Senin, 29 Juni 2009

Kelinci Masuk Perpustakaan

Setiap kali gue melintasi jalan ini dan melihat kearah kiri, gue selalu berpikir tentang masa depan seseorang yang gue lihat. Sebuah kisah yang gue imajinasikan sendiri tetapi dikorelasikan sesuai dengan raut wajah mereka. Ya! Mereka semua yang ada didalam, dibalik dinding kaca tebal, duduk dengan anggun sambil bersenda gurau dengan buku-buku tebal.
Begitu lah setiap kali gue melintasi sebuah perpustakaan kampus. Pemandangannya biasa saja, tetapi apa yang gue bayangkan menurut gue luar biasa. Memicu tawa-tawa kecil yang terus menemani perjalanan gue menuju toilet untuk berkaca.

Tetapi hari ini terlihat seperti hari "kelinci" sedunia ketika seorang wanita cantik yang gue lihat dari balik kaca sedang tenggelam didunia keseriusan perpustakaan kampus. Temannya saat itu hanya lah seperangkat laptop berwarna silver dan 3 tumpuk buku tebal. Gue ga bisa bilang apa-apa, karena tidak satupun tertangkap sebuah kelemahan pada cantik mutlak paras wajahnya.

Bermenit-menit lamanya gue perhatikan aktivitasnya dari luar, memandanginya terus menerus.
Gue berancang-ancang untuk melempar senyum ketika misalnya dia melihat ke arah gue.
Tapi sial! Belum apa-apa, laptopnya membuat gue cemburu.
Tidak sedetikpun dia merasa ada se-ekor kelinci yang sedang mengawasinya karena dia terlalu sibuk bersenda gurau dengan teknologi.

Apa mau di kata, gue harus menyelinap masuk ke perpustakaan untuk berkenalan.
Ya.. agak janggal mendengar seorang "GUE" ada di perpustakaan. Tetapi lebih janggal jika seorang wanita cantik yang ada di perpustakaan, disia-siakan. Wkwkwkwkwkwkwk. :D

Kali ini, si cantik itu berada hanya 5 meter dari jempol kaki kiri gue. Dilihat dari jarak ini, cantiknya semakin mutlak. Parasnya bagaikan matahari jam 12 siang, ketika awanpun takut menutupi sinarnya.
Gue pun maju tak gentar!

"ehem.." Batuk buatan.
Tetapi sial, dia tidak menoleh. Lalu gue colek pundaknya dengan jari manis, "Sorry, bangku ini kosong?"

"Oh, iya." Katanya sambil tersenyum, tetapi sedetik kemudian kembali ke planet serius. Untuk kategori wanita seperti ini, gue berpikir jangan terlalu banyak bicara. Jika gue mengganggu konsentrasi belajarnya, bisa-bisa mata gue bakal dicolok pake pensil. Gue pun berpikir keras.

Wanita didalam perpustakaan tidak sama dengan wanita yang ada di dalam butik, mall, atau club. Tetapi dia tetap wanita cantik. Berarti tetap harus kenalan. (Hahahahhahaha).

Singkat cerita :

"Hei..?" Gue sapa dia sekali lagi.

"Ya?" Tanggapnya.

"1 jam gue perhatiin, lo kelihatan sangat-sangat tidak bisa diganggu.
Jadi, jika tugas negara yang penting ini (sambil menunjuk laptopnya) sudah selesai, boleh kita kenalan?"
Begitu kata gue sambil menatap matanya tanpa berkedip tetapi mengirim senyum ke pelupuk matanya. Tanpa menunggu jawabannya, 2 detik setelah gue melontarkan senyuman, gue mengalihkan pandangan gue ke sebuah buku yang telah gue persiapkan, lalu gue berpura-pura membaca.

Sekitar 5 menit setelah berada pada situasi hening ;

Tiba-tiba sicantik menutup laptopnya, mengangkat tasnya ke atas meja dan menyapa gue,
"Eh, kayaknya gue sering liat lo di kantin deh???"

"Tapi ga tau namanya??" Tanya gue sambil tertawa kecil, seakan gue sedang melanjutkan kalimatnya barusan.

"Iya. Hehehehe." Tanggapnya, sambil cekikikan.
Ketika sudah dalam keadaan seperti ini, 80% gue pasti bisa menciptakan situasi semau hati gue.

""Kamu pasti, Nia?" Tanya gue.

"Hah, Nia???" Si cantik bingung.

Sambil menunjuk kulit tepat dibawah matanya, gue berkata "Dengan kelopak mata yang hitam seperti ini, siapa lagi namanya kalau bukan Imsom'Nia??? :p"

"Hmmm.. Jayus." Katanya mesem-mesem.

"Sudah punya pacar???" Tanya gue lagi.

"Emm.. Udah." Katanya singkat, dengan ekspressi senyum yang terpaksa dilempar.

Ini adalah keadaan diluar rencana. Bodohnya. Siapa yang tahu kalau dia sudah punya pacar.
Sebagai kelinci, gue hanya bisa menatap matanya. Menatapnya terus sampai dia merasa tidak nyaman, lalu gue yang pergi sambil berpura-pura galau. hehehe..

"Oya?
Hmmm.. Semoga pacar lo memaafkan kelancangan gue hari ini ya." Kata gue sambil berberes-beres. Memasukkan buku kedalam sebagai isyarat kalau sebentar lagi gue bakal cabut. Ini pasti gambling. Gue ga mungkin akan bertindak lebih banyak jika sudah begini. Salah satu caranya ialah berharap bahwa dengan percakapan singkat itu, dia yang bergerak maju.

"Lho, katanya mau kenalan?
Nama gue Happy." Ujarnya dengan memasang senyum terlebar yang pernah gue lihat dari bibir yang tipis.


Ke'esokan harinya :

"Happy, kamu dimana??
Aku uda sampe kampus nih." Kata gue via sms.


**BERSAMBUNG**

(Cerita ini hanya fiktif belaka, sekedar ingin menghibur bagi yang senang membaca).
hihihihi... cabs!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar