ahhhhh! kenapa mahluk mengerikan ini adalah bokap pacar gue sendiri. gumul gue dalem hati.
dia duduk disamping gue dengan nada yang halus tetapi tajam. rambutnya yang cepak dan lingkar wajahnya yang kekar meyakinkan gue kalo misalnya gue salah ngomong sedikit aja, mulut gue bakal di sumpel pake koran yang lagi dia baca.
"hmmm, bukan pak!, eh, om?!" jawab gue berlumur keringat dingin.
senyum gue maksa. persis kayak lagi boker sambil ngaca.
lalu gue sambung, "saya di kenalin nani (temen sekelasnya susi)."
duh, tegang gue. baru kali ini gue ngadepin bokap pacar yang setelannya kayak panglima perang. apalagi idungnya besar. gue takut kalo dia bersin, terus ingusnya muncrat ke muka gue. ampun-ampun deh.
sambil membolak-balik lembar koran hari ini, bokapnya mengerutkan dahi nya. sepertinya pertanda kalau dia mulai ngira gue anak berandalan ga jelas yang udah berani-berani macarin anak perempuannya, anak tunggal satu-satunya.
abis gimana ga mau kritis nanyain gue nya. secara penampilan gue hari itu pake kaos oblong butek yang tulisannya udah luntur-luntur, ditambah lagi sendal jepit, celana pendek, sama jacket andelan yang belum gue cuci selama 2 bulan. gue kuatir kalau-kalau dia menyangka gue adalah tukang jualan batagor disekolah anaknya.
"kenal dimana?" tanya sang bapak satu ini lebih tegas dari sebelumnya. gue pikir dia lagi menginterogasi gue.
"eh, kenalnya kalo ga salah pas ulang tahun susi om. tukeran nomor, terus akhirnya jadi deket."
aduh mati. gue kelewat jujur.
kenapa juga gue mesti bilang tuker-tukeran nomor segala.
salah gue. gue berusaha agar tidak terlihat panik. tapi malah fatal.
kenapa juga gue ga bilang aja kenalnya di seminar anti narkoba. atau mungkin kenalan di suatu ibadah. duh, bego deh.
pasti dia bakal ngira gue playboy cap kepala bebek.
pusing gue.
"tinggal dimana?"
"sekolah dimana?"
"kelas berapa?"
"asli nya dimana?"
dan seterusnya, dan seterusnya.
mampuy mampuy mampuy.
kenapa jadi nanya terus ni raksasa ireng. pasti lepas ni orang dari kandangnya. apa gue telpon taman safari aja kali ya, terus bilang kalo beruang grizzle nya lepas dan membuat ke onaran diperkampungan. ato enggak, gue telfon departemen kehutanan buat ngasih tau kalo badak bercula satu lagi baca koran.
tapi gue urungkan niat itu saat gue sadar bahwa umur gue udah ga lama lagi. gue bakal terbunuh oleh kepanikan gue sendiri.
tapi aneh sih.
dari dulu emang gue agak males ketemu sama apa yang namanya bokap pacar. tau deh kenapa.
nah sekarang, gue mesti ngadepin bokap pacar yang jabatannya adalah WAKAPOLDA disuatu propinsi. gimana gue ga kebelet kencing ngobrol sama dia.
waktu itu gue masih SMA. gaya gue begajulan. suka kebut-kebutan and bolos sekolah. gaya ngomong gue selenge'an dan mungkin tidak bertata krama. ditambah lagi, penampilan gue juga persis kayak kucing kecemplung di comberan. jauh dari wibawa.
sedangkan kali ini, kebetulan gue berpacaran dengan cewek baik, pintar, bermartabat, anak tunggal seorang wakapolda. rasanya gue telah menerjunkan diri gue ke jurang dengan tanpa busana. kampret!
disisi lain, gue takut dikira utusan teroris yang ingin menyandera anak aparat negara ini.
sebenarnya sih jadian sama susi ini bisa dibilang ga sengaja.
cuma karena gue salah ngomong, terus susinya salah tangkep lalu kepedean. n tau-tau seluruh dunia tau kalo kita udah jadian. karena gue ga enakan orangnya, ya jadian juga akhirnya.
nyokapnya susi kerja di BNN. tapi beliau lebih ramah. berbeda dengan sang papa yang terus-terusan melotot kayak helder merhatiin tulang.
makanya sesegera mungkin gue mau mengakhiri hubungan ini.
tersiksa juga ngebohongin susi juga ngebohongin perasaan sendiri. cuma gue masih belum tau caranya.
tapi sepertinya, gue uda terjerumus.
keluarga susi seperti mencoba mengenal gue lebih dalam.
gue berharap banget kalo si bokap bakal bilang ke susi:
"TINGGALKAN ANAK BERANDALAN ITU! PAPA TIDAK MAU PUNYA MENANTU YANG GANTENG!"
otak gue udah mumet ngomong sama bokapnya susi terus menerus. pikiran gue jadi ga di badan.
sedangkan susi yang katanya bikinin gue orange juice di dapur, malah ga balik-balik. gue sempet mikir kalo dia di kira ceker ayam sama pembantunya, terus di goreng di atas wajan. hahahahahaha.
tiba-tiba si bokap berdiri. meneruskan tapak kakinya ke sebuah kandang burung beo yang sepertinya burung beo kesayangannya.
sambil menjetikkan jarinya, "kerrr.. kerrr..", dia nanya gue lagi.
"memang cita-cita kamu apa?"
gaya bertanyanya agak lembut. membelakangi gue dan mengarahkan pandangannya kearah burung beo. sedangkan muka gue, persis satu meter di depan pantat tu bokap yang lagi nungging.
rasanya pengen gue colok pantatnya pake sapu lidi. argggh!
waktu itu gue bingung.
tapi berusaha mencairkan suasana, gue jawab.
"jadi polisi, om!"
tujuan gue agak caper. biar dia agak akrab sama gue and ga terkesan galak lagi.
harapan gue, dia bakal ngejawab, "oya? bagus dong. nanti om bantu."
tapi ternyata perkiraan gue salah.
dia berbalik arah. menatap gue dengan bola matanya yang runcing seruncing kuku ibu mertua.
katanya,"POLISI????"
"hhh... iya om. polisi." jawab gue memaksa untuk santai. padahal sebentar lagi gue bakal kencing dicelana.
"dengan gaya kamu yang berantakan seperti ini, kamu mau jadi polisi?" tegur nya menghantam otak gue.
mampus! gue salah jawab. nyesel gue jawab ngasal. padahal waktu itu gue mau bilang jadi pengacara atau insinyur. tapi malah gue milih polisi. bego banget gue. harusnya gue nyadar diri kalo tampang kayak gue ini lebih cocok jadi model. argh, salah lagi gue.
tapi gue berusaha mengelak dan berkata, "dulu sih saya mau jadi pemain bola om. cuma karena..."
"PEMAIN BOLA!" potongnya dengan suara keras. suaranya mirip suara kurt cobain kalo lagi keselek gitar.
"KAMU TAU, SUSI ITU ANAK SAYA SATU-SATUNYA. KALAU KAMU MACAM-MACAM SAMA DIA, KAMU BERHADAPAN DENGAN SAYA. DENGAN POLISI!"
duh, gue sadar. gue malah makin bego ternyata.
beruntung sosok yang ditunggu datang mengakhiri bahan pembicaraan kita.
"sayang, nih orange juice nya." sapa susi dengan senyuman seperti tikus.
"pada ngobrolin apa sih?" sambung susi terlihat penasaran.
"ohhhhh.. ini papa bilang ke dia, kalo dia cocok jadi polisi, Sus." jawab papanya sambil meraih koran yang tergeletak di meja.
"yasudah, papa masuk dulu ya sus. ngantuk." kata sang bapak yang hampir gue cakar mukanya.
hari itu adalah hari terakhir gue menginjak rumah itu.
beberapa hari kemudian gue putus.
kamprettttttttttttttt!
grrrrrrrrrrr
"duh, dimane sih tu aer terjun-aer terjunan! mane jauh bener lagi dah jalan kakinye. ude pu'unannye banyak buener lagi dah. kali-kali ada kuntilanak kan berabe! gresek bet dah gue!"
gumul gue dalam hati versi bahasa anak bekasi.
hari itu gue bener-bener terperangkap. terpaksa harus merayakan tahun baru yang tidak sesuai dengan apa yang gue bayangkan sebelumnya. bahkan gue tidak hanya terperangkap, tetapi juga terjerumus. terjerumus oleh kecorobohan gue sendiri, dan sangat sulit untuk kembali lagi.
gue masih inget hari itu, adalah tanggal 31 desember dua ribu sekian bertempat di suatu vila didaerah puncak, jawa barat.
di hari sebelumnya:
"gimana chey, nanti sore gue berangkat ke puncak nih nyusulin cewek gue di puncak. lo jadi ikut ga?"
dodi (nama samaran) adalah temen gue dari SMP. temen bae tepatnya. kulitnya coklat gelap. tapi suka dikatain 'item' sama orang-orang. gue sih ga bilang dia item, tapi menurut gue, dia hitam kelam seperti ampas kopi yang bekas di minum supir metromini! hahahahaha, lebih parah!
dari jauh-jauh hari dodi udah nawarin gue kalo mendingan gue ikut taun baruan bareng dia ke puncak, bareng ceweknya and temen ceweknya, and bareng keluarga dari temen ceweknya. cuma gue selalu bilang liat nanti liat nanti and liat nanti.
ketebak sih maksud dodi adalah dia pengen nyomblangin gue sama temen ceweknya dia sekaligus supaya gue bisa nemenin dia disana buat temen ngobrol. tapi gue rada males and ga selera. abis pikiran gue terus disenggol-senggol sama gigi kelinci nya chelsea olivia. makanya gue ga semangat sama advice nya dia and proyek comblang mencomblangi nya dia.
ceweknya dodi namanya gincu (nama samaran juga), dan temen nya gincu namanya susi. (nama samaran juga lah).
sori mai fren sebelumnya kalo kita pake nama samaran segala. karena lo ngerti lah, facebook kan terbuka untuk umum. takutnye kalo ada yang baca, suka ngerasa pede atau tersinggung. apalagi misalnya sandra dewi baca ini, pasti dia bakal nyamperin gue sambil teriak didepan pager rumah gue dengan lantang,
" SIAPA SUSI BEIBBBB!?!?!?! SIAPAAAAAA HAH?????????"
jadi mending gue pake nama samaran aje.
begindaaaaaaaaaaang!
gincu adalah pacar dodi. orang nya rada lemot, tapi pada dasar nya cantik dan putih. baik pula. makanya anak-anak sempet heran juga kenapa dodi yang mirip petasan boncos ini bisa jadian sama gincu yang manis-manis gula jawa, jelita bagai pita-pita. (halah zer!)
tapi entahlah. kadang hidup itu misteri ya kan? hehehe.
lain lagi susi. susi juga anak baik. bodinya standar gadis gadis kalender gitu lah fren. tapi ya face-nya, kurang gereget. terlepas dari semua itu, gue akuin sih dia emang baik orangnya. cantik di dalem gitu, gimana sih. tapi ya gimana, bukan tipe gue kali ya. ;)
(blagu lo zer, sumpah!)
ngeng, ngeng, ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan musyawarah seadanya, dengan pemikiran yang sempit dan tidak seksama akhirnya gue berangkat berdua sama dodi kepuncak.
abis gue bingung fren, taun baru ini mau gimana.
orang rumah gue udah pada tidur malah jam 07 malemnya. kayak mereka ga nyadar kalo besok adalah tahun baru dan dihari yang sungguh-sungguh sakral untuk meniup terompet dan merayakannya bersama-sama, tapi mereka malah terdampar di kasur kelelahan karena natal kemarennya. rasanya gue pengen teriak di kuping mereka atu-atu, "woooooooooooooy, ini taun baru woooooooooooooooy! bangun lo semuaaaaaaaaaaaa!"
tapi ga mungkin. bisa-bisa muka gue di tatoo gambar pantat kucing sama keluarga sendiri. mending gue ikut dodi.
mau ikut acara keluarga besar juga males. pasti gitu-gitu doang acaranya. dateng, makan, ngobrol, pulang. bete!
anak-anak yang lain juga pada ngambang rencananya. ada yang buka kamar di hotel ini lah. ada yang ke anyer lah. sampe ada yang nanjak ke gunung. tadinya sih gue mau ikut mereka pada. tapi gue agak ragu. yang di hotel, gue takut di gerebek BNN. gue orang sehat. jadi ga mau ke dokter yang buka prakter di hotel pula.
lain lagi yang di anyer. gue pikir sih, takut aje gitu pas lagi tiup-tiup terompet, eh kita semua malah ditiup tsunami. hahahahaha.
yang di gunung, mereka semua udah pada disana dari tiga hari sebelumnya. jadi ga mungkin juga gue nyusul gitu sendiri ke mereka yang mungkin sudah berkemah di puncak gunung. hahahahahahaha.
menurut bijak gue, dari pada gue harus ikutan tidur di rumah, and dari pada gue ga kemana-mana juga. mending gue santai-santai di vila yang sebenarnya gue ga kenal-kenal banget orangnya. tapi bodo. muka tembok, muka tembok deh ye. yang penting taun baru hari ini, gue bisa ngerasain dinginnya iklim tropis sambil menanti-nanti tetes-tetes hujan. paling enggak, taun baru gue keluar rumah lah.
perjalanan tidak begitu memakan waktu banyak. hanya memakan waktu sangat banyak.
jelas sekali, yang namanya puncak dimalam tahun baru itu macet nya se-kucing-kucing. jadi mau ga mau, gue harus nelen ludah saben kali roda kendaraan kita harus melaju satu inchi per-jamnya.
beruntung sih. walau kita tak sehebat rossi ataupun se-tengil ananda micola, tapi akhirnya kita sampai di vila pas sebelum tanggal 1 januari tahun dua ribu sekian.
sampe disana, idung gue mulai ke helder-helderan. bau makanan sedikit, lidah gue langsung keluar minta dilemparin kacang. laper banget perut gue. panjangnya perjalanan, lebih panjang dari pada panjangnya berurusan sama anak 234 sc. karena panjang itu pula, gembel-gembel yang ada di perut gue udah teriak-teriak, "turun kan makanan, brengsek! halal atau tidak, basi atau tidak, kami telan!"
gue udah kelaperan banget.
bener adanya. dua putri puncak ini (gincu dan susi) , menghampiri kami sambil mengucapkan salam. salam pertama mereka terdengar lebih meriah daripada jingle sebuah produk, lebih sakral dari tepuk pramuka, dan sama krusial nya dengan pancasila sila ke-5. ya! salam pertama mereka adalah, "udah pada makan belum nih?"
1 jam berlalu.
makanan sudah disapu bersih oleh dua mahluk titisan comberan ini. dengan tidak tahu malu, kami koyak-koyak apapun yang tergeletak lemas di meja makan. gue and dodi dalam sessi ini, terlihat begitu anarkis memang. kejam! hahahahahhahaha.
syurrrrrrr...........
waktu terus berjalan. ketika semua sudah dibereskan.
"eh, kenapa ga pada ke air terjun sekarang?!" sapa seorang ibu yang ternyata adalah ibundanya susi.
"oh iya, yuk kita ke air terjun!" gincu langsung nyamber.
gue masih bengong sambil menghayati betapa nikmatnya selonjoran.
susi hanya terlihat tersipu-sipu sambil mesem-mesem.
wajah dodi senyum kentang gitu, berkata "ho'o!"
singkat cerita mai fren, akhirnya kita menuju ke air terjun dengan tujuan countdown tahun baru disana.
sepanjang perjalanan gue bergumul.
"kampret banget ye si dodi. di sini gue jadi nyamuk nontonin dia pacaran sama gincu. sedangkan gue? sendiri tak berpasangan. nyesel gue ikut kesini. susi? ya elah. males! kalo ada luna maya sih, woke deh! (eh sori sandra dewi.. tetep kamu kok di imajinasi aku!)
hari ini emang dasar tahun baru tersial gue! mana sekarang gue disuruh jalan malem-malem, nanjak pula jalannya. gesrek abis otak gue!
rasanya nih, gue pengen nge-gelindingin badan gue sampe rumah gitu kalo bisa. tapi mustahil. gue udah terperangkap disini dan tidak bisa kemana-mana. keadaan seakan memaksa gue untuk terpaksa menikmati suasana dan manfaatkan apapun yang setidaknya membuat gue ikut merayakan tahun baru ini dengan senyuman dan ucapan syukur.
"ya, benar! gue ga boleh kelewat ngegumel aja. ga ada juntrungannya juga. percuma. mendingan gue have fun. nikmati alam yang ada dan sebenarnya dari tadi gue tidak menyadari kalau ternyata betapa indahnya alam raya ini."
gue tapaki jalan curam itu dengan senyuman perdana. memandangi tegap nya pohon pinus yang congkak. mereka berbaris begitu rapihnya. seperti peragawati yang berjalan berbarengan di akhir bagian acara fashion show. disisi lain, pandangan gue menantang ke cahaya-cahaya nan jauh diatas langit. tumben, bintang hari ini begitu ramai. sangat disayangkan kalau wajah gue hanya berkerut dan terlihat muram didepannya. di arah pandangan yang berbeda, sudut kota terlihat begitu jelas dengan kerlap kerlip lampunya. mungkin itu kota bogor 70 kilometer dari bola mata gue. begitu indah dilihatnya.
gue tapaki lagi jalan ini semakin mendekat ke air terjun.
didepan gue, gincu dan dodi malah asyik bercanda ria menikmati kekasmaran mereka. gue resapi. bertujuan ikut merasakan kebahagiaan mereka, walau jauh di palung hati gue yang paling dalam, "anjriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!" tapi gue berusaha ikut ceria.
susi yang dari tadi diem aja, ikut-ikutan senyum disebelah gue.
"duh chey, gue capek nih." sapa susi, akhirnya.
"yah, bentar lagi kali sus udah tahun baru. kita harus buru-buru sampe aer terjun sebelum kehilangan moment penting tahun ini." jawab gue semangat sambil mengelus-elus punggungnya.
susi lalu kembali tersenyum dan bertanya, "moment penting apa?"
"Ya taun baru lah dodol!" jawab gue sambil ngakak.
"ohh....????" sambung nya.
ia masih terlihat lelah, dan berkata "tapi capek deh serius."
sambil menarik tangannya dan terus berjalan menyusul dodi dan gincu gue bilang "ayooooooo!"
fiyuh, akhirnya sampe juga di air terjun.
ga nyangka. lumayan lah view nya dari yang sebelumnya gue kira.
di sini ternyata banyak orang jakarta pula yang turut ingin melewati tahun baru sambil maen ciprat-cipratan. ternyata kita ga cuma ber-empat. gue agak lega.
abis ga lucu kan gue pikir kalo berempat. saat dodi lagi asik nyium ceweknya, masa gue nyium susi juga yang kayaknya pasrah-pasrah aja. hahahahahahahaha.
enggak-enggak-enggak!
10, 9, 8, 7, 6, 3, 2, 1...
toetttttt..tereeeeeeeeeeet.. prepeeeeetpetpeeeeeeeeeeeeeeeet!
hip hip hurray!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
tepat ke detik setelah angka satu, gue langsung ingin berdoa. ingin bersyukur kalau sampai saat ini gue masih ganteng adanya. masih bernafas dan merasa dicukupkan apapun itu bentuknya. setiap masalah di tahun sebelumnya, sudah terselesaikan semuanya. hingga sampai pada akhirnya gue juga berdoa bahwasanya gue ingin segera diberi petunjuk dan pertolongan bakal kuliah dimana dan ngambil apa. maklum fren, setelah gagal masuk IPA yang merupakan syarat untuk bisa menjadi tentara nasional Indonesia, gue agak lepas arah soalnya. hahahahaha.
"doa yuk sus!" sapa gue pada susi mengajaknya berdoa.
setelah berdoa. dan memberi selamat tahun baru ke semua:
"pas banget ya sus, di tahun baru kayak gini ada orang yang disayang." gue memulai topik pembicaraan sambil melihat dodi dan gincu lagi maen siram-siraman. mereka terlihat semarak dan ceria sampai memaksa bibir gue untuk membentuk tawa-tawa kecil.
dengan bengong sebentar, seakan tak percaya tapi raut wajahnya terlihat seperti sedang menang undian 100juta, kata susi:
"apa?"
"ya pokoknya hari ini gue seneng banget. hari yang orang lain tidak akan pernah lupa, termasuk kita. 1 januari! gokiiiil!"
"lo serius chey?!"
"dari tadi gue udah kayak orang gila gini senyum-senyum sendiri, lo kira gue boong?"
"hmmmm.. hmmmm.."
"yeee, dia mikir!"
"eh.. eh... gue juga seneng hari ini. walau terlalu cepat, tapi gue juga sayang sama lo chey."
NAHLO!!!!!!!!
ada yang janggal nih kata-katanya.
dalam hati gue bertanya-tanya:
lho, kok ni cewek kodok satu malah ke situ-situ. sayang sama gue??????
kampret! tadi gue ngomong apa sih, kok dia ampe ngomong gini. padahal kan maksudnya ga ke arah situ. wah, salah pengertian nih.
"ehh, gini sus..."
beeeeeeeeeeeeet!
susi langsung memotong omongan gue dengan gayanya sambil muter-muterin rambut, "iya chey. aku ngerti kok kamu bakal mikir kalo kamu terlalu cepet ngomong gini. tapi aku bisa ngerti kok. perasaan kan datang tiba-tiba. aku bakal inget hari ini, hari jadian kita."
kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
saat dia ngomong gitu, seakan air terjun ngeguyur kepala gue.
pikiran gue langsung ke doraemon. gue pengen minta tolong dia supaya ngembaliin gue ke zaman nike ardilla masih idup aja. kampreeeeeeeeet!
gue langsung kebingungan. antara panik, ga enak, ngerasa bego, ketiban sial, itu semua udah nyampur-nyampur.
lalu gue senyum aja. tapi maksa. harusnya dia ngerasa kalo senyum gue maksa. menandakan kalo apa yang barusan susi omongin udah kelewat ngaco dan nyaris buat gue nyolok mata gue sendiri. tapi senyum maksa gue kayaknya udah ga berfungsi. dia malah meluk gue sambil kesenengan.
mampus gue!
gue galau.
ngerasa salah ngomong, salah topik, dan salah milih tempat taun baruan.
tapi gue ga enak sama dodi juga kalo misalnya gue ngejelasin ke susi tenang kesalahpahaman ini, malah nantinya gue minta pulang gara-gara2 gue tampar pake centog, and diusir sama susi. ga mungkin juga kan gue ngancurin acara kencan sahabat gue sendiri.
alhasil gue terjerumus.
mau ga mau, ancur ga ancur, gue mengiyakan saja kita udah jadian.
gaya males-malesan nya gue udah ga mempan di dia.
saat gue lagi males-malesan gitu deket dia, dia pikir gue lagi ngelucu. kampret!
sedangkan dodi, malah ngomong gini:
"bener kan fren dugaan gue, lo cocok banget ama dia."
cocok apenye! cocok puser nye!!!!!!!!
gue stress bukan kepalang. tapi mau ga mau, gue harus mendem rasa itu sendiri.
mau ga mau, siap ga siap..
"GUE PACAR SUSI"
*dua minggu setelahnya*
--------
"hah, elu salah ngomong?!" tanya dodi, kaget mendengar penjelasan gue di suatu kedai kopi.
gue, dengan acak-acakan nya rambut gue, gue jawab, "kaliii..."
"wah.. parah lo chey. dia baru aja disakitin sama cowok. dan katanya elu yang ngebuat dia bisa lepas dari sakit hati itu. terus sekarang lo bilang, jadian kemaren, salah pengertian? parah!" dodi membentak halus.
lalu dodi terus ngoceh, "mending lo jalanin aje lah. entar juga nongol sendiri tu perasaan. apa lagi, dia anak WAKAPOLDA di suatu propinsi gitu. terjamin lah chey biaya hidup lo. tapi kalo lo macem-macem, ati-ati di dor lo chey! tambahnya sambil tertawa-tawa atas kebodohan gue yang menjerumuskan gue sendiri.
gue sempet mikir gitu ya fren, mending gue nyusul temen gue aje ke gunung dari pada gue harus jadian sama susi. salah banget. orangnya baik, tapi gue harus nipu-nipu orang baik setiap jamnya. tersiksa gue!
tapi ga bisa ke mana-mana juga.
duh sumpah fren, hubungan ini buat gue bingung.
mana kayaknya susi udah sayang gitu lagi kan sama gue. sedangkan, gue malah makin handal ngebohongin susi and terus menerus menutupi yang sebenarnya.
sangking galaunya raga dan jiwa ini, akhirnya gue lewati hari demi hari dengan terus nipu dia. belaga seneng, belaga sayang aja. asalkan dia tetep senyum aja di depan gue. gue kuatir gue nyakitin hati dia. tapi tanda disadari, gue semakin menggali lobang yang dalam buat kuburan gue sendiri.
sempet gue pun berusaha mancing supaya ada chemistri sama susi, tapi tetep ga kena-kena.
gue bingung, tapi gue juga bodo amat.
semua terus berjalan sesuai dengan tipu daya gue.
tapi,
sesuatu yang tidak di inginkan pun tiba.
diteras rumahnya, tiba-tiba sosok tinggi, tegap, coklat, rapih, dan berwibawa muncul saat susi sedang membuatkan gue minuman.
sorot matanya tajam mengancam. suaranya tenang tapi tajam. kepalan tangannya sebesar peluru meriam kayaknya. alisnya mengerut. caraya menatap gue seperti cara kingkong menatap lo saat lo ngerebut pisang dari kingkong itu.
mampus, itu bokapnya susi!
ia berjalan dengan tegap dan teratur.
bercelanakan pendek sambil menggengam lipatan koran hari ini.
ia menatap gue lama, lalu duduk disamping gue. ia membuka lipatan korannya.
sedangkan pikiran gue beragam, antara nyariinn baygon buat diminum, atau nyekek leher gue pake sedotan.
suasana agak hening sebelumnya.
tiba-tiba:
"KAMU SIAPANYA SUSI?"
(mampus gue, mampuus!
DORAEMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
ahhhhh! kenapa mahluk mengerikan ini adalah bokap pacar gue sendiri. gumul gue dalem hati.
dia duduk disamping gue dengan nada yang halus tetapi tajam. rambutnya yang cepak dan lingkar wajahnya yang kekar meyakinkan gue kalo misalnya gue salah ngomong sedikit aja, mulut gue bakal di sumpel pake koran yang lagi dia baca.
"hmmm, bukan pak!, eh, om?!" jawab gue berlumur keringat dingin.
senyum gue maksa. persis kayak lagi boker sambil ngaca.
lalu gue sambung, "saya di kenalin nani (temen sekelasnya susi)."
duh, tegang gue. baru kali ini gue ngadepin bokap pacar yang setelannya kayak panglima perang. apalagi idungnya besar. gue takut kalo dia bersin, terus ingusnya muncrat ke muka gue. ampun-ampun deh.
sambil membolak-balik lembar koran hari ini, bokapnya mengerutkan dahi nya. sepertinya pertanda kalau dia mulai ngira gue anak berandalan ga jelas yang udah berani-berani macarin anak perempuannya, anak tunggal satu-satunya.
abis gimana ga mau kritis nanyain gue nya. secara penampilan gue hari itu pake kaos oblong butek yang tulisannya udah luntur-luntur, ditambah lagi sendal jepit, celana pendek, sama jacket andelan yang belum gue cuci selama 2 bulan. gue kuatir kalau-kalau dia menyangka gue adalah tukang jualan batagor disekolah anaknya.
"kenal dimana?" tanya sang bapak satu ini lebih tegas dari sebelumnya. gue pikir dia lagi menginterogasi gue.
"eh, kenalnya kalo ga salah pas ulang tahun susi om. tukeran nomor, terus akhirnya jadi deket."
aduh mati. gue kelewat jujur.
kenapa juga gue mesti bilang tuker-tukeran nomor segala.
salah gue. gue berusaha agar tidak terlihat panik. tapi malah fatal.
kenapa juga gue ga bilang aja kenalnya di seminar anti narkoba. atau mungkin kenalan di suatu ibadah. duh, bego deh.
pasti dia bakal ngira gue playboy cap kepala bebek.
pusing gue.
"tinggal dimana?"
"sekolah dimana?"
"kelas berapa?"
"asli nya dimana?"
dan seterusnya, dan seterusnya.
mampuy mampuy mampuy.
kenapa jadi nanya terus ni raksasa ireng. pasti lepas ni orang dari kandangnya. apa gue telpon taman safari aja kali ya, terus bilang kalo beruang grizzle nya lepas dan membuat ke onaran diperkampungan. ato enggak, gue telfon departemen kehutanan buat ngasih tau kalo badak bercula satu lagi baca koran.
tapi gue urungkan niat itu saat gue sadar bahwa umur gue udah ga lama lagi. gue bakal terbunuh oleh kepanikan gue sendiri.
tapi aneh sih.
dari dulu emang gue agak males ketemu sama apa yang namanya bokap pacar. tau deh kenapa.
nah sekarang, gue mesti ngadepin bokap pacar yang jabatannya adalah WAKAPOLDA disuatu propinsi. gimana gue ga kebelet kencing ngobrol sama dia.
waktu itu gue masih SMA. gaya gue begajulan. suka kebut-kebutan and bolos sekolah. gaya ngomong gue selenge'an dan mungkin tidak bertata krama. ditambah lagi, penampilan gue juga persis kayak kucing kecemplung di comberan. jauh dari wibawa.
sedangkan kali ini, kebetulan gue berpacaran dengan cewek baik, pintar, bermartabat, anak tunggal seorang wakapolda. rasanya gue telah menerjunkan diri gue ke jurang dengan tanpa busana. kampret!
disisi lain, gue takut dikira utusan teroris yang ingin menyandera anak aparat negara ini.
sebenarnya sih jadian sama susi ini bisa dibilang ga sengaja.
cuma karena gue salah ngomong, terus susinya salah tangkep lalu kepedean. n tau-tau seluruh dunia tau kalo kita udah jadian. karena gue ga enakan orangnya, ya jadian juga akhirnya.
nyokapnya susi kerja di BNN. tapi beliau lebih ramah. berbeda dengan sang papa yang terus-terusan melotot kayak helder merhatiin tulang.
makanya sesegera mungkin gue mau mengakhiri hubungan ini.
tersiksa juga ngebohongin susi juga ngebohongin perasaan sendiri. cuma gue masih belum tau caranya.
tapi sepertinya, gue uda terjerumus.
keluarga susi seperti mencoba mengenal gue lebih dalam.
gue berharap banget kalo si bokap bakal bilang ke susi:
"TINGGALKAN ANAK BERANDALAN ITU! PAPA TIDAK MAU PUNYA MENANTU YANG GANTENG!"
otak gue udah mumet ngomong sama bokapnya susi terus menerus. pikiran gue jadi ga di badan.
sedangkan susi yang katanya bikinin gue orange juice di dapur, malah ga balik-balik. gue sempet mikir kalo dia di kira ceker ayam sama pembantunya, terus di goreng di atas wajan. hahahahahaha.
tiba-tiba si bokap berdiri. meneruskan tapak kakinya ke sebuah kandang burung beo yang sepertinya burung beo kesayangannya.
sambil menjetikkan jarinya, "kerrr.. kerrr..", dia nanya gue lagi.
"memang cita-cita kamu apa?"
gaya bertanyanya agak lembut. membelakangi gue dan mengarahkan pandangannya kearah burung beo. sedangkan muka gue, persis satu meter di depan pantat tu bokap yang lagi nungging.
rasanya pengen gue colok pantatnya pake sapu lidi. argggh!
waktu itu gue bingung.
tapi berusaha mencairkan suasana, gue jawab.
"jadi polisi, om!"
tujuan gue agak caper. biar dia agak akrab sama gue and ga terkesan galak lagi.
harapan gue, dia bakal ngejawab, "oya? bagus dong. nanti om bantu."
tapi ternyata perkiraan gue salah.
dia berbalik arah. menatap gue dengan bola matanya yang runcing seruncing kuku ibu mertua.
katanya,"POLISI????"
"hhh... iya om. polisi." jawab gue memaksa untuk santai. padahal sebentar lagi gue bakal kencing dicelana.
"dengan gaya kamu yang berantakan seperti ini, kamu mau jadi polisi?" tegur nya menghantam otak gue.
mampus! gue salah jawab. nyesel gue jawab ngasal. padahal waktu itu gue mau bilang jadi pengacara atau insinyur. tapi malah gue milih polisi. bego banget gue. harusnya gue nyadar diri kalo tampang kayak gue ini lebih cocok jadi model. argh, salah lagi gue.
tapi gue berusaha mengelak dan berkata, "dulu sih saya mau jadi pemain bola om. cuma karena..."
"PEMAIN BOLA!" potongnya dengan suara keras. suaranya mirip suara kurt cobain kalo lagi keselek gitar.
"KAMU TAU, SUSI ITU ANAK SAYA SATU-SATUNYA. KALAU KAMU MACAM-MACAM SAMA DIA, KAMU BERHADAPAN DENGAN SAYA. DENGAN POLISI!"
duh, gue sadar. gue malah makin bego ternyata.
beruntung sosok yang ditunggu datang mengakhiri bahan pembicaraan kita.
"sayang, nih orange juice nya." sapa susi dengan senyuman seperti tikus.
"pada ngobrolin apa sih?" sambung susi terlihat penasaran.
"ohhhhh.. ini papa bilang ke dia, kalo dia cocok jadi polisi, Sus." jawab papanya sambil meraih koran yang tergeletak di meja.
"yasudah, papa masuk dulu ya sus. ngantuk." kata sang bapak yang hampir gue cakar mukanya.
hari itu adalah hari terakhir gue menginjak rumah itu.
beberapa hari kemudian gue putus.
kamprettttttttttttttt!
grrrrrrrrrrr
gumul gue dalam hati versi bahasa anak bekasi.
hari itu gue bener-bener terperangkap. terpaksa harus merayakan tahun baru yang tidak sesuai dengan apa yang gue bayangkan sebelumnya. bahkan gue tidak hanya terperangkap, tetapi juga terjerumus. terjerumus oleh kecorobohan gue sendiri, dan sangat sulit untuk kembali lagi.
gue masih inget hari itu, adalah tanggal 31 desember dua ribu sekian bertempat di suatu vila didaerah puncak, jawa barat.
di hari sebelumnya:
"gimana chey, nanti sore gue berangkat ke puncak nih nyusulin cewek gue di puncak. lo jadi ikut ga?"
dodi (nama samaran) adalah temen gue dari SMP. temen bae tepatnya. kulitnya coklat gelap. tapi suka dikatain 'item' sama orang-orang. gue sih ga bilang dia item, tapi menurut gue, dia hitam kelam seperti ampas kopi yang bekas di minum supir metromini! hahahahaha, lebih parah!
dari jauh-jauh hari dodi udah nawarin gue kalo mendingan gue ikut taun baruan bareng dia ke puncak, bareng ceweknya and temen ceweknya, and bareng keluarga dari temen ceweknya. cuma gue selalu bilang liat nanti liat nanti and liat nanti.
ketebak sih maksud dodi adalah dia pengen nyomblangin gue sama temen ceweknya dia sekaligus supaya gue bisa nemenin dia disana buat temen ngobrol. tapi gue rada males and ga selera. abis pikiran gue terus disenggol-senggol sama gigi kelinci nya chelsea olivia. makanya gue ga semangat sama advice nya dia and proyek comblang mencomblangi nya dia.
ceweknya dodi namanya gincu (nama samaran juga), dan temen nya gincu namanya susi. (nama samaran juga lah).
sori mai fren sebelumnya kalo kita pake nama samaran segala. karena lo ngerti lah, facebook kan terbuka untuk umum. takutnye kalo ada yang baca, suka ngerasa pede atau tersinggung. apalagi misalnya sandra dewi baca ini, pasti dia bakal nyamperin gue sambil teriak didepan pager rumah gue dengan lantang,
" SIAPA SUSI BEIBBBB!?!?!?! SIAPAAAAAA HAH?????????"
jadi mending gue pake nama samaran aje.
begindaaaaaaaaaaang!
gincu adalah pacar dodi. orang nya rada lemot, tapi pada dasar nya cantik dan putih. baik pula. makanya anak-anak sempet heran juga kenapa dodi yang mirip petasan boncos ini bisa jadian sama gincu yang manis-manis gula jawa, jelita bagai pita-pita. (halah zer!)
tapi entahlah. kadang hidup itu misteri ya kan? hehehe.
lain lagi susi. susi juga anak baik. bodinya standar gadis gadis kalender gitu lah fren. tapi ya face-nya, kurang gereget. terlepas dari semua itu, gue akuin sih dia emang baik orangnya. cantik di dalem gitu, gimana sih. tapi ya gimana, bukan tipe gue kali ya. ;)
(blagu lo zer, sumpah!)
ngeng, ngeng, ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeng.....................!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
dengan musyawarah seadanya, dengan pemikiran yang sempit dan tidak seksama akhirnya gue berangkat berdua sama dodi kepuncak.
abis gue bingung fren, taun baru ini mau gimana.
orang rumah gue udah pada tidur malah jam 07 malemnya. kayak mereka ga nyadar kalo besok adalah tahun baru dan dihari yang sungguh-sungguh sakral untuk meniup terompet dan merayakannya bersama-sama, tapi mereka malah terdampar di kasur kelelahan karena natal kemarennya. rasanya gue pengen teriak di kuping mereka atu-atu, "woooooooooooooy, ini taun baru woooooooooooooooy! bangun lo semuaaaaaaaaaaaa!"
tapi ga mungkin. bisa-bisa muka gue di tatoo gambar pantat kucing sama keluarga sendiri. mending gue ikut dodi.
mau ikut acara keluarga besar juga males. pasti gitu-gitu doang acaranya. dateng, makan, ngobrol, pulang. bete!
anak-anak yang lain juga pada ngambang rencananya. ada yang buka kamar di hotel ini lah. ada yang ke anyer lah. sampe ada yang nanjak ke gunung. tadinya sih gue mau ikut mereka pada. tapi gue agak ragu. yang di hotel, gue takut di gerebek BNN. gue orang sehat. jadi ga mau ke dokter yang buka prakter di hotel pula.
lain lagi yang di anyer. gue pikir sih, takut aje gitu pas lagi tiup-tiup terompet, eh kita semua malah ditiup tsunami. hahahahaha.
yang di gunung, mereka semua udah pada disana dari tiga hari sebelumnya. jadi ga mungkin juga gue nyusul gitu sendiri ke mereka yang mungkin sudah berkemah di puncak gunung. hahahahahahaha.
menurut bijak gue, dari pada gue harus ikutan tidur di rumah, and dari pada gue ga kemana-mana juga. mending gue santai-santai di vila yang sebenarnya gue ga kenal-kenal banget orangnya. tapi bodo. muka tembok, muka tembok deh ye. yang penting taun baru hari ini, gue bisa ngerasain dinginnya iklim tropis sambil menanti-nanti tetes-tetes hujan. paling enggak, taun baru gue keluar rumah lah.
perjalanan tidak begitu memakan waktu banyak. hanya memakan waktu sangat banyak.
jelas sekali, yang namanya puncak dimalam tahun baru itu macet nya se-kucing-kucing. jadi mau ga mau, gue harus nelen ludah saben kali roda kendaraan kita harus melaju satu inchi per-jamnya.
beruntung sih. walau kita tak sehebat rossi ataupun se-tengil ananda micola, tapi akhirnya kita sampai di vila pas sebelum tanggal 1 januari tahun dua ribu sekian.
sampe disana, idung gue mulai ke helder-helderan. bau makanan sedikit, lidah gue langsung keluar minta dilemparin kacang. laper banget perut gue. panjangnya perjalanan, lebih panjang dari pada panjangnya berurusan sama anak 234 sc. karena panjang itu pula, gembel-gembel yang ada di perut gue udah teriak-teriak, "turun kan makanan, brengsek! halal atau tidak, basi atau tidak, kami telan!"
gue udah kelaperan banget.
bener adanya. dua putri puncak ini (gincu dan susi) , menghampiri kami sambil mengucapkan salam. salam pertama mereka terdengar lebih meriah daripada jingle sebuah produk, lebih sakral dari tepuk pramuka, dan sama krusial nya dengan pancasila sila ke-5. ya! salam pertama mereka adalah, "udah pada makan belum nih?"
1 jam berlalu.
makanan sudah disapu bersih oleh dua mahluk titisan comberan ini. dengan tidak tahu malu, kami koyak-koyak apapun yang tergeletak lemas di meja makan. gue and dodi dalam sessi ini, terlihat begitu anarkis memang. kejam! hahahahahhahaha.
syurrrrrrr...........
waktu terus berjalan. ketika semua sudah dibereskan.
"eh, kenapa ga pada ke air terjun sekarang?!" sapa seorang ibu yang ternyata adalah ibundanya susi.
"oh iya, yuk kita ke air terjun!" gincu langsung nyamber.
gue masih bengong sambil menghayati betapa nikmatnya selonjoran.
susi hanya terlihat tersipu-sipu sambil mesem-mesem.
wajah dodi senyum kentang gitu, berkata "ho'o!"
singkat cerita mai fren, akhirnya kita menuju ke air terjun dengan tujuan countdown tahun baru disana.
sepanjang perjalanan gue bergumul.
"kampret banget ye si dodi. di sini gue jadi nyamuk nontonin dia pacaran sama gincu. sedangkan gue? sendiri tak berpasangan. nyesel gue ikut kesini. susi? ya elah. males! kalo ada luna maya sih, woke deh! (eh sori sandra dewi.. tetep kamu kok di imajinasi aku!)
hari ini emang dasar tahun baru tersial gue! mana sekarang gue disuruh jalan malem-malem, nanjak pula jalannya. gesrek abis otak gue!
rasanya nih, gue pengen nge-gelindingin badan gue sampe rumah gitu kalo bisa. tapi mustahil. gue udah terperangkap disini dan tidak bisa kemana-mana. keadaan seakan memaksa gue untuk terpaksa menikmati suasana dan manfaatkan apapun yang setidaknya membuat gue ikut merayakan tahun baru ini dengan senyuman dan ucapan syukur.
"ya, benar! gue ga boleh kelewat ngegumel aja. ga ada juntrungannya juga. percuma. mendingan gue have fun. nikmati alam yang ada dan sebenarnya dari tadi gue tidak menyadari kalau ternyata betapa indahnya alam raya ini."
gue tapaki jalan curam itu dengan senyuman perdana. memandangi tegap nya pohon pinus yang congkak. mereka berbaris begitu rapihnya. seperti peragawati yang berjalan berbarengan di akhir bagian acara fashion show. disisi lain, pandangan gue menantang ke cahaya-cahaya nan jauh diatas langit. tumben, bintang hari ini begitu ramai. sangat disayangkan kalau wajah gue hanya berkerut dan terlihat muram didepannya. di arah pandangan yang berbeda, sudut kota terlihat begitu jelas dengan kerlap kerlip lampunya. mungkin itu kota bogor 70 kilometer dari bola mata gue. begitu indah dilihatnya.
gue tapaki lagi jalan ini semakin mendekat ke air terjun.
didepan gue, gincu dan dodi malah asyik bercanda ria menikmati kekasmaran mereka. gue resapi. bertujuan ikut merasakan kebahagiaan mereka, walau jauh di palung hati gue yang paling dalam, "anjriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit!" tapi gue berusaha ikut ceria.
susi yang dari tadi diem aja, ikut-ikutan senyum disebelah gue.
"duh chey, gue capek nih." sapa susi, akhirnya.
"yah, bentar lagi kali sus udah tahun baru. kita harus buru-buru sampe aer terjun sebelum kehilangan moment penting tahun ini." jawab gue semangat sambil mengelus-elus punggungnya.
susi lalu kembali tersenyum dan bertanya, "moment penting apa?"
"Ya taun baru lah dodol!" jawab gue sambil ngakak.
"ohh....????" sambung nya.
ia masih terlihat lelah, dan berkata "tapi capek deh serius."
sambil menarik tangannya dan terus berjalan menyusul dodi dan gincu gue bilang "ayooooooo!"
fiyuh, akhirnya sampe juga di air terjun.
ga nyangka. lumayan lah view nya dari yang sebelumnya gue kira.
di sini ternyata banyak orang jakarta pula yang turut ingin melewati tahun baru sambil maen ciprat-cipratan. ternyata kita ga cuma ber-empat. gue agak lega.
abis ga lucu kan gue pikir kalo berempat. saat dodi lagi asik nyium ceweknya, masa gue nyium susi juga yang kayaknya pasrah-pasrah aja. hahahahahahahaha.
enggak-enggak-enggak!
10, 9, 8, 7, 6, 3, 2, 1...
toetttttt..tereeeeeeeeeeet.. prepeeeeetpetpeeeeeeeeeeeeeeeet!
hip hip hurray!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
happy new year!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
tepat ke detik setelah angka satu, gue langsung ingin berdoa. ingin bersyukur kalau sampai saat ini gue masih ganteng adanya. masih bernafas dan merasa dicukupkan apapun itu bentuknya. setiap masalah di tahun sebelumnya, sudah terselesaikan semuanya. hingga sampai pada akhirnya gue juga berdoa bahwasanya gue ingin segera diberi petunjuk dan pertolongan bakal kuliah dimana dan ngambil apa. maklum fren, setelah gagal masuk IPA yang merupakan syarat untuk bisa menjadi tentara nasional Indonesia, gue agak lepas arah soalnya. hahahahaha.
"doa yuk sus!" sapa gue pada susi mengajaknya berdoa.
setelah berdoa. dan memberi selamat tahun baru ke semua:
"pas banget ya sus, di tahun baru kayak gini ada orang yang disayang." gue memulai topik pembicaraan sambil melihat dodi dan gincu lagi maen siram-siraman. mereka terlihat semarak dan ceria sampai memaksa bibir gue untuk membentuk tawa-tawa kecil.
dengan bengong sebentar, seakan tak percaya tapi raut wajahnya terlihat seperti sedang menang undian 100juta, kata susi:
"apa?"
"ya pokoknya hari ini gue seneng banget. hari yang orang lain tidak akan pernah lupa, termasuk kita. 1 januari! gokiiiil!"
"lo serius chey?!"
"dari tadi gue udah kayak orang gila gini senyum-senyum sendiri, lo kira gue boong?"
"hmmmm.. hmmmm.."
"yeee, dia mikir!"
"eh.. eh... gue juga seneng hari ini. walau terlalu cepat, tapi gue juga sayang sama lo chey."
NAHLO!!!!!!!!
ada yang janggal nih kata-katanya.
dalam hati gue bertanya-tanya:
lho, kok ni cewek kodok satu malah ke situ-situ. sayang sama gue??????
kampret! tadi gue ngomong apa sih, kok dia ampe ngomong gini. padahal kan maksudnya ga ke arah situ. wah, salah pengertian nih.
"ehh, gini sus..."
beeeeeeeeeeeeet!
susi langsung memotong omongan gue dengan gayanya sambil muter-muterin rambut, "iya chey. aku ngerti kok kamu bakal mikir kalo kamu terlalu cepet ngomong gini. tapi aku bisa ngerti kok. perasaan kan datang tiba-tiba. aku bakal inget hari ini, hari jadian kita."
kampreeeeeeeeeeeeeeeeeeet!
saat dia ngomong gitu, seakan air terjun ngeguyur kepala gue.
pikiran gue langsung ke doraemon. gue pengen minta tolong dia supaya ngembaliin gue ke zaman nike ardilla masih idup aja. kampreeeeeeeeet!
gue langsung kebingungan. antara panik, ga enak, ngerasa bego, ketiban sial, itu semua udah nyampur-nyampur.
lalu gue senyum aja. tapi maksa. harusnya dia ngerasa kalo senyum gue maksa. menandakan kalo apa yang barusan susi omongin udah kelewat ngaco dan nyaris buat gue nyolok mata gue sendiri. tapi senyum maksa gue kayaknya udah ga berfungsi. dia malah meluk gue sambil kesenengan.
mampus gue!
gue galau.
ngerasa salah ngomong, salah topik, dan salah milih tempat taun baruan.
tapi gue ga enak sama dodi juga kalo misalnya gue ngejelasin ke susi tenang kesalahpahaman ini, malah nantinya gue minta pulang gara-gara2 gue tampar pake centog, and diusir sama susi. ga mungkin juga kan gue ngancurin acara kencan sahabat gue sendiri.
alhasil gue terjerumus.
mau ga mau, ancur ga ancur, gue mengiyakan saja kita udah jadian.
gaya males-malesan nya gue udah ga mempan di dia.
saat gue lagi males-malesan gitu deket dia, dia pikir gue lagi ngelucu. kampret!
sedangkan dodi, malah ngomong gini:
"bener kan fren dugaan gue, lo cocok banget ama dia."
cocok apenye! cocok puser nye!!!!!!!!
gue stress bukan kepalang. tapi mau ga mau, gue harus mendem rasa itu sendiri.
mau ga mau, siap ga siap..
"GUE PACAR SUSI"
*dua minggu setelahnya*
--------
"hah, elu salah ngomong?!" tanya dodi, kaget mendengar penjelasan gue di suatu kedai kopi.
gue, dengan acak-acakan nya rambut gue, gue jawab, "kaliii..."
"wah.. parah lo chey. dia baru aja disakitin sama cowok. dan katanya elu yang ngebuat dia bisa lepas dari sakit hati itu. terus sekarang lo bilang, jadian kemaren, salah pengertian? parah!" dodi membentak halus.
lalu dodi terus ngoceh, "mending lo jalanin aje lah. entar juga nongol sendiri tu perasaan. apa lagi, dia anak WAKAPOLDA di suatu propinsi gitu. terjamin lah chey biaya hidup lo. tapi kalo lo macem-macem, ati-ati di dor lo chey! tambahnya sambil tertawa-tawa atas kebodohan gue yang menjerumuskan gue sendiri.
gue sempet mikir gitu ya fren, mending gue nyusul temen gue aje ke gunung dari pada gue harus jadian sama susi. salah banget. orangnya baik, tapi gue harus nipu-nipu orang baik setiap jamnya. tersiksa gue!
tapi ga bisa ke mana-mana juga.
duh sumpah fren, hubungan ini buat gue bingung.
mana kayaknya susi udah sayang gitu lagi kan sama gue. sedangkan, gue malah makin handal ngebohongin susi and terus menerus menutupi yang sebenarnya.
sangking galaunya raga dan jiwa ini, akhirnya gue lewati hari demi hari dengan terus nipu dia. belaga seneng, belaga sayang aja. asalkan dia tetep senyum aja di depan gue. gue kuatir gue nyakitin hati dia. tapi tanda disadari, gue semakin menggali lobang yang dalam buat kuburan gue sendiri.
sempet gue pun berusaha mancing supaya ada chemistri sama susi, tapi tetep ga kena-kena.
gue bingung, tapi gue juga bodo amat.
semua terus berjalan sesuai dengan tipu daya gue.
tapi,
sesuatu yang tidak di inginkan pun tiba.
diteras rumahnya, tiba-tiba sosok tinggi, tegap, coklat, rapih, dan berwibawa muncul saat susi sedang membuatkan gue minuman.
sorot matanya tajam mengancam. suaranya tenang tapi tajam. kepalan tangannya sebesar peluru meriam kayaknya. alisnya mengerut. caraya menatap gue seperti cara kingkong menatap lo saat lo ngerebut pisang dari kingkong itu.
mampus, itu bokapnya susi!
ia berjalan dengan tegap dan teratur.
bercelanakan pendek sambil menggengam lipatan koran hari ini.
ia menatap gue lama, lalu duduk disamping gue. ia membuka lipatan korannya.
sedangkan pikiran gue beragam, antara nyariinn baygon buat diminum, atau nyekek leher gue pake sedotan.
suasana agak hening sebelumnya.
tiba-tiba:
"KAMU SIAPANYA SUSI?"
(mampus gue, mampuus!
DORAEMON!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!)
ahhhhh! kenapa mahluk mengerikan ini adalah bokap pacar gue sendiri. gumul gue dalem hati.
dia duduk disamping gue dengan nada yang halus tetapi tajam. rambutnya yang cepak dan lingkar wajahnya yang kekar meyakinkan gue kalo misalnya gue salah ngomong sedikit aja, mulut gue bakal di sumpel pake koran yang lagi dia baca.
"hmmm, bukan pak!, eh, om?!" jawab gue berlumur keringat dingin.
senyum gue maksa. persis kayak lagi boker sambil ngaca.
lalu gue sambung, "saya di kenalin nani (temen sekelasnya susi)."
duh, tegang gue. baru kali ini gue ngadepin bokap pacar yang setelannya kayak panglima perang. apalagi idungnya besar. gue takut kalo dia bersin, terus ingusnya muncrat ke muka gue. ampun-ampun deh.
sambil membolak-balik lembar koran hari ini, bokapnya mengerutkan dahi nya. sepertinya pertanda kalau dia mulai ngira gue anak berandalan ga jelas yang udah berani-berani macarin anak perempuannya, anak tunggal satu-satunya.
abis gimana ga mau kritis nanyain gue nya. secara penampilan gue hari itu pake kaos oblong butek yang tulisannya udah luntur-luntur, ditambah lagi sendal jepit, celana pendek, sama jacket andelan yang belum gue cuci selama 2 bulan. gue kuatir kalau-kalau dia menyangka gue adalah tukang jualan batagor disekolah anaknya.
"kenal dimana?" tanya sang bapak satu ini lebih tegas dari sebelumnya. gue pikir dia lagi menginterogasi gue.
"eh, kenalnya kalo ga salah pas ulang tahun susi om. tukeran nomor, terus akhirnya jadi deket."
aduh mati. gue kelewat jujur.
kenapa juga gue mesti bilang tuker-tukeran nomor segala.
salah gue. gue berusaha agar tidak terlihat panik. tapi malah fatal.
kenapa juga gue ga bilang aja kenalnya di seminar anti narkoba. atau mungkin kenalan di suatu ibadah. duh, bego deh.
pasti dia bakal ngira gue playboy cap kepala bebek.
pusing gue.
"tinggal dimana?"
"sekolah dimana?"
"kelas berapa?"
"asli nya dimana?"
dan seterusnya, dan seterusnya.
mampuy mampuy mampuy.
kenapa jadi nanya terus ni raksasa ireng. pasti lepas ni orang dari kandangnya. apa gue telpon taman safari aja kali ya, terus bilang kalo beruang grizzle nya lepas dan membuat ke onaran diperkampungan. ato enggak, gue telfon departemen kehutanan buat ngasih tau kalo badak bercula satu lagi baca koran.
tapi gue urungkan niat itu saat gue sadar bahwa umur gue udah ga lama lagi. gue bakal terbunuh oleh kepanikan gue sendiri.
tapi aneh sih.
dari dulu emang gue agak males ketemu sama apa yang namanya bokap pacar. tau deh kenapa.
nah sekarang, gue mesti ngadepin bokap pacar yang jabatannya adalah WAKAPOLDA disuatu propinsi. gimana gue ga kebelet kencing ngobrol sama dia.
waktu itu gue masih SMA. gaya gue begajulan. suka kebut-kebutan and bolos sekolah. gaya ngomong gue selenge'an dan mungkin tidak bertata krama. ditambah lagi, penampilan gue juga persis kayak kucing kecemplung di comberan. jauh dari wibawa.
sedangkan kali ini, kebetulan gue berpacaran dengan cewek baik, pintar, bermartabat, anak tunggal seorang wakapolda. rasanya gue telah menerjunkan diri gue ke jurang dengan tanpa busana. kampret!
disisi lain, gue takut dikira utusan teroris yang ingin menyandera anak aparat negara ini.
sebenarnya sih jadian sama susi ini bisa dibilang ga sengaja.
cuma karena gue salah ngomong, terus susinya salah tangkep lalu kepedean. n tau-tau seluruh dunia tau kalo kita udah jadian. karena gue ga enakan orangnya, ya jadian juga akhirnya.
nyokapnya susi kerja di BNN. tapi beliau lebih ramah. berbeda dengan sang papa yang terus-terusan melotot kayak helder merhatiin tulang.
makanya sesegera mungkin gue mau mengakhiri hubungan ini.
tersiksa juga ngebohongin susi juga ngebohongin perasaan sendiri. cuma gue masih belum tau caranya.
tapi sepertinya, gue uda terjerumus.
keluarga susi seperti mencoba mengenal gue lebih dalam.
gue berharap banget kalo si bokap bakal bilang ke susi:
"TINGGALKAN ANAK BERANDALAN ITU! PAPA TIDAK MAU PUNYA MENANTU YANG GANTENG!"
otak gue udah mumet ngomong sama bokapnya susi terus menerus. pikiran gue jadi ga di badan.
sedangkan susi yang katanya bikinin gue orange juice di dapur, malah ga balik-balik. gue sempet mikir kalo dia di kira ceker ayam sama pembantunya, terus di goreng di atas wajan. hahahahahaha.
tiba-tiba si bokap berdiri. meneruskan tapak kakinya ke sebuah kandang burung beo yang sepertinya burung beo kesayangannya.
sambil menjetikkan jarinya, "kerrr.. kerrr..", dia nanya gue lagi.
"memang cita-cita kamu apa?"
gaya bertanyanya agak lembut. membelakangi gue dan mengarahkan pandangannya kearah burung beo. sedangkan muka gue, persis satu meter di depan pantat tu bokap yang lagi nungging.
rasanya pengen gue colok pantatnya pake sapu lidi. argggh!
waktu itu gue bingung.
tapi berusaha mencairkan suasana, gue jawab.
"jadi polisi, om!"
tujuan gue agak caper. biar dia agak akrab sama gue and ga terkesan galak lagi.
harapan gue, dia bakal ngejawab, "oya? bagus dong. nanti om bantu."
tapi ternyata perkiraan gue salah.
dia berbalik arah. menatap gue dengan bola matanya yang runcing seruncing kuku ibu mertua.
katanya,"POLISI????"
"hhh... iya om. polisi." jawab gue memaksa untuk santai. padahal sebentar lagi gue bakal kencing dicelana.
"dengan gaya kamu yang berantakan seperti ini, kamu mau jadi polisi?" tegur nya menghantam otak gue.
mampus! gue salah jawab. nyesel gue jawab ngasal. padahal waktu itu gue mau bilang jadi pengacara atau insinyur. tapi malah gue milih polisi. bego banget gue. harusnya gue nyadar diri kalo tampang kayak gue ini lebih cocok jadi model. argh, salah lagi gue.
tapi gue berusaha mengelak dan berkata, "dulu sih saya mau jadi pemain bola om. cuma karena..."
"PEMAIN BOLA!" potongnya dengan suara keras. suaranya mirip suara kurt cobain kalo lagi keselek gitar.
"KAMU TAU, SUSI ITU ANAK SAYA SATU-SATUNYA. KALAU KAMU MACAM-MACAM SAMA DIA, KAMU BERHADAPAN DENGAN SAYA. DENGAN POLISI!"
duh, gue sadar. gue malah makin bego ternyata.
beruntung sosok yang ditunggu datang mengakhiri bahan pembicaraan kita.
"sayang, nih orange juice nya." sapa susi dengan senyuman seperti tikus.
"pada ngobrolin apa sih?" sambung susi terlihat penasaran.
"ohhhhh.. ini papa bilang ke dia, kalo dia cocok jadi polisi, Sus." jawab papanya sambil meraih koran yang tergeletak di meja.
"yasudah, papa masuk dulu ya sus. ngantuk." kata sang bapak yang hampir gue cakar mukanya.
hari itu adalah hari terakhir gue menginjak rumah itu.
beberapa hari kemudian gue putus.
kamprettttttttttttttt!
grrrrrrrrrrr
Langganan:
Postingan (Atom)
