Pelan-pelan, tumpahan pesan sudah setara dengan dagu.
Kau menjamuku dengan siliran ramah diantara tumpukan sapa khalayak yang tertumpat, dengan menghadiahiku simbol senyum dengan tangan sambil melipat.
Meski nyaris tidak bernafas, aku tetap berusaha tersenyum tegas.
Namun ada yang menyentilku diam-diam kala kita bercakap. Yaitu, guyonan karyaku sendiri yang menjadikanku makin merasa luak.
Apa kabar kamu yang bakal sering diserbu sorak? Pasti akan menyulapmu menjadi lebih selektif dalam menyaring setiap tatap.
Hanya dengar. Fakta yang ada padaku memang secuil.
Tapi ini bukan fakta yang tanpa kaedah. Aku rela menghumbankan semua habit daifku ke tong sampah, demi meminta pesanmu satu kali lagi.
Ah, dasar! :)
Candu ini membuatku geletar mengejar kereta mewahmu dengan tanpa alas kaki, supaya bisa memberikanmu tissue untuk keringatmu yang ada didahi.
Untuk : Semua yang alergi pada wangi buah durian. :)
25 Juni 2009,
Di kursi Si pengagum Asmirandah.
Zarry Hendrik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar