Minggu, 14 Juni 2009

Gunung Gemunung

sorot mata gue menusuk tajam ke arah puluhan kilo sebelah timur dari teras rumah gue.
mengancam gunung gemunung mandul yang di lebati hijauan pohon-pohon karet yang sepertinya cuma berani main keroyokan. di sekitarnya lagi, ada pohon pinus yang juga tatkala banyaknya.
gue mau kesana.
penasaran pada kabut siang hari.
tergoda oksigen sehat yang tak terlihat.
ingin sekali bertualang kesana, lalu foto-foto. (tetep....)

Cipanas waktu itu sejuk mencekam, tapi mentari tetap tidak lupa pada rutinitasnya.
teman dekat regional, seperjuangan sedari balita: Raymond, Jericho, Dicko, dan Eryco ada disana.
seperti biasa, canda yang selalu tidak jelas juntrungannya selalu terlontar sengaja atau tidak sengaja, baik secara verbal, ataupun nonverbal dari setiap kita.

kami sungguh tidak puas-puasnya mengabadikan wajah kami, di suasana alam hijau seperti ini.
disana kami hanya mengantuk, lapar, mengantuk, dan lapar kembali.
sambel bikinan Bi Olis (PRT) masih bergetar-getar dilidah kami.
tepat adanya dalam situasi se siang ini.
tapi bagi gue, langit terlalu teduh untuk angka jarum jam 12 siang.
berbeda dengan jakarta.
pikiran gue, ada baiknya kita jalan-jalan menuju sawah yang hijau, 300 meter dari rumah gue.
disana kita kan bisa foto-foto ditengah padi.
maka kami semua kesana.

begini lah sawah nya.
sangat hijau. gunung dibelakang sana, menakuti kami.


sesampainya disana, kami terus berfoto ria.
saung-saung reot, malah terlihat perkasa ditengah sekumpulan makanan pokok kita.
kami terus meneruskan perjalanan tanpa rasa bosan.
belok kiri, belok kanan.
loncat.
jalan setapak yang sempit kami lewati dengan riang. terus menuju kedepan. kami semakin jauh tenggelam oleh rasa kagum akan pedesaan.

gunung gemunung dibelakang sawah, menatap kami.
mereka seakan meremahkan 5 anak kota bau kencur ini yang mandi saja, harus mikir 3 kali.
tapi kami tidak begitu menghiraukan. kami terus berjalan kedepan mendekati mereka.
arah pikiran kami pada waktu itu, kami ingin melihat sungai.
"oh, mungkin didekat ketinggian itu, pasti ada air yang mengalir." begitulah pikiran kita.
tanpa disadari, kita sedang berjalan menuju resiko tinggi.

bisa terlihat, kami hanya berjalan dengan pakaian seadanya.
gue, celana olah raga bekas SMA gue, sama kaos kuning butek tangan panjang. kaki gue, hanya dilapisi sendal hotel tipis.
Jericho, kaos putih oblong dengan celana pendek standar. sendal jepit yang sempit membekap kakinya.
Dicko, sepatu kets abal, dengan kaos merah jangkisnya, dan juga celana pendek.
Eryco, sangat tukang kuli bangunan sekali dandanannya. hanya perut melembung nya yang menarik pikat.
Raymond, dengan tangan berlapis tatoo viking, juga dengan kaos longgar dan setelan celana pendek.
kami terlihat begitu kompak, sekompak boy band Asia.
kami terbuai iseng, dan rasa penasaran pada sungai yang masih misteri.
kami menantang alam dengan tanpa persiapan sedikitpun.
kaki-kaki kami terus melangkah.
tidak ada keraguan sama sekali kalau ternyata kami sedang melakukan perjalanan bodoh yang hanya menyusahkan diri sendiri.

akhirnya kami berpisah dengan sawah.
jalur trek mulai menanjak.
angin menggoda kulit kami.
kami mulai menjumpai kebun singkong, kandang sapi, dan rumah sebatangkara yang hanya di huni seorang nenek-nenek.
mungkin si kakek sedang mencari kayu bakar diatas sana.
maka kami semakin antusias melangkah.
kian kedepan, kami kian jauh.
keringat mulai bercucuran dari pusaran udel Eryco yang berbulu serigala.
menjijaykan!
tapi yang lain juga keringetan.
kami mulai sadar bahwa kami terlalu jauh melangkah, terlalu tinggi berjalan, dan telah terasa jauh untuk kembali ke sawah.
pikir kami, lebih baik kita klimakskan saja perjalanan ini kedepan, hingga kami mendapatkan sungai yang perawan. pasti ada. semangatnya.

ah, setelah gue lihat belakang, sawah sudah dihalangi pepohonan rimbang.
tanahnya terasa dingin.
suara burung-burung begitu jelas ditelinga.
serangga hutan juga terus mengeluarkan nyanyian bagi kita, bocah kota yang hobi mencari marabahaya.
sejak kami merasa dikelilingi pepohonan yang garang, kami baru terpikir tentang kemungkinan adanya ular.
ahhh, kita tidak ada persiapan menghadapi alang ilalang seperti ini.
bukan tidak mungkin, ular sudah mencium bau ketek kita.
sedangkan kita, hanya beralaskan kaki seadanya, tanpa perlengkapan, atau minimal celana panjang.
kita stagnasi.
mulai sadar kalau ini perjalanan bodoh, tapi juga sadar bahwa tidak mungkin kami kembali.

tiba-tiba kami sudah tidak melihat jalur.
langkah kami menerobos alang ilalang.
menginjak ranting-ranting mati, dan curiga pada akar-akar pohon yang mirip ular.
kami ternyata, sudah berada dihutan belantara, yang luasnya sudah kami perkirakan sejak gue melihat gunung gemunung dari teras rumah.
aih, ternyata tanah yang gue injak kali ini, adalah tanah pegunungan.
pohon raksasa ini, ternyata yang tadi sorot mata gue tantang dari kejauhan.
gue ga percaya gue udah disini dan bener ga sadar.
Eryco terjatuh karena jalan yang licin dan curam.
Jericho diserang bentol.
Raymond, gatal di lengannya.

"kita harus ke kanan, Mond!"
kayaknya itu satu-satunya jalur menuju pemukiman penduduk.
"ga, kita kebawah aja. kayaknya disitu ada sungai" jawab Raymond menunjuk ke arah lembah,
itu berarti, kita kembali memotong jalur lagi.
Mungkin pikiran Raymond masih mengarah ke sungai.
sedangkan Eryco terus merengek kelelahan.
perutnya yang subur adalah pertanda bahwa ia butuh air, butuh choki-choki, butuh bubur ayam, butuh nasi uduk, dan yang jelas, butuh istirahat.
dicko yang badannya sekurus kucing komplek, ga mungkin harus ngegendong Eryco yang segede anak sapi.

terhitung, mungkin perjalanan iseng ini sudah 3 jam.
sangat tidak terasa.
tetapi sekarang, kami masih berada ditengah hutan.
dengan pakaian seadanya.
senjata kami hanya sebatang bambu, dan kamera.
jalur yang beragam ini membingungkan kami. trek ini belum pernah kami jumpai sebelumnya.
kami harus menggunakan kata hati agar bisa pulang secepatnya.
paling tidak, kami harus menemukan sumber air untuk kedahagaan kami yang luar biasa.

ditengah itu semua, disaat kita sedang duduk menunggu solusi, angin terus bertiup kencang.
suara hewan hutan menakuti kami.
sore itu, sungguh terasa seperti sore kelabu jumat kliwon.
"apa benar, pohon setua ini ada penunggunya?"
bukan tidak mungkin jika ada setan berbulu tebal, tinggi besar, yang akan mengadopsi kami menjadi anaknya.
ahhh, bodoh!
kenapa juga kami harus melakukan perjalanan ini.

ditengah kegentingan itu pula, kami tidak ingin larut didalam penyesalan.
maka ditengah hutan belantara, kami berfoto ria. hahahaha.
setidaknya jika kami dimakan belalang kanibal, kamera kami bisa menjadi bukti outentik untuk menangkap belalang yang selaku tersangka pembunuhan keji seekor serangga kepada 5 anak yang kakinya siap gratisan di patok ular.

setelah perdebatan sengit, akhirnya kita sepakat menerobos ke lembah.
belok kanan, dan keatas tadi, hanyalah membuat kita semakin tinggi di puncak gunung. begitu anggapan kami.
maka tujuan kami sekarang, adalah cepat-cepat pulang sebelum matahari terbenam.
kami harus segera mencari kaki gunung, lalu menemukan jalan keluar dari hutan ini.
dan semoga, untuk hari ini, seisi alam ini adalah teman.

arah menuju kelembah, suasananya lebih mencekam.
sunyi, namun seperti berpenghuni.
paranoid kami menjurus kepada adanya sekumpulan suku pedalaman yang akan menangkap kami, dan menjadikan kami sebagai tumbal untuk dipersembahkan kepada jangkrik, selaku dewa hutan.
hahhahaha, pikiran kita semakin ngasal.
tumbuh-tumbuhan dijalur ini terlihat lebih dewasa.
akar-akarnya sampai menjulang keluar menghalang laju kami.
namun anehnya, kami tidak menjumpai ular seekor pun.
bahkan semut pun kami tidak melihatnya.
kami merasa, selain tumbuhan hanya kami berlima yang bernafas.
tapi nafas kami tergopoh-gopoh.
kuatir jika hujan turun mengguyur kami, hingga kami mati kedinginan atau terbawa arus air hujan yang menghantam-hantam tubuh kami ke bebatuan tua.
kami kuatir akan anaconda, atau harimau liar yang ngidam daging manusia.
bagi kami, ular adalah satu-satunya spesies yang harus diwaspadai dalam situasi ini. mengingat perlengkapan kami yang jauh dari apa adanya.

tiba-tiba, kami melihat air kecil mengalir.
tapi itu bukan sungai. mungkin sisa-sisa air hujan.
ya, meski kami tidak bisa meminumnya, namun setidaknya air itu adalah satu-satunya petunjuk bagi kami untuk menemukan jalan keluar.
kami ikuti laju itu.

alhamdulilah, haleluya.
ternyata benar.
dari kejauhan kami melihat selembar bendera merah putih berkobar-kobar.
disekitarnya ada beberapa rumah warga desa.
amin.
setidaknya kami telah mencapai pemukiman.
maka kami kesana.

amin lagi.
disitu kami melihat sawah.
kami bersyukur sampai ubun-ubun dengan cara berlari-larian kesana.
suara kendaraan mulai terdengar.
dan, air!
air sawah yang mengalur jatuh deras kami minum.
demi membahasi tenggorokan yang kering seada-adanya.
malah bermain.


karena begitu puas menemukan air, sawah, dan bendera merah putih, kami menjadi semakin semangat mencari jalan pulang. sekarang kami tidak tahu kami sedang ada dimana.
bisa jadi, kami ada di desa yang terpisah jauh dari asal kami memulai perjalanan ini.
bahkan kami tidak membawa uang sepeserpun.

melihat letak matahari, mungkin sekarang sudah jam 5.
jika kami tidak segera, maka malam akan semakin menyulitkan jalan pulang kami.
kami ikuti sawah ini.
lalu menuju kebun jagung, kebun labu dan terong.
adapun cabai dan bawang-bawangan.
kami terus berjalan dengan langkah pasti.
tidak lupa, dan sempat-sempatnya.


amin ke tiga!
akhirnya kami menemukan jalan beraspal.
namun tak banyak.
kami harus menerobos alang ilalang lagi, hingga akhirnya menerobos dari celah pintu pagar yang membatasi kebun dan perumahan.
ah, tapi ini bukan perumahan.
ini semacam vila mewah. rumah disekitarnya megah-megah, dengan disain yang juga sedap dipandangnya.
tidak kurang, kami bersyukur lagi.
meski kami tidak berjumpa sungai, meski kami belum mandi.
kami ikuti jalan, setapak demi setapak dan akhirnya, "PINTU KELUAR."

mata kami sungguh terbuka setelah melihat kehidupan yang jauh berbeda seperti ditengah hutan tadi.
kendaraan lalu lalang. orang-orang, dan anjing dan kucing yang saling berkejaran.
kami sudah enggan bertanya ini dimana. kami terlalu lega.
kami lihat truk, dan kami hentikan.
menumpang, kemana pun supir itu mengantar kami.

hampir jam enam, hampir malam, tetapi truk itu mengantarkan kami tepat didepan rumah dengan kebetulan. kami berteriak sekerasnya. penuh rasa sukur atas perjalanan menantang alam tersebut. kami sungguh meremehkan marabahaya, dan kami terlalu beruntung untuk bisa lepas dari alamNya.

pelajaran lagi buat kami.
bodohnya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar